Alexa Metrics

Damai, Lurah Benda Baru di Tangsel Bebas dari Jerat Hukum

Damai, Lurah Benda Baru di Tangsel Bebas dari Jerat Hukum

indopos.co.id – Lurah Benda Baru Saidun akhirnya bisa bernapas lega. Itu terjadi setelah Polres Tangerang Selatan (Tangsel) mengeluarkan surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terkait kasus pengrusakan fasilitas SMA Negeri 3 Tangsel.

Penghentian kasus itu lantaran adanya perdamaian yang disepakati oleh pelapor dan terlapor. Kasus penghentian penyidikan tersebut pun dinilai mencoreng wajah pendidikan di kota penyanggab ibu Kota Jakarta ini.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengatakan, diberhentikannya kasus pengrusakan fasilitas sekolah dengan pengajuan perdamaian dari pihak SMA Negeri 3 Tangsel dengan Lurah Benda Baru mambawa dampak tidak baik.

Yakni menjadi contoh buruk bagi keteladanan dunia pendidikan. Apalagi itu dilakukan atas dasar adanya kasus penitipan siswa oleh seorang aparatur sipil negara (ASN) yang menjabat sebagai lurah.

”Kasus damai ini bisa jadi preseden buruk bagi dunia pendidikan di Tangsel. Salah satu pendidikan karakter yang dikembangkan sekolah mengenai keteladanan. Ini nanti bisa ditiru pejabat lain dan dianggap hal yang biasa saja,” katanya, Minggu (31/8).

Dijelaskan Ubaid juga, kasus tersebut seharusnya dapat dilanjutkan oleh kepolisian bersama Pemkot Tangsel sesuai aturan hukum yang berlaku. Mengingat ada unsur kekerasan dan intimidasi yang dilakukan Saidun kepada pihak sekolah.

Apalagi Saidun telah menyalahgunakan wewenang sebagai lurah dengan cara memaksa siswa titipannya diterima oleh SMA Negeri 3 Tangsel.

”Dalil seperti ini yang selalu membuat proses hukum itu tumpul ke atas tetapi tajam ke bawah. Jadi ke depan tidak akan ada efek jera bagi si pelaku dan ini sangat tidak baik. Boleh saja berdamai tetapi harus ada tindakan jera agar tidak terulang lagi,” paparnya.

Menurutnya juga, dihentikannya proses hukum atas kasus teraebut dapat memicu orang lain untuk berbuat sama. Artinya, dengan dengan adanya proses perdamaian dengan permohonan maaf akan menghilangkan sebuah kesalahan fatal.

”Bisa saja ini dilakukan banyak orang nanti ke setiap sekolah di Kota Tangsel, karena mereka melihat tidak ada proses hukum. Itu kan bagian dari praktik tindakan koruptif di sekolah, dan model semacam ini bisa tumbuh subur,” ujar Ubaid lagi.

Diakui Ubaid juga, kasus yang dilakukan Lurah Benda Baru yang penyidikannya dihentikan tersebut dapat mencoreng dunia pendidikan sebagai wadah melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Bahkan, langkah perdamaian yang diputuskan pihak SMA Negeri 3 Tangsel ini lebih merujuk kepada tindakan koruptif. 

Dimana, titip menitip siswa dari oknum pejabat dianggap sebagai hal lumrah dan wajar. ”Harusnya ya diteruskan proses hukumnya, karena proses-proses perdamaian semacam ini pasti tidak fair. Ujung-ujungnya kita tahu kenapa sampai bisa damai. Garis besarnya ini menyangkut intitusi pendidikan,” ucapnya.

Kendati demikian, Ubaid menyarankan, Pemkot Tangsel dapat memberikan sanksi tegas bagi Saidun, kendati perdamaian itu telah terjadi. Sebab, dengan sanksi tersebut dapat membuktikan imstansi pemerintah daerah ini tegas dalam membina ASN yang berprilaku buruk. Sehingga di kemudian hari dapat menciptakan ASN yang berkualitas dalam melaksanakan tugas.

Seperti diketahui, pada Rabu (19/8), Polsek Pamulang menetapkan Lurah Benda Baru Saidun sebagai tersangka dalam kasus pengerusakan fasilitas sekolah. Penetapan status tersangka itu berdasarkan dua alat bukti yang di dapatkan penyidik kepolisian setelah melakukan gelar perkara.

Adapun dua alat bukti tersebut berupa pecahan kaca dari toples serta rekaman CCTV di ruangan Kepsek SMA Negeri 3. Namun belakangan polisi menghentikan kasus tersebut karena kedua belah pihak telah melakukan perdamaian dan pencabutan laporan.

Sementara, Kepala SMA Negeri 3 Tangsel Aan Sri Analiah mengaku telah mencabut laporan polisi terhadap Saidun ke Polsek Pamulang. Alasan pencabutan laporan dengan jalan perdamaian itu ditempuh lantaran Lurah Benda Baru ini telah menunjukkan iktikad baik.

Yakni dengan mengakui perbuatan tersebut dan telah meminta maaf secara berulang kali. ”Dalam setiap pemeriksaan di kepolisian dan Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Tangsel, beliau selalu minta maaf kepada,” terangnya.

”Selain itu juga ada pengakuan, dan kami juga ingin masalahnya cepat selesai. Makanya cara ini yang ditempuh yakni kekeluargaan saja. Tentu ini sangat kami hargai, makanya kami cabut laporan,” sambungnya juga. 

Kepala sekolah yang akrab disapa Sri ini juga mengatakan, pencabutan laporan tersebut telah dilakukan pihaknya satu pekan lalu. Perdamaian itu jug disertai nota kesepakatan antara kedua belah pihak yang ditandatangani dirinya bersama Saidun.

Saat ini nota perdamaian itu telah diserahkan ke penyidik Unit Reskrim Mapolsek Pamulang. ”Sudah selesai semua, memang nota kesepakatan perdamaiannya, sudah diserahkan ke polsek. Tidak perlu lagi ada dendam, karena berdamai itu lebih indah. Jika orang sudah mengakui kesalahannya tentu kita harus memaafkan itu,” imbuhnya.

Menanggapi itu, Kapolres Tangsel AKBP Iman Setiawan mengatakan penghentian sebuah kasus oleh penyidik kepolisian telah diatur oleh undang-undang. Dimana penghentian itu dapat dilakukan jika pelapor mencabut berkas laporan dan menyatakan sepakat berdamai. Seiring dengan hal itu  proses penyidikan pun dihentikan.
 

”Ada mekaniseme yang mengatur ini. Karena sudah berdamai dan ada pencabutan pengaduan. Walau bukan delik aduan tapi sudah tercapai rasa keadilan kedua belah pihak. Ini yang kami pertimbangkan untuk dihentikan penyidikan kasusnya,” tuturnya.

Ditambahkan Iman, perkara pengrusakan dan perbuatan tidak menyenangkan dalam kasus tersebut bukanlah delik aduan. Sebab unsur pidana dalam kasus ini tidak terbukti sengaja dilakukan. Apalagi, pihak sekolah pun tidak menerima siswa yang dibawa sang lurah untuk bersekolah di SMA Negeri 3 Tangsel.

”Rekan-rekan wartawan harus tahu jika ini bukan tindak pidana delik aduan. Jadi kami berhak, dan siapa saja berhak melaporkan dari suatu permasalahan kasus ini,” pungkasnya. (cok) 



Apa Pendapatmu?