Alexa Metrics

Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Utama Maraknya Perceraian di Masa COVID-19

Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Utama Maraknya Perceraian di Masa COVID-19 Di masa pendemi, jumlah perceraian naik tapi jumlah pernikahan turun. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Dampak pandemi COVID-19 tidak hanya beberapa sektor skala nasional tapi juga sampai ke skala rumah tangga. Di sejumlah Pengadilan Agama (PA) angka perceraian kian marak. Angkanya meningkat hingga dua kali lipat. Penyebab terbanyak perceraian adalah karena faktor ekonomi. Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Kementerian Agama (Kemenag) Muharam Marzuki mengajak masyarakat untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah pandemi COVID-19.

Hal ini disebabkan fenomena maraknya masyarakat yang mendaftarkan gugatan perceraian di sejumlah Pengadilan Agama.

“Keluarga adalah fondasi paling dasar dari sebuah negara, oleh karena itu penting bagi kita untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah masa pandemi ini,” ujar Muharam Marzuki di Jakarta, Jumat (28/8).

Data dari Badan Peradilan Agama (Badilag), Kemenag menyebutkan, ada lonjakan daftar gugat cerai di sejumlah PA. Di antaranya: PA Soreang Bandung, biasanya 700 gugatan per bulan, di masa pandemi meningkat jadi 1012. Kemudian PA Ponorogo ada 2.500 pendaftar gugat cerai, PA Medan ada 1934 kasus gugat cerai.

Bahkan PA Cibinong kewalahan, hingga menutup pendaftaran gugat cerai (sehari lebih dari 100 pendaftar gugat cerai). Ia menjelaskan, kasus perceraian dilatarbelakangi faktor yang kompleks. Namun di masa pandemi ini, faktor utama gugatan cerai adalah faktor ekonomi.

“Pandemi membawa dampak pada merosotnya ekonomi keluarga, hal ini kemudian berakibat pada meningkatnya jumlah gugatan cerai di sejumlah Pengadilan Agama,” katanya.

Lebih jauh ia menyebutkan, salah satu cara untuk menguatkan ketahanan adalah memperkuat sisi agama dalam kehidupan berumah tangga. Karena, aspek spiritual dan religius merupakan faktor penting agar keluarga tetap bisa mengambil sisi positif di tengah pandemi COVID-19.

Keterbatasnya ruang gerak anggota keluarga di masa pandemi, menurutnya, akan melahirkan kejenuhan yang berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga. Dengan menguatkan aspek agama, kejenuhan tersebut bisa dihindari.

“Misalnya dengan lebih rutin beribadah berjamaah bersama keluarga di rumah, mengkaji agama, dan sebagainya. Komunikasi yang baik dan penguatan faktor agama akan memperkuat ketahanan keluarga,” ungkapnya.

Kementerian Agama, ditambahkannya, juga mempunyai sejumlah program yang ditujukan bagi penguatan kehidupan keluarga. Seperti program bimbingan perkawinan (Bimwin) yang bertujuan untuk melanggengkan tali perkawinan.

Ia menerangkan, program Bimwin tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang akan mendaftarkan nikah di KUA, tetapi juga bagi remaja, bahkan bagi pasangan yang sudah menikah.  Karena keluarga yang kuat, menurut Muharam adalah keluarga yang mampu mewujudkan konsep keluarga ideal.

“Tujuannya agar masyarakat memiliki kesiapan mental dalam menjalani kehidupan berumah tangga, sebab tantangan kehidupan berumah tangga memang tidak mudah,” jelasnya. (nas)



Apa Pendapatmu?