Alexa Metrics

Solusi di Tengah Pandemi, Virtual Jadi Gaya Hidup

Solusi di Tengah Pandemi, Virtual Jadi Gaya Hidup

Indopos.co.id – Dunia Virtual kini menjadi kebutuhan. Gaya hidup digital itu menjadi media paling dibutuhkan. Tetap komunikasi dan saling sapa tanpa bertemu satu sama lain seakan menjadi trend di tengah pandemi. Tak hanya di kalangan bisnis, dunia virtual kini mulai merambah dunia pendidikan. Anak-anak Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah pertama (SMA), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Bahkan, dunia kampus mulai menerapkan pola tersebut sebagai solusi di tengah pandemi COVID-19.

”Pembukaan kembali sekolah dan lembanga pendidikan merupakan keputusan yang kompleks dan membutuhkan banyak pertimbangan dan keahlian,” ujar Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, wakil rektor Universitas Indonesia (UI) Bidang Riset dan Inovasi saat webinar berjudul “Pembukaan Kembali Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah: Pertimbangan Kesehatan, Pendidikan, dan Psikologi Perkembangan Anak”, belum lama ini.

Di awal 2020, pandemi COVID-19 memaksa banyak negara melakukan pembatasan sosial. Mulai dari penutupan kegiatan bisnis hingga kegiatan belajar tatap muka di sekolah. Penutupan kegiatan belajar sekolah ini perlu dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mempercepat pemutusan mata rantai penularan COVID-19.

”Sekitar tiga bulan lamanya, anak-anak belajar di rumah dengan variasi kegiatan yang terbatas. Jelang dibukanya tahun ajaran baru, opini publik mulai bergulir. Ada yang setuju, namun tidak sedikit pula yang menyangsikan pembukaan sekolah,” kata dia.

Kekhawatiran mengenai tindakan pencegahan yang bisa dilakukan saat anak berada di sekolah membuat sebagian besar orangtua masih ada yang berharap bahwa metode pembelajaran jarak jauh tetap dilakukan. Alhasil, sampai saat ini pendidikan jarak juah menjadi rujukan.

Kendati pembelajaran jarak jauh tetap dilakukan, namun ada kalanya masyarakat yang engan menerima pola tersebut.

Biaya operasional mahal, kesulitan beradaptasi dengan teknologi, hingga tugas yang membutuhkan modal tak sedikit membuat para orangtua kesulitan.

“Imbas dari penutupan sekolah menyebabkan pelandaian kurva pembelajaran siswa. Pembelajaran jarak jauh berpotensi melebarkan kesenjangan pencapaian antar status sosial dan meningkatkan potensi anak putus sekolah, “sambung dr. Ahmad Fuady, M.Sc., Ph.D. dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, FKUI.

Menurut riset, efek menutup sekolah menekan 2-4 persen sebaran infeksi, dan data menunjukkan bahwa rata-rata kasus anak 1-5 persen total kasus COVID-19. Di Indonesia ada pada rate 6 persen total kasus dengan mayoritas anak yang terinfeksi dengan gejala ringan.

”Maksud kami bukan mengecilkan risiko COVID-19 terhadap anak, namun mari bersama-sama memitigasi risiko ketika membuka kembali aktivitas belajar mengajar di sekolah, agar capaian belajar dapat tetap terpenuhi dan anak-anak dapat tetap sehat,” kata dia.

Guru Dan Dosen Gaptek Tergeser

Pendidikan virtual memaksa semua guru untuk ‘melek’ teknologi. Meski sekadar Zoom Meeting, Class Meeting, maupun aplikasi lainya. Namun, guru maupun dosen harus mampu beradaptasi dengan dunia digital. Guru tak boleh kalah dengan murid saat beradaptasi dengan teknologi.

”Kita harus lebih paham dengan teknologi. “ ujar Ryma, Dosen bahasa inggris Unindra, Jakarta Timur.

