Alexa Metrics

Cari Celah saat Pandemi, Digitalisasi Kuliner Jadi Peluang Usaha

Cari Celah saat Pandemi, Digitalisasi Kuliner Jadi Peluang Usaha – Digitalisasi menjadi peluang baru dalam menjalankan usaha di tengah pandemi. Sejumlah UMKM memilih market digital dalam memasarkan produknya.

indopos.co.id – Pandemi COVID-19 menutup akses perekonomian di ibu kota. Sejumlah usaha, baik kecil, menengah maupun besar tak bisa bergerak bebas seperti semula. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang digulirkan pemerintah dalam mengurangi pandemi membuat sejumlah usaha harus berpikir ekstra keras.

Tak hanya aktivitas hiburan dan event, sejumlah usaha kecil menengah pun terkena imbas. ”Kita harus cari peluang lain,” ujar Ryma Novia Ulfa, founder Cahaya Multi Komunika (CMK) kepada INDOPOS, Selasa (25/8/2020).

Perusahaan yang bergerak dalam bidang event kreatif itu memutuskan banting setir dan mencari peluang untuk bertahan di tengah pandemi. Kebutuhan yang terus berputar, dan kehidupan karyawan yang harus dipenuhi memaksa “gerbong’ Cahaya Multi Komunika memutuskan beralih ke bidang kuliner.

”COVID-19 telah mengubah perilaku dan kebiasaan konsumen dan menghasilkan tantangan-tantangan bagi UMKM di setiap industri. Oleh sebab itu, penting bagi para pelaku UMKM untuk tidak hanya memantau situasi pasar secara seksama, namun terus berinovasi agar dapat memikat lebih banyak pelanggan,” kata pemilik Cahaya Food & Beverage itu.

Menurut Ryma, usaha yang bisa bertahan ditengah pandemi adalah digitalisasi kuliner. Yakni, memanfaatkan digital dalam mengembangkan usaha di beragam sektor. Sebab, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah lebih dari 50 persen pelaku UMKM Indonesia mengaku terkena imbas dari pandemi.

Dengan adanya pemberlakuan PSBB, mereka yang dapat bertahan hanya usaha dengan pasar yang luas serta usaha yang telah melakukan digitalisasi. “Sekitar 99 persen usaha di Indonesia merupakan UMKM yang menghasilkan 97 persen lapangan pekerjaan di Indonesia. Sayangnya, dari 64,2 juta UMKM yang ada, hanya sekitar 13 persen pelaku UMKM yang sudah melakukan digitalisasi,” kata dia.

Sementara itu, Destry Annasari, asisten deputi Bidang Pemasaran Kemenkop UKM dalam diskusi virtual Ngopi Bareng Zilingo Trade bertajuk “Lokal Untuk Nasional: Dongkrak Ekonomi Negara di Tengah Kenormalan Baru Lewat Perdagangan Digital mengatakan Digitalisasi yang dimaksud adalah menggunakan media sosial untuk menunjang kegiatan pemasaran.

Bahkan, terdaftar di platform marketplace maupun memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan operasional. “Maka dari itu, 87 persen UMKM yang ada ingin kami dorong untuk segera memasuki gerbong digital,” ujar Destry.

Sedangkan Dani Purnama, founder & ceo Surfinclo mengaku, sebelum melakukan digitalisasi terhadap usahanya, Ia berkutat dengan proses administrasi yang rumit.

“Ketika banyak pesanan yang masuk, kami sangat kewalahan. Kami pun akhirnya menyadari bahwa digitalisasi sangat penting untuk membantu proses administrasi dan mendukung infrastruktur yang ada, terutama ketika kita ingin masuk ke scope yang lebih besar,” tukas dia. (ash)



Apa Pendapatmu?