Alexa Metrics

Ibu Korban Penembakan di Christchurch Selandia Baru Maafkan Pembunuh Anaknya

Ibu Korban Penembakan di Christchurch Selandia Baru Maafkan Pembunuh Anaknya Masjid Al-Noor, lokasi serangan penembakan di Christchurch. (Foto: AFP)

indopos.co.id – Satu setengah tahun setelah setelah kasus penembakkan di masjid Al-Noor, , Selandia Baru, Janna Ezat bertemu untuk pertama kalinya dengan teroris yang telah membunuh putranya.

Tubuh penuh peluru anaknya, Hussein Al-Umari, dikembalikan padanya tahun lalu di Hari Ibu. Ezat, dengan perawakan halus dan rambut hitam pendek, telah menuliskan apa yang ingin ia katakan di ruang sidang. Tetapi ketika waktunya tiba, dia mengabaikan naskahnya.

“Aku telah memaafkanmu, Mr. Tarrant, karena aku tidak memiliki kebencian. Aku tidak mau balas dendam,” ujarnya pada teroris Australia yang menyerbu dua masjid di Christchurch dan telah menewaskan 51 jamaah Muslim pada 15 Maret 2019 itu.

“Kerusakan telah terjadi. Hussein tidak akan pernah ada di sini,” kata ibu dari Hussein Al-Umari, salah satu dari korban penembakan.

Brenton Tarrant, pria yang mengaku sebagai seorang supremasi kulit putih, telah menembak mati Al-Umari dan puluhan orang lainnya. Dia menyiarkan serangan tersebut secara online dan sering mengunggah manifesto rasis. Dia juga sering kali terlihat menyeringai dalam pengadilan sebelumnya melalui video dari penjara.

Tarrant duduk, memandang kosong dan tanpa ekspresi di kursi pesakitan ketika keluarga demi keluarga memberikan pernyataan tentang kehilangan dan kesedihan mereka di pengadilan. Dia tampak mendengarkan dengan seksama ketika kerabat atau korban selamat berbicara di pengadilan.

“Aku hanya punya satu pilihan, memaafkanmu,” kata Ezat sambil menatap lurus ke arah pria itu. Mata mereka bertemu, dan Tarrant menaggukkan kepalanya. Itu adalah satu-satunya respon yang ia berikan kepada salah satu korbannya dalam sidang yang memutuskan apakah pelaku pembantaian itu akan meninggalkan penjara.

Tarrant menjadi orang pertama di Selandia Baru, di bawah undang-undang saat ini, yang menerima hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. Banyak keluarga yang muncul di pengadilan tidak yakin tentang apa yang mereka harapkan. Ketika grafis tentang tidakan Tarrant dibacakan di awal sidang hukuman pada Senin (24/8) pagi.

Seorang jaksa, dengan suara datar dan tanpa emosi, membacakan pernyataan tentang bagaimana Tarrant kembali untuk menembaki mereka yang terluka, bersembunyi, meminta bantuan, atau melarikan diri.

Dia telah menembak seorang anak berusia tiga tahun dengan darah dingin dan ditangkap ketika mencoba melarikan diri dari masjid kedua. Dia mengakui apa yang telah ia lakukan tanpa memperlihatkan tanda-tanda penyesalan.

Banyak yang mengaku terkejut ketika, pada Maret lalu, Tarrant tiba-tiba mengaku bersalah atas semua dakwaan yang ia hadapi dan menghindari adanya pengadilan yang panjang. Bulan lalu, dia telah memecat pengacaranya dan diizinkan untuk memberikan penjelasan atas tindakannya setelah lebih dari 60 korbannya memberikan pernyataan mereka.

Ibu Korban Penembakan di Christchurch Selandia Baru Maafkan Pembunuh Anaknya
Tempat pemakaman korban penembakan di Christchurch. (Foto: AFP)

Pengadilan telah menerapkan aturan pelaporan yang ketat untuk mencegahnya menggunakan audiensi sebagai platform untuk menyebarkan pandangannya. Ini pertama kalinya sidang di Selandia Baru diperketat oleh polisi bersenjata yang berpatroli di sekitar pengadilan.

Penembak jitu berjaga di atap, dan penerapan sistem gelang yang memungkinkan keluarga yang terkena dampak serta wartawan dapat berpindah antar ruangan di pengadilan.

Di tujuh ruang sidang tambahan, keluarga yang berduka dan mereka yang selamat dari penembakan menonton sidang melalui layar video. Di ruangan lainnya, ada sekitar 30 reporter yang tidak bisa masuk ke ruang sidang utama.

Aturan jarak sosial yang berlaku akibat pandemi membuat ruangan sidang utama hanya bisa diisi oleh sekitar 20 korban dan 10 wartawan. Di ruangan itu, Tarrant duduk di balik kaca yang dikelilingi oleh lima petugas polisi.

Temel Atacocugu, warga Selandia Baru yang lahir di Turki, mengenang saat dia bertatapan dengan Tarrant di masjid Al Noor. Sebagai seorang veteran tentara, Atacocugu langsung tahu penyebab kekacauan yang terjadi. Dia ditembak sembilan kali, termasuk di lengan, kaki, dan mulutnya.

Mengenakan kemeja merah muda dan rompi wol hitam, Atacocugu mengatakan kepada pengadilan bahwa pelatihan militernya telah menyelamatkan hidupnya. Dia menyadari dirinya harus berpura-pura mati untuk menghindari ditembak lagi.

Dengan luka-luka yang di deritanya, Atacocugu kini tidak bisa lagi bekerja dan terpaksa menjual bisnis makanan Turki kesayangannya.

“Namun, aku bertekad untuk mencari cara positif untuk mengatasi rasa sakit, mengatasi bantuan dari keluarga dan hidup dengan kecacatan saya,” katanya yang dikutip Guardian. “Aku akan memikirkan dan merasa bangga dengan semua yang telah aku atasi,” tambahnya.

Ambreen Naeem adalah salah satu dari 30 perempuan yang suaminya tewas tertembak. Suaminya, Naeem Rashid ditembak dari jarak dekat ketika berlari ke arah Tarrant dan membuatnya terjatuh. Tindakannya memberikan waktu bagi para jamaah lain untuk melarikan diri. Tidak hanya kehilangan suaminya, Naeem juga kehilangan anak tertuanya dalam kejadian tersebut.

“Sejak suami dan anakku meninggal dunia, aku tidak dapat makan dan tidur dengan normal. Aku rasa aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Karena itulah hukumannya harus terus berlanjut,” katanya.

Namun, dia menambahkan bahwa tidak akan ada yang melarang pria Australia itu untuk mengunjungi masjid. “Dia akan disambut dengan ‘Halo saudara’ ketika masuk,” ucap Naeem. (fay)



Apa Pendapatmu?