Alexa Metrics

Perang Saudara, Jadi Pemicu Runtuhnya Kesultanan Banten (2)

Perang Saudara, Jadi Pemicu Runtuhnya Kesultanan Banten (2) Seorang bocah terlihat bermain di area bekas sisa-sisa benteng pertahanan Kesultanan Banten yang berlokasi di Serang. (Foto: Tolib/INDOPOS)

indopos.co.id – Pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Muhamad, armada Belanda kali pertama datang ke Banten. Selain itu juga, pada 1596, Kesultanan Banten juga melakukan serangan ke Palembang guna memperluas daerah kekuasaan.

Menginjak 25 tahun, atas gagasan Sultan Maulana Muhamad, Kesultanan Banten menginvasi Palembang.

Serangan ke Palembang yang pertama gagal total. Lantas Kesultanan Banten melakukan serangan yang kedua. Saat itu Sultan Maulana Muhamad ikut berperang dan gugur dalam pertempuran.

Sultan Maulana meninggalkan putra mahkota kerajaan yang masih berumur 5 bulan yang bermama Sultan Abdul Munfakir Muhamad Abdul Kadir Kenari.

Setelah Sultan Maulana wafat, pemerintahan Kesultanan Banten menjadi melemah karena dipimpin oleh anaknya yang masih bayi.

Akibatnya, keturunan Maulana Yusuf yang bernama Pangeran Jepara datang ke Banten untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Dia akan menjabat sultan hingga putra mahkota dewasa. Pada saat itu terjadilah perselisihan karena keinginannya itu tidak disetujui oleh sejumlah pangeran.

”Setelah mendengar adanya kekosongan jabatan sultan di Banten, suatu hal yang wajar sebagai keluarga maka Pangerang Jepara datang,” ujar Fazar, Kepala Museum Kesultanan Banten. Akibat cekcok itu, maka terjadi perang antara Jepara dan Banten. Prajurit yang menjadi korban dari kedua belah pihak sangat banyak.

Hingga akhirnya, Pangeran Jepara gagal menjadi sultan di Banten. Akhirnya, Banten diserahkan kepada Mangkubumi yang bernama Jaya Negara. Dia mempunyai sifat sangat bijaksana, hingga pada masa itu pula Banten semakin maju.

Sayangnya Jaya Negara wafat dan digantikan kedudukannya oleh sang adik yang bernama Ratuwanagiri.  Namun sifat sang ratu berbeda jauh dengan kakaknya yang bijaksana,  Ratuwanagiri mempunyai sifat yang buruk, dia mementingkan dirinya sendiri dan berselingkuh dengan pihak asing.

”Jadi sifatnya ini culas banyak merugikan negara dan rakyat. Mementingkan diri sendiri dan bekerja sama dengan pihak asing. Ratuwanagiri itu dipecat dari jabatanya setelah rapat besar di Kesultanan Banten,” ucapnya juga.

Tak lama kemudian, Ratuwanagiri ini menikah dengan bangsawan dari Melayu. Sehingga si ayah tiri Abdul Mafakir diangkat menjadi sultan sementara di Banten. Namun karena tidak baiknya perilaku Abdul Mafakar, membuat sejumlah pangeran tidak puas dengan kepemimpinan orang luar keraton yang menikahi Ratuwanagiri tersebut.

Pada saat itu juga terjadilah kekisruhan yang di pimpin Pangeran Kulon anak Maulana Yusuf yang didukung Ariana Menggala, Pangeran Dikara, Pangeran Yuda Negara dan Pangeran Mandalika.

Pada suatu malam atas perundingan para pangeran, Mangkubumi itu dibunuh oleh Pangeran Yuda Negara. Setelah terbunuh Abdul Mafakir, terjadi ketegangan yang kuat. Lantas Ariana Manggala diangkat menjadi Mangkubumi yang tugasnya menangkap para pemberontak termasuk yang membunuh Mangkubumi.

”Sebetulnya komplotan dia yang membunuh itu tapi dia ditugaskan untuk menangkap orang-orang komplotannya. Inilah politik, karena mengembankan tugas dari negara. Akhirnya teman-temanya ditangkap. Yuda Negara paling takut karena yang mengeksekusi Mangkubumi waktu itu,” papar Mulangkara juga.

Pada saat itu, Pangeran Kulon digadang-gadang akan diangkat menjadi sultan berikutnya. Akhirnya, kegaduhan meruncing. Para pangeran yang tidak terima dengan pimpinan yang baru  berkumpul mempersenjatai diri. Mereka mencari dana untuk berperang melawan saudaranya sendiri.

Kelompok ini membuat kubu pertahanan di tepi pantai. Pemberontak ini menggelar serangan bertubi-tubi ke keratin. Keraton Kesultanan Banten hampir dikuasai pasukan pemberontak tersebut. Namun berkat bantuan Pangeran Jayakarta yang datang ke Banten dengan pasukan Inggris, akhirnya para pemberontak itu terdesak.

”Lalu para pemberontak tertangkap. Mereka dilucuti senjatanya dan tidak dibunuh karena masih kerabat,” papar Mulangkara lagi. Guna menjebak para pemberontak yang ada di pertahananya, senjata dihanyutkan ke sungai menuju ke laut dan terlihat karena lokasi benteng pemberontak ada di tepi sungai.

Akhirnya, para pemberontak menyerahkan diri. Mereka lantas dibuang ke Batavia atau Jakarta saat ini.

Setelah para pemberontakan dipadamkan, Kesultanan Banten jadi kondusif. Banten lantas dikuasai oleh Mangkubumi Ariana Manggala yang gagah dan tegas.

Pada masa itu, ada dua tokoh Banten yang sangat dibenci oleh Belanda yaitu Sultan Ageng Tirtayasa dan Ariana Manggala. Karena keduanya membangkang kepada pihak Belanda. Ariana Manggala selalu tidak mentaati perjanjian dengan Belanda dan ia dianggap licik oleh VOC.

”Ariana Manggala tahu Belanda tujuanya apa? Berbuat licik kepada orang licik itu boleh,” cetus Mulangakra lagi. Tidak lama kemudian, aksi licik Sultan Ariana Manggala diketahui Belanda. Pihak Belanda yang ada di Banten mengirim surat Amsterdam miminya izin untuk bertempur dengan pasukan Banten.

”Isi suratnya itu, apakah Banten yang hancur atau Belanda yang lenyap. Penjajah geram karena perjanjian yang tidak ditepati. Hadiah yang sudah diberikan diambil lagi oleh Belanda, namun ditolak oleh Kesultanan Banten. Akibatnya, sempat terjadi kontak senjata dengan Belanda sekitar tahun 1640,” ungkapnya.

Setelah itu, Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten. Sultan ini juga salah satu pejabat Banten yang dibenci Belanda. Karena Sultan Ageng tegas beda dengan Aria Manggala yang pakai trik. ”Belanda itu jahat. Tapi kerja sama dengan Inggris dan Prancis tetap berlangsung,” sambung Mulangkara, staf Museum Kesultanan Banten. (tlb/bersambung)

SEJARAH-Seorang bocah terlihat bermain di area bekas sisa-sisa benteng pertahanan Kesultanan Banten yang berlokasi di  Serang. (Foto: Tolib/INDOPOS)



Apa Pendapatmu?