Alexa Metrics

Rumah Sepeda Indonesia, Ajang Kongkow Para Penggowes

Rumah Sepeda Indonesia, Ajang Kongkow Para Penggowes Para pengayuh sepeda singgah di Rumah Sepeda Indonesia di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. (Foto Iqbal/INDOPOS)

indopos.co.id – Di kejauhan memasuki Jalan IKPN, Bintaro, Pesanggrahan, para penggowes sepeda berkerumun. Habis menggowes dari kantor Wali Kota Jakarta Selatan, mereka berkumpul di sebuah rumah berlantai dua yang dinamakan Rumah Sepeda Indonesia itu.

Meski Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi, ratusan penggowes sepeda dari berbagai komunitas memarkirkan roda duanya itu persis di sekitar Rumah Sepeda Indonesia. Ternyata di sana tempat singgah bagi para penggowes itu baru saja diresmikan oleh Wali Kota Jakarta Selatan.

Poetoet Soedarjanto, ketua Bike to Work mengatakan, persiapannya ini sebenarnya hanya 2 minggu. “Setelah kita searching terus mencari dimana yang enak tempat untuk menjalin komunikasi. Memang masih belum sempurna ya, karena PSBB,” ungkap pria mengenakan helm sepeda itu saat ditemui INDOPOS, Kamis (27/8/2020).

Sambil berdiri mengobrol dengan INDOPOS, Warga Tangerang itu menceritakan, bagaimana hari bersejarah bagi Bike to Work Indonesia. Di hari ini (kemarin) sekitar 15 tahun lalu. Gerakan moral untuk bersepeda ke kantor dibentuk dari beberapa kawan-kawan pegiat sepeda yang biasa main di seputaran Jalur Pipa Gas, Tangerang.

“Saya aktif sejak tahun 2006 lalu. Road sudah ke Madiun, Sarawak, Kapuas Hulu, tetapi rutinitas keseharian lebih banyak ke kantor pakai sepeda,” ujar karyawan PT CNI, Puri Kembangan itu.

Sejauh ini, sambung dia, sepeda yang sudah dimilikinya ada sebanyak 30 unit. Menurut dia, definisi sepeda itu bukan dilihat dari mahal dan murahnya, terpenting nyaman dipakai, dan selamat.

Angka 15 tahun, lanjut dia, bukanlah angka yang sedikit tetapi juga bukan angka yang terlalu banyak bagi sebuah entitas yang kini berkembang luas hingga ke seluruh tanah air. Bahkan hingga mancanegara. “Rumah Sepeda Indonesia menjadi rumahnya bagi sahabat pegiat sepeda untuk silaturahmi,” kata dia.

Lembar sejarah tak bisa memungkiri bahwa Bike to Work Indonesia selalu ada, eksis, dan bergerak bersama para penggiat sepeda Indonesia. Manis, pahit, asam garam telah dirasakan penggowes.

Ada masa disaat gaung itu begitu keras, begitu didengar, tapi ada juga masa-masa sulit dan harus survive.

Namun, itulah dinamika organisasi dengan pegiat aktif puluhan ribu pesepeda di Indonesia.

Buah dari konsistensi para pesepeda untuk berbuat ke – BIKE – an. Inilah yang membuat Bike to Work Indonesia tetap hadir bagi pengayuh sepeda, bagi Indonesia. “Terlebih dengan adanya Rumah Sepeda Indonesia ini,” tutur dia.

Selama ini, pilihan itu menarik dan siapapun terbuka untuk dapat berkumpul di sini dan bisa menjadi sekretariat bersama. “Maunya sih tempat ini di-setting 24 Jam dan kami ikuti aturan pemerintah tentunya,” imbuh dia.

Ditemui INDOPOS, Komunitas SeliJags, Widodo, 53, dari Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan mengenakan pakaian olah raga gowes itu pun turut gowes dari kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Menurut Widodo, dengan adanya tempat singgah bagi para pengayuh sepeda itu, suatu saat bisa sharing dan diskusi tentang sepeda.

Dirinya yang sejak tahun 2017 sudah suka sepeda itu menambahkan, jadi semua komunitas bisa goes berkumpul dan silaturahmi. “Itu yang terpenting,” tuturnya.

Dia menambahkan, memiliki empat sepeda yakni Brompton, Minipello Dahon, Dahon Selli, MTB dan road bike.

“Kalau Brompton saya punya sejak 2018, dibelinya masih harga Rp 38 juta,” akunya.

Untuk perawatan, diakuinya, sepeda Brompton itu membutuhkan polesan khusus dan musti rutin. Disamping tempat servisnya tidak umum kan. “Tempatnya kalau Brompton khusus,” kata dia.

Sejauh ini, lanjut dia, sepeda keluaran Inggris itu kuat dipakai. Bapak beranak dua, Pegawai BUMN, Waskita Karya itu sudah melakukan road goes di antaranya Jakarta – Bogor, Km 0 Sentul, Map Track Puncak, terakhir Ragunan – Gunung Bunder, Halimun 135 Km.

Di SeliJags, tambah dia, ada 98 anggota. Komunitasnya baru sekitar 1 tahun ini di Jagakarsa. Dua minggu sekali, urban dan goes tanjak Km 0, Katulampa, Bogor, Jawa Barat.

“Salam satu sepeda, sejuta sahabat,” tutupnya seraya berucap ingin kembali pulang. (ibl)



Apa Pendapatmu?