Alexa Metrics

Rokok Ancaman Bagi Anak, Sekolah Harus Berpikir Kreatif

Rokok Ancaman Bagi Anak, Sekolah Harus Berpikir Kreatif Ilustrasi

indopos.co.id – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengingatkan sekolah untuk berpikir kreatif dan lebih memahami bahwa rokok merupakan sebuah ancaman bagi anak sebab sekali mereka mencoba maka kemungkinan terpapar narkoba dan sebagainya akan lebih besar.

“Sekolah harus lebih berpikir out of the box, jangan hanya fokus pada prestasi anak di sekolah atau anak harus menguasai bidang apa, namun juga perlu memahami rokok adalah ancaman bagi anak,” kata Koordinator Bidang Peserta Didik Kemendikbud Mega Zamroni dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Kamis (27/8)

Ia mengatakan pihak sekolah, termasuk mulai dari komite, harus lebih merangkul dan aktif agar anak-anak di sekolah tidak mencoba hal-hal yang berkaitan dengan rokok. Kemudian, katanya, jika memang anak ketahuan merokok, baik itu di sekolah maupun sekitar lingkungan sekolah, maka teguran diberikan bukan hanya pada anak yang bersangkutan, namun juga unsur-unsur yang ada di sekolah tersebut.

Menurutnya, secara umum perilaku merokok pada anak banyak terjadi akibat faktor dari perilaku teman sebaya. Hal ini, khususnya terjadi pada mereka yang berusia 13 hingga 17 tahun, bahkan ada yang di bawah itu. “Kami sudah ada Permendikbud Nomor 64 Tahun 2015 terkait dengan sekolah yang bebas dari rokok. Namun dengan adanya faktor teman sebaya, sepertinya aturan ini bisa sedikit direvisi atau disesuaikan lagi,” kata dia.

Bahkan, katanya, seharusnya teguran juga diberikan pada masyarakat di lingkungan sekolah. Sebab, tidak mengingatkan anak-anak agar tidak merokok di sekitar sekolah itu.

Di sisi lain, ia mengatakan kasus merokok pada anak, termasuk di sekolah, merupakan tantangan tersendiri sebab yang dijadikan teladan atau contoh biasanya memang teman mereka sendiri. ”Anak biasanya punya teman yang jadi panutan, dan sekalinya teman itu merokok maka anak akan meniru dan merasa harus seperti panutan mereka juga,” ujar dia.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa peranan keluarga dalam menjauhkan anak dari rokok tidak kalah penting sehingga butuh kerja sama semua pihak dalam mengatasi hal tersebut. Hal itu, katanya, termasuk pula dari pihak regulator untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung agar dapat memutuskan mata rantai merokok pada anak-anak.

Sementara Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Muhadjir Effendy mengkhawatirkan rokok mulai menyerang anak sejak masa prenatal atau ketika berada dalam kandungan ibunya.

“Rokok ini sebetulnya sudah mulai menyerang upaya kita untuk membangun sumber daya manusia Indonesia sejak masa prenatal,” kata dia saat diskusi daring dengan tema “Tingkat prevalensi peningkatan merokok pada kategori anak di Indonesia: Efek harga dan efek teman sebaya yang dipantau di Jakarta, Kamis (27/8).

Ia mengatakan hal itu terjadi karena pada saat anak masih berada dalam kandungan ikut terpapar dari orang tuanya yang merokok. Meskipun ibunya tidak merokok namun bisa terpapar dari ayahnya yang perokok aktif. ”Orang tua perokok punya dampak yang sangat serius terhadap janin yang dalam kandungan seorang ibu,” katanya.

Oleh karena itu, semua pihak perlu mewaspadai praktik merokok di dalam lingkungan keluarga. Secara umum siklus pembangunan manusia dan kebudayaan Indonesia dimulai dari masa prenatal, 1.000 hari pertama kehidupan, usia dini dan anak-anak, remaja hingga dewasa.

”Setiap tahapan masa pertumbuhan anak terdapat perintang atau halangan salah satunya dipengaruhi oleh rokok,” kata eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut.

Ia mengatakan dalam waktu bersamaan pemerintah juga terus berupaya memperbaiki sumber daya manusia salah satunya menekan angka stunting hingga 14 persen pada 2024. Sebab, stunting menjadi program Presiden Jokowi sehingga perlu mendapatkan perhatian serius. Saat ini angka stunting di Tanah Air masih di atas 27 persen. Jika angka kelahiran per tahun sekitar 4.800.000 maka 27 persennya adalah stunting. ”Jadi kalau ada 10 bayi lahir kira-kira dua hingga tiganya adalah stunting,” katanya.

Ia menambahkan target penurunan stunting 14 persen pada 2024 memang cukup tinggi dalam upaya pembangunan manusia dan kebudayaan. Namun, hal itu harus dilakukan termasuk mengatasi faktor perintang salah satunya masalah rokok. (gin/ant)



Apa Pendapatmu?