Sebagai salah satu dosen tetap di salah satu kampus swasta, Ryma menyadari dunia virtual memaksa guru untuk bisa mengenal teknologi. Jika selama ini tatap muka sebagai solusi yang paling tepat. Namun dengan era new normal, guru maupun dosen harus paham akan digital, semisal power point untuk presentasi di depan anak-anak didik.

Jika tak memahami tersebut, tentunya pendidikan yang disampaikan kepada siswa tidak bisa diterima dengan baik. Tentunya, ini berdampak pada pembelajaran yang akan disampaikan. “Hal yang biasanya tidak kita lakukan didepan computer di era new normal ini membuat kita harus belajar banyak,” tutur dia.

Rekor Baru Kasus COVID-19 di Ibu Kota

Kasus baru positif Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) di Jakarta pada Kamis (27/8/2020), merupakan tertinggi sejak pandemi mulai terjadi pada Maret 2020 lalu, yakni sebanyak 820 kasus baru.

Penambahan kasus tersebut, menyebabkan total kasus Virus Corona di ibu kota menjadi 36.462 kasus, bertambah signifikan dari sebelumnya sejumlah 35.642. Berdasarkan data dari Pemprov DKI Jakarta, rekor pertambahan ini mengalahkan rekor sebelumnya yang terjadi pada Sabtu (8/8) sejumlah 721 kasus.

Pertambahan ini juga yang tertinggi dalam sepekan terakhir di mana pada Rabu (26/8) ada pertambahan sebanyak 711, pada Selasa (25/8) sebanyak 636 kasus, pada Senin (24/8) sebanyak 659 kasus, pada Minggu (23/8) sebanyak 637 kasus, pada Sabtu (22/8) sebanyak 601 kasus, pada Jumat (21/8) sebanyak 641 kasus, dan pada Kamis (20/8) sebanyak 595 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia menerangkan, penambahan 820 kasus COVID-19 ini, adalah dari hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR) pada 6.307 spesimen.

“Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 7.127 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 820 positif dan 6.307 negatif. Dari 820 kasus positif tersebut, 250 kasus baru hari ini adalah akumulasi data dari hari sebelumnya yang baru dilaporkan. Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 56.246. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 43.270,” kata dia.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan sampai dengan 26 Agustus 2020, sudah ada 704.011 sampel (sebelumnya 697.704 sampel) yang telah diperiksa dengan tes PCR untuk mengetahui jejak COVID-19 di lima wilayah DKI Jakarta lewat 54 laboratorium.

Dwi menjelaskan jumlah kasus aktif yang terpapar penyakit pneumonia akibat virus corona jenis baru (COVID-19) itu di Jakarta saat ini, sebanyak 7.027 orang (sebelumnya 7.748 orang) yang masih dirawat/isolasi. Sedangkan, dari jumlah kasus konfirmasi secara total di Jakarta pada Kamis ini sebanyak 36.462 kasus, ada 28.288 orang dinyatakan telah sembuh (bertambah 1.538 dibanding hari sebelumnya 26.750 orang), sedangkan 1.147 orang (bertambah tiga dibanding sebelumnya 1.144) meninggal dunia. Dalam persentase, tingkat kesembuhan di Jakarta adalah 77,6 persen (sebelumnya 75,1 persen) dan tingkat kematian 3,1 persen (sebelumnya 3,2 persen).

Untuk “positivity rate” atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta setelah penambahan Senin ini, sebesar 9,9 persen (sebelumnya 9,8 persen), sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 6,1 persen (sebelumnya 6,2 persen). WHO menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari lima persen.

Pada perpanjangan kembali PSBB Transisi Fase 1 ini, Pemprov DKI Jakarta menyarankan, bagi masyarakat yang ingin memasuki wilayah Jakarta untuk melakukan pemeriksaan mandiri COVID-19 melalui JakCLM di aplikasi JAKI.

