Alexa Metrics

Mitigasi Kekeringan Harus Matang, Penanggulangan Butuh Waktu Jangka Panjang

Mitigasi Kekeringan Harus Matang, Penanggulangan Butuh Waktu Jangka Panjang Sebagian areal Situ Gede mengering akibat kemarau, di Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (28/8). Banyak wilayah di Tanah Air kini juga mengalami kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/17

Indopos.co.id – Usaha mencegah kekeringan perlu dilakukan dengan perencanaan matang. Itu penting supaya tindakan pencegahan berjalan efektif dan berkelanjutan.

”Bersifat jangka panjang untuk memitigasi kekeringan dan krisis air bersih agar dapat berjalan dengan berkelanjutan,” tutur Pakar air tanah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng) Adi Candra MT, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jateng, Minggu (30/8).

Adi menjelaskan perlu kesadaran bersama untuk mencegah krisis air bersih. Air tetap bisa diakses tanpa harus mengalami pengurangan secara drastis.

”Masyarakat dapat berperan aktif dengan cara lebih bijak dalam menggunakan air sesuai kebutuhan. Selain itu, masyarakat juga dapat berperan menjaga keberadaan sumber-sumber air agar tidak hilang karena alih fungsi,” beber dosen teknik geologi Unsoed tersebut.

Upaya mencegah kekeringan dan krisis air bersih juga dapat dilakukan dengan meningkatkan ketersediaan sumber air. Peningkatkan ketersediaan sumber air bisa menjadi solusi jangka menengah untuk mengantisipasi kekeringan. Selain itu, bisa dilakukan dengan membangun sumur gali, sumur pantek, sumur air bor dalam, sumur resapan, dan embung.

”Upaya lain dengan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana air bersih,” ucap alumni Magister Teknik Air Tanah ITB itu. Kekeringan bilang Adi, juga dapat dicegah dengan penanggulangan jangka panjang.

Misalnya, dengan melakukan reboisasi kawasan sabuk hijau sekitar waduk. Kemudian rehabilitasi lahan dan konservasi tanah lahan kritis, pengelolaan hutan bersama masyarakat, dan pembangunan demplot sumur resapan di wilayah rawan kekeringan.

Selanjutnya, perlu upaya mitigasi terintegrasi untuk mencegah kekeringan dan krisis air bersih. Itu bisa dimulai pada saat musim penghujan. Kelebihan air tidak tertampung dalam sungai harus dialirkan ke tempat lain atau ditampung dengan berbagai cara.

Misalnya, bisa dibuatkan sumur-sumur resapan. Apabila topografi lingkungan membentuk mangkok, bisa juga dibuat embung-embung kecil. Selanjutnya, kalau ada bekas-bekas sumur, baik sumur gali dan sumur bor sudah tidak digunakan, dapat dimanfaatkan untuk penampungan air.

Bisa juga dengan memakai sistem panas air hujan atau berbagai upaya lain. Intinya pemilihan metode mitigasi air bersih dapat disesuaikan karakteristik wilayah masing-masing.

”Tent dengan mempertimbangan komplesitas di lapangan dan melakukan simplifikasi untuk bisa diterapkan dengan baik,” tegasnya.

Nah, dengan memanfaatkan kelebihan air pada musim penghujan, diharap dapat membantu menyiapkan cadangan air. Nantinya, air cadangan tersebut dapat dipergunakan pada musim kemarau. (ant)



Apa Pendapatmu?