Alexa Metrics

Pemkab Muba Maksimalkan Penggunaan Aspal Karet

Pemkab Muba Maksimalkan Penggunaan Aspal Karet Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex (kiri).

indopos.co.id – Produksi karet menjadi aspal untuk jalan terus digeber Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

“Kita ingin semua infrastruktur jalan di Muba menggunakan aspal karet, dan Muba telah menjadi pelopor di Indonesia ini,” tegas Bupati Muba Dodi Reza Alex, Jumat (28/8/2020).

Menurut dia, Muba menjadi kabupaten pertama pengguna teknologi berbahan karet untuk aspal. Hal itu memberikan pengaruh positif untuk mendongkrak harga karet di negeri ini.

Pembangunan aspal karet di Kabupaten Muba dilakukan di Desa Mulyorejo, B4 Kecamatan Sungai Lilin pada tahun 2018 lalu. Di desa ini jalan sepanjang 465 meter kini telah rampung dibangun. Pembangunan ruas jalan mampu menyerap karet rakyat sejumlah 8,49 ton.

Tahun 2019 Muba kembali membangun infrastruktur jalan dengan Inovasi Aspal Karet yakni beberapa ruas rumah dinas bupati -Sp.AMD – SD Model untuk di Kota Sekayu.

Lalu di Kelurahan Babat yakni dari Sp.KUD Trijaya – Tanjung Agung. Jumlah total jalan aspal karet adalah Sekayu 2 ruas, Babat 1 ruas, Lais 1 ruas dengan total panjang jalan keseluruhan 5 kilometer.

“Biaya pembangunan jalan ini diambil dari hadiah penghargaan kementerian PUPR sebesar Rp20 Milyar,” jelas Dodi

Di Sekayu ruas jalan lainnya yang dibangun ialah jalan Ahmad Dahlan (dalam kota Sekayu) sepanjang 400 meter dengan lebar 12 meter. Untuk pemeliharaan ruas jalan Desa Teladan- simpang Supat sepanjang 8 km dan peningkatan jalan simpang Pauh- Beji Mulyo sepanjang 3 km.

Upaya Muba direspon Pemerintah Pusat lewat Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat). Selain hadiah berupa hadiah peningkatan jalan di jalur utama Sekayu yakni jalan Kolonel Wahid Udin, Kementerian PUPR menganggarkan Rp100 miliar rupiah untuk pembelian karet rakyat. Langkah Kementerian PUPR ini buah dari instruksi Presiden untuk menopang kelangsungan petani karet Indonesia.

Lebih lanjut Dodi mengatakan, Muba sudah mulai menerapkan pembangunan jalan menggunakan teknologi pembangunan aspal hotmix menggunakan campuran Serbuk Karet Alam Teraktivasi (SKAT). Saat ini Muba kembali melakukan inovasi berupa aspal karet campuran latek pekat. Sumber utama juga karet rakyat.

“Kalau inovasi ini diterapkan di seluruh jalan baik jalan kabupaten, jalan provinsi dan jalan negara di Indonesia maka serapan karet rakyat akan lebih banyak. Kami yakin cara ini akan mendongkrak harga karet petani kita. Lambat laun ketergantungan karet di pasar internasional bisa lepas dengan sendirinya,” jelas Dodi.

Pemkab Muba Maksimalkan Penggunaan Aspal Karet

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex (duduk ketiga kiri)

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Muba, Herman Mayori, mengatakan alur industri dari karet petani menjadi bahan aspal siap pakai menjadi fokus Muba di tahun 2020 ini. Apalagi dua instalasi yang ada saat ini yakni di Lampung dan Jambi bakal tak beroperasi.

“Pabrik yang di Muba akan jadi satu-satunya yang ada di Sumatera. Ini pasar yang sangat menjanjikan bagi petani karet Muba,” ujarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Muba Akhmad Toyibir optimistis ekonomi petani karet akan membaik. Pertama, kini petani sudah berkelompok di UPPB sehingga harga lebih terjamin. Menurutnya, jumlah UPPB di Muba saat ini terbanyak di Indonesia.

“Sudah ada 80 UPPB di Muba lebih dari 75 UPPB sudah teregister dan punya STR. Kita lagi merancang sistem pelelangan di UPPB sistem digital yakni 1 penawar 1 user ID. Di karet ini sepanjang perjalanan dari awal pembentukan UPPB sampai saat ini para pelelang sudah mengetahui kualitas karet masing-masing UPPB. Di masa Pandemi seperti saat ini lelang karet sangat memungkinkan secara virtual,” jelas Ibir.

Meski Ibir tetap mendorong para petani memproduksi getah berupa bokar yang dilelang di UPPB, dirinya berupaya agar petani merubah hasil akhir bokar ke lateks kebun.

“Harga kateks kebun berkali lipat dibanding bokar, proses cepat dan ada pasarnya. Ini yang terus kita sosialisasi kan agar petani mau produksi lateks pekat,” pungkasnya.

Perbandingan harga lateks pekat yang mencapai 16 ribu rupiah per kg sangat tinggi dari harga bokar padat yang saat ini maksimal diangka Rp9 sampai Rp10 ribu rupiah/kg.

Roizin, salah satu Kepala Bidang yang membidangi di Dinas Perkebunan Muba menyebutkan, karet rakyat diolah oleh pabrik crum rubber menjadi sir 20 dan 70 persen digunakan untuk industri ban.

Dan sisanya untuk industri lain seperti separepart, busa, sandal, sepatu, bantalan dan lain lain.

“Sedangkan khusus untuk aspal karet, Muba yang masuk ke dalan Satker Wilayah 1 dialokasikan Rp5,2 miliar untuk pembelian karet rakyat lewat lelang karet di UPPB yang diikuti Kementerian PUPR. Sistem pembelian dengan cara lelang tertutup dan penawaran tertinggi jadi pemenang,” pungkasnya.(dai)



Apa Pendapatmu?