Kasus Stunting terus Bermunculan, Saatnya Remaja Berperan Aktif

indopos.co.id – Stunting masih menjadi isu besar di Indonesia. Upaya menurunkan angka stunting terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, pemerintah maupun swasta. Remaja adalah kelompok usia potensial yang bisa dilibatkan dalam berbagai program pencegahan stunting sejak dini.

Dijelaskan Indiana Basitha, selaku Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation, salah satu misi mereka adalah setiap anak mampu mencapai penuh potensi belajarnya. Mencegah stunting menjadi fokus yang pertama untuk mencapai misi tersebut.

”Kami berupaya memaksimalkan potensi tumbuh kembang sesuai usia anak. Karena kami yakin setiap anak bisa memiliki perkembangan otak yang pesat,’’ jelas Basitha dalam seri webinar ”Saatnya Remaja Cegah Stunting”, Rabu (26/8) lalu.

Mengapa remaja perlu dilibatkan dalam edukasi ini? Menurutnya, banyak yang menyangka isu stunting hanya untuk orang tua dan pasangan yang sudah menikah. Padahal sebenarnya stunting adalah sebuah siklus. Jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaja ia beresiko punya anak kurang gizi dan si anak nantinya akan mencontoh pola makan ibunya dan terus berputar.

Baca Juga :

”Siklusnya dimulai sejak remaja putri. Maka masalah stunting harus jadi awareness sejak remaja agar mereka menjaga asupan gizinya. Karena dia adalah calon orang tua,’’ bebernya. Remaja belum aware pentingnya gizi dan stimulasi yang tepat. Pengetahuan mereka sangat terbatas tapi kelak mereka harus menikah, hamil, dan jadi ibu.

Melinda Mastan, salah satu penerima Tanoto Scholars angkatan 2017 menambahkan, penting untuk melibatkan remaja dalam penanggulangan stunting karena beberapa alasan. Pertama, remaja berada di garis depan dalam inovasi dan agen perubahan.

”Saat ini eranya diambil alih oleh anak muda. Banyak inovasi dikembangkan anak muda yang sudah memulainya sejak remaja. Dari merekalah inovasi lahir karena mereka masih memiliki semangat, idealisme dan kreativitas tinggi,’’ jelas sarjana Gizi dari FKUI ini. Oleh karena itu, lanjutnya, remaja bisa menjadi pintu masuk untuk pengembangan program.

”Remaja juga calon orang tua masa depan. Penelitian menyebutkan, status gizi ibu akan berpengaruh pada anaknya. Status gizi ibu ini sudah dibangun sejak mereka remaja, sehingga perilaku dan kebiasaan hidup yang sehat sudah harus dibangun sejak remaja,’’ tambahnya.

Pengamat kesehatan dr Reisa Broto Asmoro juga sependapat bahwa jika di masa remaja belum dapat ilmu tentang gizi, akan sulit ke depannya dalam kehidupan keluarga. ”Indonesia darurat stunting. Kita butuh gerakan yang nyata agar bisa mengubah kondisi ini. Kondisi anak sudah stunting tidak bisa berubah. Justru yang penting bagaimana kita harus menyelamatkan generasi setelahnya,’’ ajaknya.

Menurut Reisa, saat ini tidak ada ilmu parenting di sekolah. Paling hanya kesehatan reproduksi. ”Oleh karena itu sudah seharusnya pemerintah memasukkan ilmu ini di masa remaja yang sedang ingin tahu segala sesuatu, apalagi di masa pubertas. Kalau tidak punya pengetahuan, mereka nggak akan siap saat harus merawat anak,’’ ulasnya.

Edukasi di usia remaja, tambahnya, sejak usia 10-19 tahun adalah masa krusial.

”Harus tepat informasinya. Apalagi Indonesia kebanyakan mitosnya yang belum tentu benar tapi lebih dipercaya. Takutnya info yang kurang tepat akan mereka bawa terus sampai nanti punya anak,” ujarnya. (dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.