Alexa Metrics

Pemanasan Global Tampak Nyata di Selandia Baru

Pemanasan Global Tampak Nyata di Selandia Baru Gletser yang meleleh di Selandia Baru menunjukkan dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

indopos.co.idDua kali setahun, ahli glasiologi Lauren Vargo dan rekan-rekannya mendirikan kemah di samping dua danau kecil, dekat dengan gletser Brewster Selandia Baru. Setiap kali melakukan perjalanan untuk membawa pasak ukur, Vargo membutuhkan waktu lebih lama dari sebelumnya karena terminal gletser semakin jauh.

Vargo adalah penduduk asli Ohio yang sekarang bekerja di Pusat Penelitian Antartika di Victoria University of Wellington dan sedang mempelajari gletser Selandia Baru dari udara dan di atas es.

Penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change menemukan bahwa pencairan gletser yang ekstrem di Selandia Baru pada 2018, sepuluh kali lebih mungkin terjadi karena pemanasan global yang disebabkan oleh manusia.

2011 merupakan tahun pencairan yang ekstrem di seluruh gletser Selandia Baru. Namun, studi menemukan bahwa pemanasan global yang merupakan akumulasi dari gas rumah kaca di atmosfer, di mana sebagian besarnya berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, enam kali lebih mungkin terjadi.

“Sebagai ilmuwan kita tahu bahwa suhu hangat secara teori seharusnya mencairkan es. Tetapi tujuan dari penelitian ini adalah secara formal menunjukkan hubungan antara pencairan dan perubahan iklim,” jelas Vargo pada Guardian.

Studi ini dilakukan untuk melihat perubahan pada 10 gletser di Selandia baru. Hal itu dipicu oleh apa yang disaksikan Vargo dan rekannya dalam pemantauan udara pada 2018.

“Pada tahun-tahun sebelumnya selalu ada salju di gletser, tetapi pada 2018, sekitar setengahnya tidak ada salju sama sekali,” kata Vargo.

Sejak 1977, pemantauan udara tahunan di lebih dari 50 gletser telah dilakukan di Selandia baru untuk mencatat posisi garis salju serta ketabalan aliran es. Namun, jumlah salju di gletser jauh lebih sedikit pada 2018 dibandingkan yang pernah dilihat di pemantauan sebelumnya.

Brewster adalah salah satu gletser Selandia Baru yang lebih kecil. Tetapi pada 2016 hingga 2019, gletser di pulau selatan Selandia Baru itu telah kehilangan es seluas 13 meter kubik. Perhitungan Vargo itu menunjukkan bahwa pada 2018 saja, gletser itu telah kehilangan 8m meter kubik es. Tahun itu merupakan rekor terpanas kedua Selandia Baru, setelah 2016.

Vargo mengatakan gletser negara itu penting bagi pariwisata dan sumber daya air. Dia berharap penelitian itu akan mendorong dan meyakinkan orang-orang di seluruh dunia untuk mengambil tindakan lebih kuat demi menghentikan perubahan iklim. (fay)



Apa Pendapatmu?