Alexa Metrics

Yuk Lebih Serius Atasi Sampah Plastik

Yuk Lebih Serius Atasi Sampah Plastik Jas hujan plastik kini menjamur di mana-mana. Di Van Nuys, California, seorang perempuan mengenakan kantong plastik saat mengantre di distribusi Food Bank pada 9 April 2020. (Foto: Mario Tama / Getty Images / AFP)

indopos.co.id – Saatnya mulai melipatgandakan keseriusan kita mengatasi limbah plastik. Sebab, dampaknya terhadap lingkungan sungguh mengerikan. Beberapa toko di dunia telah menerapkan larangan menggunakan plastik. Restoran cepat saji pun mulai menghentikan penggunaan sedotan berbahan plastik.

Bahkan, di Kenya, mengeluarkan undang-undang terberat di dunia terhadap kantong plastik pada 2017. Sekarang, warga Kenya yang ketahuan memproduksi, menjual, atau menggunakan kantong plastik akan berisiko dipenjara hingga empat tahun atau denda $ 40.000 (£ 31.000). Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, berdasarkan studi yang dirilis McKinsey and Co dan Ocean Conservancy, disebut sebagai negara penghasil sampah plastik nomor dua di dunia setelah Tiongkok. Sampah memang menjadi masalah besar. Di Jakarta saja memproduksi hampir 8.000 ton sampah per hari.

Namun, Indonesia berkomitmen untuk bisa mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada 2025 mendatang. Pemerintah, dunia usaha, industri dan masyarakat secara luas saat ini bersama-sama mendorong terwujudnya target pemerintah untuk mengurangi sampah sampai dengan 30 persen melalui apa yang dikenal dengan 3R, Reduce Reuse Recycle.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah saat ini sangat peduli terhadap pengelolaan sampah plastik. ’’Pemerintah berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah tak biasa serta menerapkan pendekatan sistem dalam memerangi sampah plastik serta polusi yang ditimbulkannya,’’ kata Luhut.

Luhut mendukung penuh upaya industri untuk ikut mengatasi masalah kemasan plastik melalui peluncuran Organisasi Pemulihan Kemasan (Packaging Recovery Organization/PRO). ’’Ini bentuk kepedulian dan kontribusi kalangan industri untuk menyelesaikan permasalahan kemasan sampah plastik di Indonesia secara komprehensif dan kolektif,’’ katanya dalam peluncuran PRO yang ditayangkan secara daring dari Jakarta, Selasa.

Luhut mengatakan inovasi tersebut akan mendorong ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah di Indonesia. Dia berharap organisasi itu bisa berkolaborasi bersama pemerintah untuk segera mengurangi sampah, sekaligus mendisiplinkan rakyat terhadap bahaya sampah bagi keluarga dan lingkungan.

Sementara itu, ahli teknologi polimer Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Mochamad Chalid mengatakan daur ulang bisa menjadi solusi persoalan sampah plastik di kota besar seperti Jakarta.

’’Pertanyaannya apakah semua limbah plastik dapat didaur ulang?’’ kata Mochamad Chalid dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8).

Produk plastik yang beredar saat ini menggunakan polimer sebagai bahan baku utama dan aditif-aditif sebagai bahan baku pembantu. Plastik memerlukan waktu degradasi bertahun-tahun. Karena itu produk plastik harus didesain sebagai bahan yang dapat didaur ulang.

Proses daur ulang merupakan salah satu solusi pemanfaatan sampah plastik agar tidak membebani lingkungan.

Penggunaan kemasan plastik yang aman untuk kemasan pangan dapat diketahui dengan melihat kode daur ulang berupa segitiga panah dengan kode angka di dalamnya. Kode tersebut biasanya tertera di bagian bawah kemasan plastik. Kode 1 untuk PET atau PETE (polyethylene terephthalate), kode 2 untuk HDPE atau PE-HD (high-density polyethylene), kode 3 untuk PVC atau V (polyvinyl chloride) dan kode 4 untuk LDPE atau PE-LD (low-density polyethylene), kode 5 untuk PP (polypropylene) dan kode 6 untuk PS (polystyrene). Kode 7 untuk OTHER. Ada empat jenis plastik yang termasuk dalam kategori ini, yaitu styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), polycarbonate (PC) dan nylon).

Menurut Chalid, berpedoman pada Resin Identification Code (RIC) yang diterbitkan The Society of Plastic Industry (SPI) pada 1988 di Amerika Serikat, jenis plastik yang paling mudah didaur ulang adalah Polyethylene Terephthalate (PET) dengan kode angka 1.

PET banyak digunakan sebagai bahan baku produk plastik, seperti kemasan botol dan galon air minum. Hal ini dikarenakan PET memiliki beberapa sifat unggul. Di antaranya berwarna jernih, ringan, mudah dibentuk, tidak mudah pecah dan mudah di daur ulang.

Kestabilan sifat PET, selain membuatnya mudah didaur-ulang, menyebabkan limbah PET dapat dikonversi menjadi beragam produk turunan dan bernilai ekonomi.

Hal ini berdampak pada harga limbah produk berbasis PET yang relatif tinggi sehingga wajar bila limbah plastik ini banyak disukai para pelaku daur ulang, baik pemulung maupun industri daur ulang.

Daur ulang limbah plastik merupakan solusi efektif dan berdaya guna terhadap masalah tumpukan limbah plastik yang menjadi masalah lingkungan di Indonesia. Solusi ini juga memberikan banyak dampak positif bagi sektor lain, seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat berbasis pada prinsip ekonomi sirkular.

Efektif

Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Christine Halim mengatakan di banyak negara maju, siklus ekonomi daur ulang limbah plastik sudah dianggap sebagai salah satu solusi pengelolaan limbah yang cukup efektif.

“Galon plastik PET mudah sekali didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Penggunaan bahan ini sejalan dengan visi KLHK mengenai peta penanganan sampah melalui daur ulang dan pemanfaatan kembali dengan prinsip sirkulasi ekonomi,” katanya.

Model ekonomi sirkulasi, menurut dia, bertujuan untuk memperpanjang masa pakai sampah menjadi sesuatu yang berdaya guna untuk dimanfaatkan kembali. Juga sebagai alternatif bahan baku atau didaur ulang menjadi produk baru, sehingga dapat menghemat biaya produksi atau menjadi produk baru yang laku jual.

Christine menyebutkan, dari total plastik daur ulang oleh anggotanya, sebanyak 70 persen diekspor. Selain harga lebih kompetitif, apresiasi pasar di luar negeri juga lebih besar ketimbang pasar domestik. Barang-barang produk daur ulang diekspor ke Eropa dengan harga lebih mahal 50 persen.

“Kalau domestik hanya 800 dolar AS diekspor bisa 1200 dolar AS per metrik ton,” katanya.

Jadi secara tidak langsung, keberadaan galon sekali pakai ikut memberikan kontribusi terhadap pergerakan ekonomi khususnya yang berkaitan dengan industri daur ulang. Luhut dukung upaya industri atasi masalah kemasan plastik. (cok/ant)



Apa Pendapatmu?