Alexa Metrics

Bisnis Tukar Baju Dilirik, Masker Cantik Jadi Daya Tarik

Bisnis Tukar Baju Dilirik, Masker Cantik Jadi Daya Tarik Agar bisa bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi, pengusaha terus melakukan inovasi dalam bisnis mereka. (Foto: Dewi Maryani/INDOPOS)

indopos.co.id – Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) membuat setiap orang harus mengikuti protokol kesehatan di mana pun berada. Hand sanitizer dan masker menjadi bawaan wajib jika keluar rumah.

Meskipun AKB membuat sejumlah sektor ekonomi tumbang, tapi tetap ada saja pengusaha yang mampu menemukan peluang di tengah krisis saat ini. Ya, beragam inovasi produk dikeluarkan oleh sejumlah brand di sektor fashion.

Salah satunya pakaian. Kebutuhan masyarakat untuk tetap tampil modis di tengah ekonomi yang serba sulit menumbuhkan ide penukaran baju.

Ide bisnis itu dimunculkan, selain agar masyarakat bisa berhemat juga sekaligus menjadi kampanye dari Tukar Baju Zero Waste Indonesia sejak Mei 2019 lalu. Salah satu tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa baju berpotensi besar menjadi sampah bentukan limbah tekstil.

”Kita mau memberi alternatif tren gaya baru bahwa mempunyai baju baru nggak mesti beli baru melainkan bisa tukar baju. Program ini juga ingin menyadarkan masyarakat bahwa bukan hanya single plastik saja, pakaian di lemari kita yang ditumpuk juga bisa berpotensi menjadi sampah,” kata Campaign Activation #Tukarbaju-Zero Waste Indonesia Naurah Nadzifah, dalam acara brunch talk bersama Banyu Comm, belum lama ini.

Dia menjelaskan, mekanisme tukar baju yang dimaksud. ”Gampang banget, tinggal datang bawa baju bekas kalian. Nanti akan ada kurator yang menilai kelayakan pakaian kalian. Kalau lolos kalian bisa pilih tukar dengan jumlah yang sama,” terangnya.

Saat ini, lanjut dia, penukaran baju tersebut hanya  dikenakan biaya Rp10 ribu per lima baju. ”Dikurasi dengan poin-poin yan ditetapkan. Nanti bisa ditukar di display. Kalau dibilang murah, murah banget. Kapan lagi bisa dapat baju baru semurah itu,” imbuhnya.

Melalui gerakan tersebut, diyakini dapat mengurangi 20-30 persen total emisi karbon. Selain itu, juga mengurangi pencemaran air karena tekstil dibuat juga ketika pewarnaan yang tak ditanggulangi dengan baik.

Di sisi lain, Naura menjelaskan, berbeda dengan sampah plastik, data jumlah sampah tekstil di Indonesia hingga saat ini diakui belum ada. Namun, dia memaparkan, pada 2018 lalu dalam sebuah acara yang digelar oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pantai Timur Ancol, sebanyak 80 hingga 81 persen sampah yang ditemukan di sana adalah sampah tekstil.

”Tanpa diduga yang kita dapatkan mayoritas sampahnya bukan plastik tapi sampah tekstil dan jaring yang notabenenya dibuat dari benang dan tekstil,” jelasnya. Terobosan baru juga dilakukan Passion Jewelry.

Menyadari kini masker menjadi bagian yang wajib dipakai selama pandemi, mereka membuat masker bertahtakan berlian agar kelihatan lebih fashionanble. Masker tersebut bisa dipesan sesuai selera calon pembeli.

Contoh salah satu koleksi dari Passion Jewelry yang berkolaborasi dengan Olla Ramlan yaitu “Aubrey”. Liontin tersebut bisa dijadikan pilihan untuk dijadikan sebagai perhiasan untuk masker selain dapat digunakan sebagai brooch.

”Masker sudah menjadi kebutuhan utama dimasa pandemi ini. Oleh karena itu kami berinovasi menawarkan produk masker bertahtakan berlian. Tentu akan lebih menunjang untuk penampilan dan menambah prestige untuk diri sendiri,” kata COO Passion Jewelry Airyn Tanu, belum lama ini.

Ide ini muncul, karena banyak yang mengeluhkan dengan kenggunakan masker menjadi terlihat tidak cantik. ”Jadi kami berinovasi untuk suatu hal walau memakai masker tetap elegant dan fashionable,” imbuhnya.

Dia mengakui, kalau saat ini sudah banyak masker-masker yang didesign lucu-lucu. ”Tapi kalau kami keunikannya berliannya bisa ditempel di masker favorit, supaya lebih terlihat trendi. Kalau kita mau pakai sebagai brooch atau pendant juga bisa, malah ada juga yang bisa difungsikan sebagai gelang atau kalung jadi multifungsi juga,” tambahnya.

Untuk terlihat stylish, jelasnya, bahan Maskernya sendiri dibuat dari kain jenis silk. ”Kalau bahan dasar masker, tetap menggunakan kain, tapi kalau varian dari perhiasannya pasti beda-beda size-nya,” ulasnya.

Hingga saat ini, jelasnya, pihaknya sudah mengeluarkan lima design utama. Harganya sendiri mulai dari Rp10 jutaan.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, inovasi menjadi kunci bagi para pelaku industri untuk bisa terus bertahan dan usahanya tetap berkelanjutan, apalagi di masa pandemi. ”Pada masa pandemi ini, banyak perusahaan besar yang harus gulung tikar akibat tekanan krisis ekonomi dan ketidakmampuan mereka untuk berinovasi,” kata Direktur Eksekutif Apindo Danang Girindrawardana.

Menurut Danang, inovasi sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan industri apapun. Terlebih lagi di tengah kondisi sulit akibat COVID-19 yang melemahkan daya beli konsumen dan perekonomian sehingga imbasnya sangat terasa di semua sektor industri.

”Inovasi bisa dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi, maupun menawarkan produk baru yang lebih baik bagi lingkungan dan konsumen,” ulasnya. Dia menambahkan, inovasi tentunya membutuhkan modal dan transformasi organisasi yang tidak mudah untuk dilakukan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Untuk itu, lanjutnya, diperlukan dukungan tambahan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan yang tepat. (dew)



Apa Pendapatmu?