Melalui JakCLM, masyarakat dapat mengetahui risiko COVID-19 serta mendapatkan berbagai rekomendasi kesehatan sesuai dengan risiko yang dimiliki. Kontribusi masyarakat dalam pengisian JakCLM dapat membantu Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan pencegahaan penyebaran kasus COVID-19 di Jakarta.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta memperketat kegiatan-kegiatan yang berpotensi mendatangkan kerumunan di ruang publik. Seperti, meniadakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) dan meniadakan Kawasan Khusus Pesepeda (KKP).

Melalui Satpol PP Provinsi DKI Jakarta, penindakan atas pelanggaran penggunaan masker juga digencarkan, begitu pula dengan bentuk pelanggaran-pelanggaran PSBB lainnya. Sehingga, harapannya, masyarakat dapat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan dan turut berpartisipasi dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

Selama vaksin belum tersedia, maka penularan wabah harus dicegah bersama-sama dengan disiplin menegakkan pembatasan sosial dan protokol kesehatan.

Dwi menyebutkan hal yang perlu diingat oleh masyarakat untuk memperhatikan dan menjalankan prinsip-prinsip dalam berkegiatan sehari-hari yakni tetap tinggal di rumah bila tak ada keperluan mendesak; menjalankan 3M: Memakai masker dengan benar; Menjaga jarak aman 1-2 meter; dan Mencuci tangan sesering mungkin.

Kemudian, seluruh kegiatan yang diizinkan beroperasi harus dalam kapasitas maksimal 50 persen dan menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Serta ingatkan sesama untuk selalu menerapkan protokol kesehatan.

Dua Pendemo Istana Negara Berstatus Positif

Dua dari sebanyak 170 petani pengunjuk rasa asal  Deli Serdang di depan Istana Negara dinyatakan positif COVID-19 setelah mengikuti tes cepat (rapid test) yang difasilitasi Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2020). Rapid test dilakukan di Kantor Biro Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) Kemenakertrans, Jalan Gatot Subroto, Mampang, Jakarta Selatan.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budi Sartono mengatakan tes cepat dilakukan sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi klaster penyebaran virus asal Wuhan, China ini selama petani-petani itu menempati Kantor Biro YTKI Kemenakertrans. “Kami lakukan rapid tes karena diduga mereka ada yang terpapar,” kata Budi.

Ke 170 orang ini merupakan massa petani Deli Serdang yang berunjuk rasa di Istana Negara, Jakarta, terkait sengketa lahan. Budi mengatakan, massa Petani Deli Serdang tersebut sudah berada di Kantor Biro YTKI Kemenaker sejak tanggal 7 Agustus 2020.

Menurut Budi, jika hasil rapid test reaktif, maka selanjutnya akan dilakukan uji usap. “Kita akan koordinasikan dengan instansi terkait, untuk yang reaktif, kalau memang tergantung kesehatan apakah isolasi mandiri atau dirujuk,” kata Budi.

Sementara itu, Koordinator Petani Deli Serdang Sulaeman Wardana mengatakan pihak sudah melakukan beberapa kali tes cepat sebelum menempati Kantor Biro YTKI Kemenakertrans, hasilnya tidak ada yang reaktif. Lalu pada Rabu (26/8/2020), saat perwakilan mereka menjalani uji usap di Kantor Sekretaris Negara sebelum menemui Setneg untuk beraudiensi, satu dari enam orang yang di tes dinyatakan positif COVID-19. “Hari ini, satu orang yang di-swab kemarin malam di-rapid lagi, hasilnya negatif (non reaktif). Yang reaktif justru yang lain,” kata Sulaiman.

Sulaiman menyatakan, siap untuk mengikuti aturan pemerintah untuk melakukan rapid maupun swab test. Tetapi mereka akan tetap bertahan di Kantor Biro YTKI Kemenakertrans sampai tuntutan mereka dipenuhi oleh pemerintah dalam hal ini Presiden dan BPN. (ash/ibl)



Apa Pendapatmu?