Alexa Metrics

Napi Lapas Riau Diduga Bisa Selundupkan Ponsel iPhone 7 ke Dalam Penjara

Napi Lapas Riau Diduga Bisa Selundupkan Ponsel iPhone 7 ke Dalam Penjara warta 1

indopos.co.id – Sekertaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Hukum dan HAM, Bambang Rantam, memberikan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) kepada Kantor Wilayah Hukum dan HAM (kanwilkumham) Riau.

Namun, predikat itu harus dibayar mahal akibat ulah oknum petugas sipir di Lapas Riau. Sebab, oknum sipir ini membantu narapidana yang ada didalamnya, untuk bisa menggunakan handphone. Bahkan penjaga penjara ini juga menyediakan rekening tabungannya sebagai alat untuk mengirim uang hasil pemerasan.

“Kanwil Riau sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Jumlah 24 satuan kerja yang lolos ke Tim Penilai Nasional merupakan prestasi luar biasa,” kata Bambang Rantam, Kamis (27/8/2020).

Atas pencapaian itu, Bambang berpesan kepada seluruh jajaran Kanwilkumham Riau beserta Unit Pelaksana Teknis (UPT) agar memperhatikan beberapa hal untuk dapat meraih predikat WBK/WBBM. “Komitmen pimpinan dan seluruh tim untuk membangun persamaan persepsi dalam pelaksanaan Zona Integritas adalah hal yang sangat penting,” tegasnya.

Akan tetapi, semua itu harus dibayar mahal setelah Polres Metro Jakarta Timur berhasil mengungkap kasus pemerasan dan pornografi. Pasalnya, Ibrahim Purba, 26, narapidana penghuni Lapas Riau yang diduga dibantu oknum sipir bisa menyelundupkan handphone iPhone 7 kedalam penjara. “Makanya ini masih kami selidiki dari mana handphone itu bisa masuk,” kata Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Arie Ardian Rishadi, pada wartawan, Kamis (27/8/2020).

Dikatakan Kapolres, dengan handphone yang digunakan dibalik jeruji itu, Ibrahim mengunakannya untuk melakukan video call sex. Dari aksi yang dilakukan, pelaku pun diam-diam merekam hal tersebut dan dijadikan sebagai alat untuk memeras. “Modusnya, kalau nggak mau rekaman itu disebar, segera transfer uang,” pungkasnya.

Dalam aksi pemerasan itu, jumlah uang yang diminta cukup banyak karena mencapai Rp16,8 juta. Dimana semua uang itu di transfer dalam kurun waktu dari tanggal 1 hingga 7 Juli 2020. “Ini baru dari satu korban, dari korban yang melapor ke Satreskrim Polrestro Jakarta Timur. Pengakuan pelaku selama di penjara sudah tiga kali melakukan aksi serupa,” tandasnya. (mdo)



Apa Pendapatmu?