Alexa Metrics

Asalkan Sembuh dari COVID-19 Halal, Haram dan Hantam

Asalkan Sembuh dari COVID-19 Halal, Haram dan Hantam ilustrasi

indopos.co.id – Pukul 08.30 WIB. Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, sudah menggeliat. Amin Subandrio baru saja tiba di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Lalu keliling. Melihat-lihat setiap sudut gedung. Tak segan-segan memunguti sampah yang tercecer dan membuangnya ke tong sampah.

Pria yang pernah mendapat penghargaan sebagai Dosen Teladan I UI pada 1995 ini kemudian merogoh saku celananya. Cekrek..cekrek. Dia memotret salah sudut ruangan. Lalu, dia pun bergegas berjalan menyusuri satu per satu ruangan.

’’Pagi Pak,’’ sapa salah satu petugas kebersihan kepada Amin Subandrio sembari menganggukkan kepala.

’’Pagi juga,’’ sambut Amin sembari tersenyum.

Amin pun menghampiri petugas kebersihan tersebut. ’’Nanti tolong ya sudut kiri bangunan laboratorium dibersihkan. Tadi nampak sedikit berantakan,’’ ujar Amin kepada petugas kebersihan sambil menunjuk ke salah satu sudut ruangan.

Sedikit menganggukkan kepala, petugas kebersihan tersebut pun bergegas berlalu dari hadapan Amin dan menuju sudut ruangan di laboratorium.

Siapa Amin Subandrio ini? Dia lah Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Seorang Profesor kelahiran Semarang, 2 Juli 1953. Meski menjabat orang nomor satu di Lembaga Eijkman, dia masih memperhatikan hal-hal ’’kecil’’ itu. Memunguti sampah. Yang bisa saja dia menyruh pegawai kebersihannya untuk membereskannya.

’’Banyak yang sering terlewatkan, misalnya kebersihan, kerapihan atau kerusakan,’’ ungkap Amin Subandrio kepada INDOPOS, Rabu (26/8).

Bersih-bersih ini memang sudah menjadi kebiasaan. Berangkat pagi-pagi langsung memasang radar tinggi untuk menemukan sampah dan membereskannya sendiri. Sebelum COVID-19, biasanya mantan Kepala KSMF Mikrobiologi Klinik pada RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo ini tiba pukul 06.30 WIB. Katanya untuk memberi contoh kepada seluruh staf agar biasa tepat waktu dan tidak terlambat.

Pria yang pernah meraih penghargaan Satyalancana Pembangunan tahun 2000 ini memiliki jadwal mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Biasanya jadwal mengajar mulai pukul 07.00 WIB. Apabila tidak ada jadwal kuliah pagi, waktu digunakan untuk berkeliling ruangan.

’’Lebih dari 300 meter untuk menyisir gedung Biologi Molekuler Eijkman. Kalau keliling 3 kali sudah hampir 1 Kilometer,” katanya.

Masa pandemi memaksa Amin hanya memantau setiap ruangan dari koridor. Namun, dia tidak menghilangkan kebiasaannya untuk menyapa. Kendati, hanya dengan senyum kecil. ’’Ya, agar tidak mengganggu staf yang sudah bekerja, biasanya saya hanya sapa dengan senyum. Ini agar mereka tetap fokus, para peneliti misalnya. Saya tidak ingin kehadiran saya malah mengganggu konsentrasi mereka,’’ ungkapnya.

Saat pandemi, beberapa peneliti di laboratorium Eijkman memilih bekerja sampai larut malam. Tapi tidak sedikit mereka memilih bekerja sejak pagi buta. ’’Mereka (peneliti) ada yang bekerja sampai larut, ada juga yang pagi sekali,’’ bebernya.

Sebagai seorang pimpinan, Amin dituntut mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Untuk para peneliti senior dan para peneliti muda. Amin selalu menempatkan para stafnya seperti teman atau tidak menganggap sebagai atasan. Mereka diberikan kesempatan mengembangkan kemampuan dirinya dan diberikan tanggung jawab.

