Alexa Metrics

Peluang COVID-19

Peluang COVID-19

oleh : Ariyanto Pemimpin Redaksi Harian INDOPOS

indopos.co.id – Mungkinkah berwisata di masa pandemi COVID-19? Mungkin saja. Tapi cara berwisatanya sudah berubah. Sekarang lebih privat. Tidak bisa ramai-ramai lagi. Berkerumun banyak orang. Di tempat tertutup. Pilihan destinasinya pun berubah. Orang sekarang lebih memilih wisata alam. Di areal terbuka. Bisa menghirup udara segar.

Kalau pun harus menginap, wisatawan kini lebih memilih model glamping atau glamorous camping. Perkemahan modern dengan menggabungkan esensi alam dan fasilitas ’’mewah’’. Semua tersedia di situ. Televisi, kamar mandi di dalam, toilet, air panas, kulkas, lemari, dan perabotan ala hotel bintang lima. Wisatawan bisa melihat gemerlap bintang dan pendar cahaya bulan dari tempat tidur. Sensasional.

Makan pun diantar ke kamar. Tidak model buffet lagi. Ala pesta maupun restoran yang meletakkan makanan pada meja panjang dan pengunjung mengambil sendiri menu yang diinginkan. Bahkan, kolam renang pun disediakan secara privat. Tergantung tipe penginapan yang dipilih. Setiap lokasi menawarkan pengalaman berbeda. Ada pemandangan perkebunan teh, danau, atau perkotaan.

’’Tsunami’’ pengunjung itu sudah terjadi. Tempat-tempat glamping di Bandung Raya, Jawa Barat, misalnya. Sudah full booked. Habis dipesan hingga Maret 2021. Sebut saja di Glamping Lake Side Rancabali, Ciwidey, atau di Legok Kondang.

Indonesia memang kaya potensi alam. Pesonanya luar biasa. Glamping hanya salah satu. Masih banyak wisata alam di daerah yang bisa dikembangkan. Ada sekitar dua jutaan hektare. Dimanfaatkan sepuluh persennya saja sudah dahsyat.

Animo masyarakat untuk mengelola wisata alam sangat besar. Namun sebagian merasa birokrasinya terlalu panjang. Regulasinya pun dinilai ribet. Memang harus ada kemudahan, baik dari pemda setempat maupun kementerian terkait. Namun tetap tidak menyalahi aturan dengan tetap menjaga kelestarian alam.

Indonesia saat ini punya 54 taman nasional. Enam di antaranya Situs Warisan Dunia. Sembilan taman bagian dari Jaringan Cagar Biosfer Dunia. Lima taman merupakan lahan basah yang secara internasional dilindungi Konvensi Ramsar. Sebanyak 9 taman didominasi perairan.

Indonesia juga punya setidaknya 118 unit taman wisata alam (TWA). TWA termasuk ketegori hutan konservasi. Bersamaan dengan taman nasional, taman hutan raya, suaka margasatwa, dan taman buru.

Namun, masih ada beberapa wisata alam di Indonesia yang pengelolaannya masih kurang baik. Yang membuat tempat wisata tidak berkembang. Padahal, jika dikelola dengan baik, sektor ini bisa menjadi pendapatan terbesar kedua setelah pajak.

Wisata alam harus bisa menumbuhkan perekonomian dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat sekitar. Mereka harus mendapatkan manfaat. Bisa dilibatkan dalam ketenagakerjaan, pembuatan souvenir, maupun menampung produk-produk hasil pertanian warga. Sekaligus turut menjaga kelestarian alam.

Kelestarian alam tidak bisa ditawar lagi. Sebab, wisata alam, modalnya ya keindahan alam itu sendiri. Keindahan yang diciptakan Tuhan. Jika alam rusak, maka jelas tidak indah. Karena tidak indah lagi, maka wisata alam sudah tidak menarik lagi. Bahayanya lagi, kerusakan alam tentu akan membawa dampak buruk bagi kehidupan makhluk.

Karena itu, perlu ada kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian alam. Baik pengelola maupun pengunjung wisata alam. Hal itu bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, pengelola tidak menggunakan plastik. Baik botol plastik atau sedotan plastik. Kemudian menggantinya dengan tumbler, gelas kayu, sedotan kertas atau kayu.

Makanan yang disajikan pun harusnya yang nonpestisida. Supaya tidak merusak alam dan menyehatkan badan. Perlu dipikirkan juga bahwa di areal wisata alam harus steril dari polusi kendaraan. Misalnya, mobil pengunjung berhenti di luar pintu masuk dan disediakan parkir yang representatif di sana. Selanjutnya, pengunjung dijemput mobil listrik atau berbahan bakar ramah lingkungan lainnya.

Pengunjung pun perlu diedukasi dan diawasi. Agar tidak membuang sampah sembarangan atau puntung rokok. Pada 2019 lalu, hutan seluas 36 hektare di kawasan wisata alam Kawah Putih Ciwidey terbakar gara-gara ada pengunjung membuang puntung rokok sembarangan. Wisata alam primadona masyarakat itu pun akhirnya ditutup dan kembali dibuka belum lama ini.

Jika modelnya seperti ini, taman wisata alam akan menjadi wisata alam sesungguh-sungguhnya. Tidak hanya dinikmati, untuk senang-senang, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun juga harus menyayanginya dengan menjaga kelestariannya. (*)



Apa Pendapatmu?