Alexa Metrics

Bermanfaat Ketimbang ‘Tidur’, Warga Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Sayur

Bermanfaat Ketimbang ‘Tidur’, Warga Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Sayur Aparat bersama warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, memanfaatkan lahan tidur untuk berkebun sayuran. (Foto: Iqbal/INDOPOS)

indopos.co.id – Ketakutan warga Komplek Perumahan Bukit Mas terhadap ular dan anjing liar. Lahan tidur seluas 8.000 meter persegi diareal komplek itu pun disulap oleh warga setempat menjadi kebun sayuran.

Jauh sebelum pandemi COVID-19 menghantam Ibu Kota Jakarta, Warga telah mempersiapkan lahan tidur agar bermanfaat.Hal itu terungkap ketika INDOPOS tak sengaja bertemu Lurah Bintaro Satia.

Ia menuturkan, kebun sayur yang berlokasi di Jalan Pahlawan, RT 03/15, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sebelumnya adalah lahan kosong.

“Jadi mulanya warga takut kalau lahan kosong itu jadi sarang ular dan banyak anjing liar nantinya, maka dibuatlah kebun sayuran yang bermanfaat bagi orang lain itu,” ujar Satia, beberapa waktu lalu.

Lahan seluas sekitar 8.000 meter persegi itu terbagi atas dua bidang lahan. Kini, diberikan nama ‘Kebun Berseri’. Bahkan, warga sekitar telah menyetujui penggunaan lahan itu. Hasil panen sudah dirasakan oleh warga beberapa kali.

Tentunya menambah pendapatan warga yang ikut mengelola. “Kas yang ada saat ini sekitar Rp8,6 juta, kan lumayan ada yang dihasilkan. Uang digunakan untuk membeli bibit tanaman sayur. Diputar lagi,” ungkap pria berusia 52 tahun itu.

Sepengetahuan Satia, pengembangan kebun sayur dibantu juga oleh personel PPSU sejak tahun 2017. Lahan ditanami sejumlah sayur mayur. Menjadi hijau, segar dan enak dipandang mata.

“Panen rutin setiap minggu, sayur mayur bergantian yah,” ungkap dia.

Dia menjelaskan, kebun sayur tersebut ditanami antara lain, pohon cabai, kacang-kacangan, sawi, bayam, tomat, pakcoy. “Seperti panen kacang tanah sudah digarap seluas 300 meter menghasilkan sebanyak 150 kilogram kacang tanah,” beber Satia.

Kacang hasil panen dijual kepada warga sekitar. Warga pun bisa berkunjung ke kebun untuk panen sendiri secara bebas. Kemudian ditimbang kepada pengelola dan dibayarkan sesuai dengan jumlah yang dipanen oleh warga.

Satia juga berharap bisa maksimal dalam melayani masyarakat. Di antaranya dengan menggali potensi yang bermanfaat bagi warga.

“Masyarakat itu intinya ingin dilayani, kita kan pelayan masyarakat dan diarahkan,” tutur bapak beranak tiga itu. Sebelumnya, Satia juga pernah menginisiasi Kampung Iklim dan Kampung Warna Warni di Lenteng Agung, Jagakarsa.

Ia pernah menjabat sebagai lurah Tanjung Barat, Pasar Minggu, sekretaris camat Pasar Minggu, lurah Lenteng Agung, dan lurah Bintaro sampai saat ini.

Di sisi lain, Ketua DPD Pemantau Kinerja Aparatus Negara (Penjara) DKI Jakarta Agus Firmansyah berharap, seluruh pamong seperti lurah, camat, wali kota, dan gubernur bisa serius dalam memanfaatkan potensi di lahan kosong atau lahan tidur. “Lurah yang seperti itu patut ditiru, bisa memberdayakan masyarakat,” imbuh dia.

Pada masa pandemi COVID-19, tambah Agus, berpengaruh terhadap kondisi pereknomian warga yang berdampak terhadap daya beli kebutuhan pokok.

“Bila pemanfaatan lahan tidur bisa maksimal, setidaknya untuk mendukung kebutuhan pokok warga. Bagi warga yang iku mengelola dapa tambahan penghasilan, warga lainnya mudah dan murah untuk dapat sayuran segar,” tukas Agus. (ibl)



Apa Pendapatmu?