’’Yang yunior tetap kami supervisi atasnya. Tapi mereka diberikan kesempatan untuk mengembangkan idenya,’’ ujarnya.

Bahkan, pintu ruang kerja Amin selalu terbuka bagi siapa saja. Apalagi bagi para peneliti yang menemukan kendala dalam penelitiannya. Meskipun, setiap kali datang, menurut Amin, para peneliti ini telah mencoba mengatasi masalah dengan alternatif lainnya. Sehingga, kerap kali, ketika peneliti datang hanya meminta solusi untuk memutuskan suatu riset.

’’Untuk peneliti muda silakan untuk menulis dari hasil penelitiannya. Tentu ini sangat membanggakan. Karena di beberapa lembaga, ada penulisnya yang muda-muda, tapi yang keluar yang senior. Jadi yang muda tidak pernah punya kesempatan,’’ katanya.

Meskipun sebagai seorang kepala lembaga, Amin tidak pernah memutuskan suatu kendala dalam penelitian. Tetapi secara bersama-sama, dia mengajak peneliti untuk memutuskan suatu masalah dalam penelitian.

’’Jadi saya tidak mau memutuskan sendiri, tapi mereka (para peneliti) saya ajak bersama-sama memutus masalah itu,’’ tegasnya.

Amin menuturkan, Lembaga Eijkman sedang berusaha menemukan vaksin COVID-19. Namanya vaksin Merah Putih. Sudah 40 persen. Ini banyak dikerjakan para peneliti muda. Meskipun, sesekali para peneliti muda ini melakukan konsultasi kepada Amin Subandrio.

’’Proses pengembangan vaksin sudah 40 persen dan kami ditargetkan hingga 12 bulan ke depan,’’ katanya.

Amin mengatakan, idealnya vaksin harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain dari sudut imunitasnya kalau bisa sekali suntik dan bertahan seumur hidup. Selain bisa sekali suntik, vaksin tersebut juga diharapkan bisa bertahan seumur hidup dan bisa bertahan antibodinya. Tidak perlu ada booster dua kali, tiga kali, dan seterusnya.

’’Kemudian imunitas yang dibentuk juga mencakup humoral dan seluler, kalau bisa. Dan juga ini efektif untuk semua umur. Ini kita harapkan dari bayi sampai orang tua, idealnya begitu. Tapi tidak selalu bisa berhasil,’’ kata dia.

Kemudian, dari sudut imunologi juga, kata Amin, sedapat mungkin tidak menyebabkan auto-imunity atau reaksi hipersensitivitas. Kemudian, persyaratan berikutnya dalam pengembangan vaksin adalah harus aman, efektif, dan terjangkau.

Pertimbangan lainnya, terutama untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, tentu harga menjadi pertimbangan utama. Kalau kita bandingkan misalkan berita-berita di koran, bagaimana pemerintah di Amerika menggelontorkan banyak sekali dana untuk perusahaan vaksin mereka. Tapi itu tidak terjadi di Indonesia.

Di tengah pandemi yang sampai saat ini belum berakhir, kecepatan produksi sangat ditunggu. Sedapat mungkin juga tidak terlalu kompleks.

Berikutnya, yang terpenting dalam tahapan pengembangan vaksin adalah selain perlunya persetujuan cepat dari pemerintah, masyarakat juga diharapkan bisa menerima kehadiran vaksin tersebut.

’’Salah satu mungkin yang akan menjadi pertanyaan adalah masalah halal dan sebagainya,’’ katanya.

Amin menjadi sosok penting dalam dunia penelitian ilmu kedokteran, khususnya bidang mikrobiologi klinik. Kepakarannya sangat dibutuhkan dalam banyak kesempatan ketika Indonesia harus mengatasi serangan virus SARS, flu burung, dan terakhir COVID-19.

Selain itu, kemajuan teknologi biologi molekuler yang demikian cepat mendorong pemerintah untuk memastikan diri tidak tertinggal dari negara-negara lain. Riset genom dan sel punca, menjadi sebagian fokus kerja Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman yang dipimpin Amin sejak 2014.

