Alexa Metrics

Asuransi di Masa Pandemi, Terkontraksi dan Rata-rata Anjlok

Asuransi di Masa Pandemi, Terkontraksi dan Rata-rata Anjlok Perusahaan asuransi memiliki banyak penawaran spesial selama Pandemi COVID-19. (Foto: Adrianto /INDOPOS)

indopos.co.id – Adanya Pandemi COVID-19 membuat bisnis asuransi jiwa terkontraksi. Akibatnya, pendapatan premi asuransi jiwa anjlok dan diperkirakan berlanjut sampai akhir tahun.

”Prediksi ke depan penurunan tetap terjadi tapi tidak terlalu besar. Kami harap kinerja stabil walaupun menurun,’’ ujar Kepala Departemen Hubungan Internasional Asosiasi Aasuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Nelly Husnayati dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (28/8) lalu.

Menurutnya, penyebab penurunan karena kemampuan masyarakat untuk membeli produk asuransi di masa pandemi merosot. Khususnya produk asuransi dengan premi tinggi. Meski demikian, pendapatan premi industri akan membaik karena perekonomian mulai bergeliat. Hal ini akan berdampak pada perbaikan bisnis asuransi di kuartal ketiga dan keempat tahun ini.

”Dari sisi positif, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi apalagi kesehatan makin meningkat. Jadi yang beli tetap banyak, tetapi (nilainya kecil) daya beli menurun. Ini jadi oportunity bagi agen asuransi jiwa untuk bisa lebih banyak beraktivitas menawarkan produk kepada masyarakat yang membutuhkan secara online,’’ jelas Nelly.

”Pertumbuhan premi asuransi jiwa masih mengalami kontraksi sebesar minus 10,69 persen dengan posisi Juni 2020 minus 10 persen,” terang Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso.

Sejalan dengan tren pertumbuhan premi yang memburuk, data OJK menunjukkan ukuran kesehatan industri asuransi dalam Risk Base Capital (RBC) inTerkontraksi dan Rata-Rata Anjlok Sektor Asuransi di Masa Pandemi dustri asuransi jiwa mengalami penurunan. RBC industri asuransi jiwa per Juli 2020 berada di angka 502 persen atau mengalami penurunan dari Juni 2020 di angka 688 persen. Selama berada di atas batas minimum 120 persen, industri asuransi masih bisa dikatakan sehat.

Meski demikian, tetap saja ada perusahaan yang mungkin memiliki RBC di bawah 120 persen. Namun, pertumbuhan asuransi umum dan reasuransi seperti kendaraan bermotor, rumah, hingga aset masih tercatat tumbuh positif. Per Juli 2020 t u m b u h 2,22 persen meski Juni 2020 sempat terkont r a k s i 2,32 persen. Sejalan dengan itu, RBC asuransi umum naik dari Juni 2020 yang berkisar 319 persen menjadi 321 persen di Juli 2020.

”Pertumbuhan premi asuransi umum dan reasuransi positif 2,22 persen setelah sebelumnya minus 2,32 persen,’’ katanya.

Hingga saat ini OJK mencatat industri asuransi telah menghimpun pertumbuhan premi senilai Rp23,1 triliun. Sekitar Rp13,7 triliun di asuransi jiwa dansisanya Rp9,4 triliun asuransi umum. AAJI sendiri terus mensosialisasikan pentingnya memiliki asuransi. Apalagi, kepemilikan asuransi bisa meningkatkan ketahanan ekonomi bagi keluarga masyarakat Indonesia.

Kepala Departemen Komunikasi AAJI Nini Sumohandoyo mengemukakan, data terkait ketahanan ekonomi keluarga masyarakat Indonesia berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh OJK. Data tersebut menyimpulkan sebanyak 32 persen masyarakat Indonesia, ketahanan ekonomi keluarganya hanya mampu bertahan selama satu bulan.

Dia melanjutkan, sebanyak 33 persen keluarga Indonesia ketahanan ekonominya mampu bertahan selama tiga bulan. Hanya 4,4 persen keluarga Indonesia yang ketahanan ekonominya mampu bertahan lebih dari enam bulan. Adapun total uang pertanggungan perorangan selama 2019 sebanyak Rp2.163,80 triliun. Jika angka tersebut dibagi dengan jumlah tertanggung individu, maka rata-rata uang pertanggungan yang dimiliki perorangan tersebut sekitar Rp121 juta.

”Apakah itu cukup? Kalau ambil contoh UMP (Upah Minimum Provinsi) Jakarta sekitar Rp4 jutaan, maka uang pertanggungan Rp121 juta itu dibagi Rp4 jutaan. Sehingga, hasilnya kurang lebih sekitar 30 bulanan atau setara 2,5 tahun,” bebernya.

Menurut financial planner, ungkap Nini, ekonomi keluarga yang mampu bertahan selama 2,5 tahun lebih dari cukup. Sebab ketahanan ekonomi keluarga tercukupi bila bertahan selama 18 bulan. ”Apakah 2,5 tahun itu cukup jika si tertanggung meninggal dunia? Ternyata, minimal kecukupan ketahanan ekonomi keluarga itu adalah 18 bulan,’’ urainya. (dew)



Apa Pendapatmu?