Alexa Metrics

Meraup Untung dari Terumbu Karang

Meraup Untung dari Terumbu Karang Terumbu karang menghidupi banyak orang dan memberikan kontribusi jutaan dolar bagi perekonomian Indonesia. (Foto: the nature conservancy/ rod salm/AFP)

indopos.co.id – Susoh merupakan kota kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Mayoritas penduduknya mengandalkan sumber pendapatan sebagai nelayan tangkap. Penghasilannya sangat bergantung terhadap kondisi cuaca.

Untuk menjangkau kecamatan ini butuh waktu tujuh jam perjalanan darat dari Banda Aceh menyusuri jalur pesisir barat selatan. Atau sekitar dua jam perjalanan dari Kota Meulaboh.

Masyarakat Susoh awalnya tidak terlalu peduli untuk memelihara dan melestarikan terumbu karang. Sampai akhirnya Pusong Dive Club (PDC), komunitas selam yang mempunyai visi dan misi pada kecintaan lingkungan, khususnya kawasan laut dan pesisir, hadir serta melakukan kegiatan konservasi terumbu karang di kawasan itu.

Kegiatan dipusatkan di Pulau Gosong. Yang terbentuk dari tumpukan pasir dengan luas kurang lebih satu hektare. Saking kecilnya Pulau Gosong terlihat jauh, padahal dari dermaga yang lazim dimanfaatkan nelayan setempat hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk menjangkaunya.

PDC dalam kegiatannya tidak sekadar melaksanakan konservasi terumbu karang, tetapi juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai manfaat terumbu karang bagi masyarakat, terutama untuk mendukung produktivitas tangkapan nelayan.

Ketua PDC Erijal mengatakan program konservasi terumbu karang bertujuan melindungi, merehabilitasi, dan memanfaatkan ekosistem terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya secara berkelanjutan. Selain itu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar ekosistem melalui penguatan kapasitas pengelolaan sumberdaya laut.

Kelompok nelayan di Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh mengaku merasakan manfaatnya dengan hadirnya PDC melalui program konservasi terumbu karang. ’’Yang saya rasakan jarak tempuh untuk mencari ikan menjadi lebih dekat sehingga bahan bakar bisa dihemat. Kalau dulu butuh empat jerigen, kini cukup satu jerigen sudah bisa mendapat ikan,’’ kata Ajuwir salah seorang nelayan Susoh Aceh dalam wawancara melalui videocall.

Ajuwir mengatakan dengan adanya terumbu karang ini hasil tangkapan rata-rata nelayan di Susoh meningkat 30 sampai 40 persen.

Panglima Laot Aceh Barat Daya, Hasanuddin menyebut hadirnya program konservasi sejak tahun 2018 membuat kesejahteraan nelayan Susoh meningkat.

Hasanudin sebagai ketua lembaga yang memimpin adat istiadat, kebisaaan-kebisaaan yang berlaku di bidang penangkapan ikan, dan penyelesaian sengketa di wilayah Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, itu berharap program pelestarian bawah laut terus ditingkatkan karena manfaatnya akan dirasakan masyarakat nelayan itu sendiri.

Meskipun telah mendapat dukungan masyarakat untuk mewujudkan program pelestarian terumbu karang bukanlah mudah. Menurut pengakuan Erijal pekerjaan ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran karena harus bekerja di kedalaman 15 meter di bawah permukaan laut dengan kemungkinan gagal apabila arus mendadak deras.

Di kedalaman itu kami harus mengikat karang-karang itu menjadi apartemen ikan. Kalau ikatan kurang kuat bisa lepas. Belum lagi harus tepat untuk mengukur kedalaman.

’’Kalau terlalu dalam atau terlalu dangkal karang juga sulit untuk tumbuh,’’ jelas Erijal.

Kemudian yang lebih penting lagi, jelas Erijal, mengajak masyarakat untuk turut serta memelihara dan melestarikan terumbu karang. Masyarakat akan terlibat setelah merasakan manfaat dari program ini.

Mengenai pelaksanaan program, Erijal mengatakan pada 2018 PDC dan Mifa Bersaudara fokus mentransplantasi terumbu karang. Mulai tahap pemilihan bibit, pemotongan, perawatan, penempatan bibit, dan penanaman melalui media khusus.

Tahun berikutnya dilakukan monitoring sembari menempatkan apartemen ikan di area tempat transplantasi terumbu karang dibuat. Kegiatan ini dilakukan secara periodik dan berkelanjutan.