Amin dipercaya memegang posisi pucuk pimpinan lembaga penelitian di bawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) ini bukanlah kebetulan. Sejak 2000 Amin sudah membantu Pemerintah dalam berbagai posisi pakar di Kemristek. Amin juga berhasil memimpin beberapa komisi nasional pengendalian penyakit akibat virus.

Amin lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 2 Juli 1953. Setelah lulus dari SMA Kolese Kanisius Jakarta pada 1971, Amin melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan lulus pada 1977. Gelar PhD Immunogenetics dia dapatkan dari Osaka University dan Kobe University di tahun 1988. Sedangkan gelar Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik diraih pada tahun 1992 dari kampus UI.

Penelitiannya yang bertajuk ’’Pengendalian Infeksi: Peran Strategis Dalam Pelayanan Rumah Sakit” mengantarkannya menjadi Guru Besar tetap dalam Ilmu Mikrobiologi Klinik FKUI pada Juni 2004. Tidak hanya di dalam negeri, kiprah akademisnya yang cemerlang membawa Amin mendapat gelar sebagai Profesor Kehormatan di University of Sydney Medical School, Australia (2014).

Sebagai peneliti, Amin pakar dalam bidang virus dan bakteri penyebab penyakit infektif, baik yang endemik di negeri ini maupun yang masuk dari negara lain. Sebut saja demam berdarah, malaria, tuberculosis, AIDS, Zika, SARS, dan flu burung. Kompetensi ini membuatnya mendapat bantuan dana riset dari lembaga internasional. Di antaranya penelitian yang berjudul Development of Immuno-assay for DHF dari Ford Foundation/LPUI (1990) dan Diagnostic of Hepatitis C Virus dari Kyokuto/Research Insitute for Biological Sciences Japan (1997).

Amin menuturkan, pengembangan vaksin di tahap laboratorium memiliki tingkat kesulitan tinggi. Namun, apabila itu bisa diselesaikan, maka pada tahap industri akan jauh lebih mudah. Apalagi, lembaga Eijkman memiliki semuanya. Mulai sumber daya manusia (SDM) hingga peralatan.

’’Kendalanya beberapa bahan harus impor. Di tengah pandemi ini, bisa memakan waktu jauh lebih lama. Biasa impor hanya 2 minggu bisa 6 sampai 8 Minggu baru dapat bahan,’’ ujarnya.

Dia berpesan kepada para peneliti agar tetap bisa menjaga integritas. Dari kejujuran, profesional hingga mengikuti setiap peraturan. ’’Para peneliti harus prosedural agar bisa menemukan vaksin Merah Putih,’’ katanya.

Perlu diketahui, Eijkman adalah lembaga penelitian biologi molekuler berstatus satuan kerja di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/ BRIN).

Nama Lembaga Eijkman dipakai untuk menghormati Christiaan Eijkman, peneliti berkebangsaan Belanda yang menjabat direktur pertama sekaligus penerima penghargaan Nobel bidang kedokteran pada 1929 atas penemuan konsep vitamin, ketika melakukan studi penyakit beri-beri di Batavia. Lembaga Eijkman menempati bangunan berarsitektur Belanda di Jalan Diponegoro No 69, Jakarta Pusat.

Sejarah berdirinya Lembaga Eijkman bermula dari pemerintah Hindia Belanda mendirikan Geneeskundig Laboratorium atau The Central Laboratory of Public Health Service (Laboratorium Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat) di Batavia (Jakarta, Red) pada 1888. Dan Christiaan Eijkman ditunjuk sebagai direktur pertama dan menjabat sejak 15 Januari 1888 hingga 4 Maret 1896.

Sejak 1938, Lembaga Eijkman dipimpin oleh Prof. Dr. Achmad Mochtar hingga kematiannya pada 1945. Mochtar dihukuman pancung oleh tentara Jepang karena menyelamatkan peneliti-peneliti di institusinya yang dituduh mencemari vaksin tetanus. Dia orang Indonesia pertama yang menjabat direktur Lembaga Eijkman. (nas/wok)



Apa Pendapatmu?