Alexa Metrics

Petani Keluhkan Kondisi Ekonomi Buruk, Sandi Uno Ungkap Solusinya

Petani Keluhkan Kondisi Ekonomi Buruk, Sandi Uno Ungkap Solusinya mdo

indopos.co.id – Pandemi virus corona atau covid-19 berdampak langsung pada lesunya perekonomian nasional. Bagaimana tidak, termasuk sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), khususnya bidang pertanian.

Keluhan tersebut diungkapkan Founder OK OCE Indonesia, Sandiaga Uno seperti yang dirasakan Sumariati, petani tomat dan bawang asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTT).

Sumariati disampaikan Sandi mengeluhkan nasib ribuan petani tomat dan bawang di Lombok Timur yang merugi karena harga jual komoditas yang murah saat musim panen.

Menurutnya, masalah yang kini dialami masyarakat harus dihadapi dengan kepala dingin.

Pelaku usaha diharapkannya tidak saling menyalahkan, tetapi bijak menghadapi masalah lewat sistem perdagangan yang sederhana, terbuka dan berkeadilan.

Sistem tersebut disebutnya Kegerus.

Kegerus merupakan akronim Keroyok, Gerilya, dan Urai satu-satu.

“Keroyok, kita harus mampu menyelesaikan masalah ini, selesaikan dengan satu konsep distribusi sederhana, terbuka dan berkeadilan,” ungkap Sandi dalam Webinar bersama OK OCE Indonesia dan Agricon Indonesia bertajuk ‘Strategi Bisnis Pertanian di Tengah Pandemi bagi UMKM’ pada Sabtu (29/8/2020).

“Gerilya, datang ke tempat langsung, sedangkan Urai satu-satu masalahnya, duduk bersama dan selesaikan,” tambahnya.

Selain itu, Sandi berharap adanya inovasi dan sinkronisasi dari para pelaku usaha.

Misal, petani tidak lagi menjual komoditas mentah ke pasar, tetapi mengolah hasil panennya terlebih dahulu guna meningkatkan nilai ekonomis produknya.

Langkah tersebut disampaikannya seperti yang dilakukan Imel, pemilik sambal kemasan merek Bu Kribo.

Sambal yang semula merupakan pelengkap makanan khas tradisional diangkat potensinya dengan dikemas secara khusus.

“Mungkin sambel bisa diolah menjadi sambal taliwang, adanya ghost kitchen bisa bekerjasama dengan petani di Lombok Timur,”.

Sedangkan, keluhan para petani di Brebes Selatan, Bumiayu, Jawa Tengah yang mengeluhkan tidak lakunya produksi brokoli, kubis dan hasil panen lainnya dijawab Sandi sederhana.

Solusinya dengan menghadirkan kampung berbasis agrowisata.

“Nanti bisa saja di-branding Bumiayu kampung apa, misalnya? dimulai dengan membuat rangkaian bercocok tanam, menginap satu hari, ada freshmart-nya menjual kebutuhan bawang merah, brokoli, kubis, wortel bisa dikemas,” ungkap Sandi.

“Ini pariwisata era baru, karena kita tidak boleh dalam ruangan, tapi pariwisata berbasis alam,” tambah Sandi.

Ciptakan Ketahanan Pangan

Inovasi dan pengembangan bisnis yang dilakukan UMKM ditegaskan Sandi dapat membangun ketahanan pangan dari lingkup keluarga.

“Kita jangan sampai ketinggalan jaman, ayo bergerak ke pangan hadirkan inovasi pangan dari hulu ke hilir,” ungkap Sandi.

Langkah tersebut dijelaskan Sandi merujuk fakta yang menyebutkan Indonesia merupakan negara yang sangat rentan pada harga pangan, imbas impor yang cukup tinggi.

Jumlah impor Indonesia tercatat sebesar 50 persen dari kebutuhan nasional.

“Tanah kita subur, petani kita rajin sekali. Kita harus hadirkan ketahanan pangan,” imbuh Sandi.

“Dengan pandemi ini kita harus mengkonsumsi berbasis needs (kebutuhan), yang tadinya berbasis wants (permintaan),” tambahnya.

Ketahanan pangan ditegaskan Sandi dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan.

Seperti di lingkungan rumahnya yang kini dibangun Selong Farm.

Masing-masing warga Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan katanya menanam sayur mayur di halaman rumah.

Kesadaran yang dimulai dari rumah kemudian diterapkan di lingkup RT, RW, hingga ke tingkat desa, kabupaten dan kotamadya.

“Lipat Gandakan kapasitas produksi pangan lokal, gimana caranya lokal ditingkatkan dalam benih, lahan, pupuk yang baik. Digitalisasi digunakan dalam peningkatan produksi,” ungkap Sandi.

“Perkaya food mix kita dengan bahan baku asli Indonesia, terutama ikan. Gunakan teknologi, ciptakan green jobs untuk generasi muda,” pungkasnya. (mdo)



Apa Pendapatmu?