Dari hasil kegiatan monitoring pada 2020 ini diperoleh data pertumbuhan karang cukup baik. Rata-rata pertumbuhan mencapai empat sampai enam sentimeter. Ini menandakan perairan laut area konservasi tersebut cukup baik.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyatakan dukungannya terhadap setiap kegiatan konservasi terumbu karang. Sebab, terumbu karang (coral reef) yang sehat tidak hanya menyangkut aspek kelestarian lingkungan, melainkan mampu menjadi solusi dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional di masa pandemi.

’’Pelestarian sumber daya pesisir, dalam hal ini terumbu karang, dapat menjadi salah satu contoh nyata bagaimana upaya menjaga lingkungan dapat sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat dan nasional,’’ kata Suharso.

Lindungi Laut

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menegaskan komitmen Indonesia dalam penerapan perjanjian global mengenai perlindungan ekosistem laut dan pesisir dari pencemaran yang berasal dari aktivitas manusia berbasis daratan.

’’Untuk isu-isu pesisir dan laut, Indonesia telah mengembangkan dan menerapkan sejumlah kebijakan, strategi dan program kerja nasional. Selain kebijakan nasional tentang agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan,’’ kata Siti ketika membuka pertemuan Intergovernmental Review (IGR-4) dan Program Aksi Global untuk Perlindungan Lingkungan Laut dari Aktivitas Berbasis Lahan di Nusa Dua, Bali, lalu.

Ekosistem laut menghadapi ancaman serius dari aktivitas berbasis laut dan darat, dengan sekitar 80 persen pencemaran laut berasal dari aktivitas manusia berbasis daratan. Indonesia, dalam upaya mengurangi dampak kegiatan berbasis lahan telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 tahun 2018 mengenai rencana aksi strategis untuk memerangi sampah laut dari 2018 hingga 2025 dengan targetnya mampu mengurangi limbah padat hingga 70 persen.

Presiden Joko Widodo tahun 2017 juga mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Kebijakan dan Strategi Nasional tentang Pengelolaan Sampah (JAKSTRANAS).

Indonesia juga telah mendesak 156 perusahaan untuk mengurangi sampah plastik dan melakukan pembersihan pantai di 19 lokasi, serta merehabilitasi terumbu karang di 23 lokasi.

Selain itu, Pemerintah Indonesia meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk mengurangi limbah plastik.

’’Kami juga telah menyelesaikan evaluasi pada 18 kota pesisir dan hasilnya menunjukkan bahwa total limbah plastik yang ditemukan di perairan kita jauh lebih sedikit dari yang dikira,’’ kata Siti.

Direkur Regional Asia Pacific Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Dechen Tsering mengatakan pelaksanaan IGR-4  memperkuat komitmen Indonesia dalam melindungi lingkungan laut.

Upaya melindungi ekosistem laut dari aktivitas manusia berbasis lahan, menurut dia, tidak semata-mata untuk melindungi laut tetapi juga untuk menunjang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di masa depan.

Investasi dan inovasi dari pihak swasta, menurut dia, sangat diperlukan. Kerja sama seluruh pemangku kepentingan, termasuk dukungan peneliti, diperlukan menyelesaian persoalan di darat yang berdampak ke laut.

Berdasarkan penelitian para ahli kelautan, terumbu karang yang sehat mampu mendongkrak kekuatan ekonomi nasional sekaligus menyejahterakan masyarakat. Sebaliknya, jika terumbu karang rusak atau bahkan mati maka aset nilai ekonomi terumbu karang tak dapat dipetik manfaatnya.

Berdasarkan hitungan United Nations Environment Programme (UNEP) apabila seluruh ekosistem terumbu karang dikelola dengan baik, valuasi aset terumbu karang di kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle) Indonesia mencapai 37 miliar dolar AS atau setara dengan Rp540 triliun pada 2030.

Ekosistem terumbu karang menjadi tempat bermain, berlindung, dan sumber pakan bagi sekelompok ikan. Tak hanya itu, terumbu karang juga mampu meredam energi arus laut sehingga dapat mencegah abrasi pantai.

Indonesia dikenal sebagai negara mega marine biodiversity terbesar di dunia. Ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi nasional sekaligus menyejahterakan masyarakat melalui terumbu karang. Mengingat luasnya mencapai 25.000 kilometer persegi dengan 69 persen jenis terumbu karang di dunia ditemukan di perairan Indonesia.

Mengingat manfaatnya yang besar bagi kesejahteraan masyarakat sudah sepatutnya program-program konservasi terumbu karang mendapat perhatian tidak hanya pemerintah daerah tetapi juga swasta dan BUMN.

Jadi, tidak ada salahnya mengeluarkan dana besar untuk pelestarian alam. Sebab, imbal hasil yang didapat juga sebanding bahkan bisa lebih besar lagi. (ant/cok/nas)



Apa Pendapatmu?