Alexa Metrics

Perang Saudara, Jadi Pemicu Runtuhnya Kesultanan Banten (3)

Perang Saudara, Jadi Pemicu Runtuhnya Kesultanan Banten (3) Sejumlah wisatawan mengunjungi kawasan wisata religi di Kompleks Masjid Kesultanan Banten di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. (Foto: Asep Falturahman/ANTARA)

indopos.co.id – Selama memerintah, Sultan Ageng Tirtayasa dibenci Belanda. Karena Sultan Ageng Tirtayasa sangat tegas berbeda dengan Aria Manggala yang pakai trik. Sekitar 1652, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota sebagai Mangkubumi Patih (wakil sultan yang menangani dalam negeri).

Tapi rupanya, kepercayan Sultan Ageng Tirtayasa dikhianati sang anak yang bernama Sultan Haji. Lantaran, dia berteman dengan Belanda. Sultan Haji memiliki huhungan mesra dengan penjajah. Saat diketahui Sultan Ageng Tirtayasa, membuat hubungan ayah dan anak jadi tegang.

Itu terjadi karena Sultan Ageng Tirtayasa sangat membenci Belanda yang licik. Tapi sang anak malah berteman dengan penjajah tersebut. ”Sultan haji lebih memihak Belanda. Sedangkan Sultan Ageng Tirtayasa lebih senang berhubungan dengan Prancis dan Inggris,” ujar Mulangkara, staf Museum Kesultanan Banten kepada INDOPOS.

Melihat itu, seorang ayah tidak akan mendiamkan perbuatan anaknya. Karena ini, Sultan Ageng Tirtayasa mengutus Nyai Emban Rangkun, orang tua yang mengasuh Sultan Haji sejak kecil. Tapi meski sudah diperingatkan, Sultan Haji tidak menggubris. Akibatnya, jabatan mangkubumi diserahkan kepada Sultan Abdul Kohar yang merupakan adik Pangeran Purbaya.

”Setelah dicopot, membuat Sultan Haji geram. Apalagi, Pangerang Purbaya disenangi pejabat dan rakyat karena perangainya. Sultan Haji merasa tidak punya kawan di keratin. Akibatnya, dia menjadikan Belanda sebagai kawan karena mendukung dirinya. Padahal ini strategi adu domba,” ungkap Mulangkara lagi.

Sultan Haji akhirnya membuat perjanjian dengan Belanda. Dia meminta Belanda harus membantunya bila dia diserang oleh pasukan ayahnya. Akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa melakukan penyerangan untuk menghancurkan penghiatan sang anak beserta pasukannya pada 1682.

Para pejabat Kesultanan Banten terbelah ada yang pro dan kontra. Perang antara anak dan ayah itu hampir dimenangkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Namun berkat bantuan pasukan Belanda yang baru pulang dari Makassar akhirnya pasukan Sultan Ageng Tirtayasa terdesak.

”Perang ayah dan anak itu disebut perang 17 bulan,” kata Mulangkara lagi. Akhirnya, perang dimenangi Sultan Haji karena pasukannya lebih banyak dan dibantu Belanda. ”Sultan Ageng Tirtayasa bersembunyi dan tertangkap di Jajira, Kabupaten Lebak. Akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa yang sudah sepuh menyerah pada anaknya,” katanya lagi.

Setelah dijebak, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap Belanda. Dia lantas dikirim ke Batavia (sekarang Jakarta) pada 1683. Sultan Ageng Tirtayasa ditawan di sana selama 9 tahun. Hingga akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa wafat pada 1692.

Sultan Haji memerintah Banten pada 1683. Dia lantas membangun kembali keraton yang sudah luluh lantak akibat perang saudara selama 2 tahun. Pembangunan keraton itu dipercayakan kepada arsitek Belanda yang bernama Hendrik Lukas Kardil. Orang Belanda itu diberi gelar Pangeran Wiraguna.

Pada 1685, Belanda meminta izin kepada Sultan Haji untuk membuat Benteng Spelweak dan ditolak. Namun Belanda memaksakan diri, sebagai sultan ia merasa direndahkan oleh Belanda yang awalnya menjadi pendukungnya. Karena masalah itu membuat Sultan Haji sakit parah hingga dua tahun dan wafat pada 1687.

Lalu penggantinya, Sultan Abdul Fadol yang juga adiknya. Tapi Sultan Abdul Fadol hanya menjabat satu  tahun. ”Belanda memberikan bantuan kepada Sultan Haji tidak tulus, karena ada niatan menguasai perdagangan di Banten sangat luar biasa ramai waktu itu,” ujar Mulangkara lagi.

Setelah itu, eksistensi Banten menurun. Wilayah kekuasaan Kesultanan Banten berkurang hanya tersisa sampai sekarang ini. Batavia sudah dikuasai Belanda. Pada 1809-1811, Gubernur Hindia Belanda Herman Willem Daendels membuat proyek jalan Anyer Panarukan.

”Belanda meminta kepada sultan mempekerjakan 1.000 orang rakyatnya untuk proyek kerja rodi itu,” paparnya juga. Sultan Abdul Fadol akhirnya marah karena kerja rodi tidak manusiawi banyak korban meninggal dan sakit. Lalu Sultan Abdul Fadol mengutus Patih Wargadirja untuk membubarkan kerja rodi tersebut.

Tapi, Daendels mengirim surat yang isinya meminta sultan meninggalkan Keraton Surosowan dan dia diminta pindah ke Anyer. Surosowan akan dibuat pusat pemerintahan Belanda. Sultan juga diminta mengembalikan kerja rodi, ketiga diperintahkan menangkap Patih Wargadirja yang dianggap sebagai pengacau. Tapi permintaan itu tak ditanggapi.

Akhirnya, Daendels menyerang menyerang Kesultanan Banten. Dalam serangan pada 21 November 1809 itu, Kesultanan Banten kalah. Akhirnya, Sultan Abdul Fadol ditawan dan dibuang ke Ambon. Sedangkan Patih Wargadirja dibunuh dan jasadnya dibuang ke sungai.

Untuk meredam perlawanan rakyat Banten, Belanda mengangkat Sultan Suramanggala. Karena Keraton Surosowan hancur, maka sultan yang diangkat oleh Belanda itu ditempatkan di Keraton Kaibon sampai 1813. Pada tahun itu juga, Kesultanan Banten resmi dihapus oleh Belanda. Banten masuk dalam kekuasaan Batavia. (tlb/habis)



Apa Pendapatmu?