Alexa Metrics

Menkop UKM Fasilitasi Koperasi Nelayan dengan Perusahaan Perikanan

Menkop UKM Fasilitasi Koperasi Nelayan dengan Perusahaan Perikanan IMG-20200831-WA0001

indopos.co.id – Pemerintah melalui Menteri Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Tetan Masduki menfasilitasi kerja sama koperasi nelayan dengan pengusaha perusahaan perikanan. Kerja sama itu diharapkan dapat meningkatkan kegiatan ekonomi di sektor kelautan serta memudahkan kepastian pasar dan pembiayaan bagi nelayan.

“Kami membicarakan konsep kemitraan antara koperasi nelayan dengan perusahaan yang akan membeli hasil produk tangkapan nelayan,” jelas Teten saat mengunjungi fasilitas cold storage milik Cahaya Bahari Jakarta (CBJ) di Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (31/8/2020).

Teten menjelaskan kementerian berkepentingan untuk membangun koperasi pangan salah satunya adalah koperasi di sektor kelautan atau perikanan. Dengan adanya koperasi, diharapkan mengurangi usaha perorangan.

“Koperasi di bidang perikanan baru 2,4 persen atau sekitar 2 ribu koperasi se Indonesia,” ujar Teten.

Menurut Badan Pusat Statistik, pada triwulan II tahun ini, nilai ekspor hasil perikanan Indonesia mencapai USD 2,41 miliar (angka Juni) atau tumbuh 6,88% apabila dibandingkan dengan capaian triwulan II tahun 2019(yoy) sebesar USD 2,25 Miliar.

“Pengusaha punya akses pasar ekspor, koperasi punya anggota para nelayan yang bisa memasok produk. Memang yang dibutuhkan adalah jembatan sinergi. Nah, kami yang akan menjadi jembatan itu,” ujar Teten.

Menurut Teten, fasilitasi dari Kemenkop UKM sangat beragam, mulai dari pembinaan teknis, kredit murah, bahkan adopsi sistem resi gudang kesektor perikanan.

“Bahkan di masa pandemi ini, menurut FAO (Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian) tingkat konsumsi ikan dunia tetap tumbuh dibanding sumber protein hewani yang lain. Ini peluang yang harus kita sambut,” ujar Teten, sambil menambahkan bahwa sekitar 65 persen pelaku sektor perikanan laut adalah UKM yang membutuhkan dukungan pemerintah dan sinergi dengan pengusaha.

Menurut Teten, sinergi dengan perusahaan menguntungkan nelayan karena ada kepastian penyerapan, sekaligus membuat mereka bisa membuat perencanaan yang lebih baik.

Data BPS menunjukkan bahwa tiga besar tujuan utama ekspor hasil perikanan Indonesia adalah Amerika Serikat, China, dan Jepang. Pada triwulan II ini, dari sisi volume China menjadi negara tujuan terbesar dengan 193 ribu ton, sementara dari sisi nilai, Amerika Serikat menjadi negara terbesar dengan nilai USD 978 juta.

Komoditas yang memberi setoran devisa tertinggi pada kuartal kedua adalah udang dengan volume ekspor mencapai 116 juta ton dan nilai USD 954 juta. Udang menguasai hampir 40 persen komoditas ekspor hasil perikanan. Komoditas berikutnya adalah tuna-tongkol-cakalang senilai USD 338 juta dan cumi-sotong-gurita USD 221 juta.

Di kesempatan sama, mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pemerintah sejak dulu telah membuka pasar ekspor untuk hasil perikanan dari Indonesia.

Enggartiasto menjelaskan, negara tujuan ekspor yang telah mempunyai perjanjian kerjasama dengan Indonesia diantaranya Australia sebagai salah satu potensi pasar yang besar. Selain itu Cina dengan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif dari sekian banyak negara di dunia.

“Saya juga merekomendasika ekspor masuk ke benua eropa dan Jepang,” ujar Enggar yang juga penasehat CBJ.

Sementara itu Presiden Direktur CBJ Then Herry Yulianto mengatakan pihaknya telah lama membuka kerja sama dengan nelayan dan koperasi nelayan di sejumlah fasilitas operasinya. Fasilitas cold storage CBJ, dijelaskanm mampu menampung 60.000 ton itu menjadi persinggahan sebelum komoditas perikanan diekspor ke mancanegara. Proses penanganan dan pengemasan ikan merupakan upaya CBJ untuk menghasilkan produk perikanan untuk ekspor yang terjaga kualitasnya.

Selain kunjungan perusahaan, Teten dan jajaran Kemenkop UKM juga melakukan dialog dengan perwakilan koperasi nelayan di kawasan Angke dan sejumlah daerah, baik yang bergerak di bidang perikanan tangkap maupun budidaya.

Herry mengungkapkan pemintaan ekspor yang terus meningkat yang harus dijawab dengan kerja sama antara pengusaha dan nelayan berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

“Di sini pentingnya kerja sama nelayan dan perusahaan. Kami akan ajak nelayan mengikuti standar-standar internasional itu. Kehadiran Kemenkop UKM yang menaungi kelompok nelayan dan koperasi nelayan semakin memperkuat jembatan antara pengusaha dan nelayan,” jelas Herry. (yay)



Apa Pendapatmu?