Alexa Metrics

Positif COVID-19 Bertambah 2.858 Kasus, Paksa Saja Pakai Masker

Positif COVID-19 Bertambah 2.858 Kasus, Paksa Saja Pakai Masker oga Mikeladze dan Lisa Kavtaradze yang menunggu upacara pernikahan mereka selama 2 bulan saling berpelukan dengan mengenakan masker di Tbilisi pada 19 Juni 2020 lalu. (Foto: Vano SHLAMOV / AFP)

indopos.co.id – Kurva penambahan kasus positif COVID-19 belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Bahkan, berdasarkan laporan harian COVID-19 yang dirilis Satgas Penanganan COVID-19 pada Minggu pukul 12.00 WIB menunjukkan penambahan konfirmasi positif mencapai 2.858 kasus.

DKI Jakarta kembali mencapai rekor tertinggi sebanyak 1.114 melampaui hari Sabtu sebanyak 888 kasus. Dengan penambahan itu, total konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia menjadi 172.053 kasus dan total kasus meninggal akibat COVID-19 menjadi 7.343 orang.

Semua bergerak mencegah penyebaran Virus Corona ini. Di Provinsi Aceh misalnya. Sejumlah ulama kharismatik melahirkan rekomendasi penanganan COVID-19 untuk membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemik yang kini terus menjangkiti.

Rekomendasi tersebut ditandatangani dalam Muzakarah Ulama Kharismatik Aceh di Banda Aceh oleh sejumlah ulama seperti Teungku Nuzzahri (Waled NU), Abu Yazid Al-Yusufy, Waled Tgk H Muhibuddin, Teungku Haji Faisal Ali, Teungku Haji Daud Hasbi, Abu Madinah, Teungku Haji Muksalmina A Wahab, Abu Mekkah serta sejumlah ulama kharismatik lainnya.

’’Rekomendasi ini bertujuan membantu Pemerintah Aceh dalam menanggulangi wabah pandemi COVID-19 di Aceh, sesuai peran ulama,’’ kata salah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Teungku Haji Faisal Ali yang dihubungi dari Meulaboh, Minggu (20/8).

Ada pun rekomendasi yang dilahirkan tersebut di antaranya mengimbau kepada seluruh umat muslim di Aceh agar senantiasa selalu berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari segala penyakit. Kemudian mengimbau masyarakat mengonsumsi makanan halal, menghindari segala jenis maksiat dan perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah SWT.

Para ulama juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Aceh agar menjaga protokol kesehatan dengan memakai masker saat berada di luar rumah, menghindari keramaian, menjaga jarak dengan orang lain, sering mencuci tangan dengan sabun dengan air yang mengalir.   

Para ulama juga meminta kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas protokol kesehatan di setiap ruang publik seperti di sekolah, dayah pesantren, pasar dan rumah ibadah serta sarana publik lainnya.

Pemerintah Aceh juga diminta agar membatasi waktu operasional warung atau lokasi wisata dan tempat berkumpulnya masyarakat, agar penyebaran pandemi COVID-19 dapat segera teratasi.

Jika ulama di Aceh salah satunya merekomendasikan penerapan protokol kesehatan, Kementerian Kesehatan mengampanyekan disiplin memakai masker. Supaya masyarakat terhindar dari penularan COVID-19. Yang umumnya melalui cairan tubuh. Keluar dari hidung atau mulur seseorang yang terinfeksi.

’’Hari ini masker dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Koordinator Perekonomian dibagikan kepada masyarakat yang ada di Gelora Bung Karno,’’ kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Kampanye Pakai Masker dilakukan pada 10 Agustus 2020 hingga 6 September 2020, yang akan dilanjutkan dengan kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun pada 7 September 2020 hingga 6 Oktober 2020 dan Kampanye Jaga Jarak pada 7 Oktober 2020 hingga 6 November 2020.

Kampanye tersebut juga dilakukan dinas kesehatan provinsi, Unit Pelayanan Terpadu Kementerian Kesehatan hingga politeknik kesehatan di seluruh Indonesia. Masker yang telah dibagikan sejak 25 Agustus 2020 hingga Minggu telah mencapai 1 juta buah.

’’Upaya untuk mencegah penularan COVID-19 adalah dengan menerapkan perilaku hidup sehat, yaitu selalu memakai masker, mencuci tangan memakai sabun, dan menjaga jarak,’’ kata Oscar.

Memakai masker merupakan salah satu upaya penting mencegah penularan, terutama ketika berada di kerumunan atau berdekatan seperti di pasar, stasiun, kendaraan umum, dan tempat-tempat umum lainnya.

Karena COVID-19 umumnya menular melalui cairan tubuh yang keluar dari hidung atau mulut seseorang yang terinfeksi, masker dapat menghalau percikan air liur yang keluar saat berbicara, menghela nafas, batuk, atau bersin.

Selain Kementerian Kesehatan, kampanye tersebut juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Sementara itu, Dokter ahli penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar Muda, Nagan Raya, Aceh, Edi Hidayat meminta masyarakat memakai masker sebagai perlindungan diri saat beraktivitas di luar rumah.

“Jangan menunggu sakit atau orang lain sakit baru memakai masker, memakai masker tidak merendahkan martabat kita. Memakai masker itu tujuannya melindungi diri kita dan

orang lain di sekitar kita,’’ kata Edi Hidayat di Meulaboh, Minggu.

Dia menjelaskan bahwa COVID-19 tidak diketahui secara pasti di mana berada, karena virus ini bisa saja terdapat pada percikan air liur, orang bersin, atau batuk.

Edi Hidayat menegaskan, daya tahan tubuh seseorang juga terbatas karena ada saatnya imun seseorang turun, sehingga akan mempermudah virus itu masuk melalui saluran pernapasan dan bisa menyebabkan kematian.

Kalau pun imun seseorang terlalu kuat, jika paparan virus terjadi secara terus-menerus, juga akan merusak daya tahan tubuh seseorang. Menurutnya, yang saat ini dikhawatirkan adalah jika penyebaran Virus Corona ini tidak lagi terkontrol, maka akan menjadi eskalasi (penambahan) kasus sehingga semua orang bisa saja terpapar tanpa memandang kasta usia atau pun profesi seseorang.

Akibatnya, masyarakat akan kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, bahkan bisa terjadi kematian sia-sia di mana-mana.

’’Saat ini sudah ada pelayanan di rumah sakit yang tutup karena dokter, perawat dan paramedis lainnya sudah terinfeksi semuanya, sehingga kalau ada masyarakat yang

terkena COVID-19, siapa yang menolong,’’ katanya menambahkan.

Karena itu, kata dia, tidak jaminan antara usia muda dan tua, antara imun kuat dan jelek di tengah pandemi saat sekarang ini.

’’Jangan tunggu kita sakit dulu atau orang lain sakit, baru pakai masker,’’ katanya.

Meski sudah banyak rekomendasi soal penggunaan masker. Kampanye pakai masker pun sudah digencarkan di mana-mana. Nasihat dokter pun digaungkan nyaring. Nyatanya masih banyak masyarakat yang tidak mengenakan masker. Entah karena ketidaktahuan atau mungkin menyepelekan. Barangkali, soal penggunaan masker atau protokol kesehatan ini perlu menggunakan tangan besi. Paksa saja pakai masker. Jika ada yang melanggar taruh saja di tengah hutan. (nas/ant/cok)



Apa Pendapatmu?