Alexa Metrics

Dampak Pandemi bagi Komunitas Pedagang Minang

Dampak Pandemi bagi Komunitas Pedagang Minang Seorang pedagang pakaian di Thamrin City, Jakarta Pusat. (Foto: Iqbal/INDOPOS)

indopos.co.id – Mampir Bu, Pak, cari apa… Baju Koko, Mukena, silahkan…, begitu terucap dari salah satu pedagang kios berukuran 2,5 x 2,5 meter persegi di kawasan pertokoan Thamrin City, lantai 1, Jakarta Pusat, yang masih sepi pengunjung itu.

Perempuan paruh baya, yakni Nurhayati, 67, asal Minangkabau, Kampung Sariak, Sungai Puar, Bukit Tinggi, Kab. Agam, Sumatera Barat, tetap energik berdagang busana muslim di Thamrin City, Jakarta Pusat. Dirinya tetap beraktivitas di masa pandemi COVID-19. Nurhayati merupakan salah satu anggota Komunitas Minang, Bundo Kanduang Peduli.

Nurhayati menuturkan, datang ke Jakarta pada 1976. “Jadi sudah 44 tahun tinggal di Jakarta, sudah beranak cucu. Setahun tiga kali pulang kampung,” ungkap perempuan paruh baya itu kepada INDOPOS.

Ibu dari 4 anak dan 4 cucu mengatakan, selama ini berjualan pakaian busana muslim. “Hingga anak saya juga berdagang di Thamrin City ini,” tutur dia sambil merapihkan baju koko dan hijab itu.

Dalam perjalanan hidupnya di Jakarta, warga perantauan Minang pun yang sesama nasib sepenanggungan bersamanya membentuk organisasi kecil yang diberi nama ‘Bundo Kanduang Peduli’.

“Di organisasi kecil itulah tempat berkumpulnya masyarakat rantau Minang yang tinggal di sebuah kampung kecil di Minangkabau. Gak ada 1000 orang lah. Kurang lebihnya segitu dan kami punya group Whatsapp juga,” ungkap dia.

Komunitas tersebut melakukan berbagai kegiatan. Seperti memberikan bantuan sosial, menyalurkan sembako dua bulan sekali. Sembako berisi beras 5 kilo, minyak, kopi, gula, supermi, teh, kecap juga uang Rp 100 ribu/orang disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

“Sembako itu kita kumpulkan dulu di Musalla Syuhada, Ciputat. Jika semua bantuannya sudah terkumpul baru kita salurkan kepada yang membutuhkan. Utamanya warga Minang yang kurang mampu,” ungkap dia.

Menurut dia, rutinitas kegiatan seperti bakti sosial itu sudah berjalan 25 tahun seiring berjalannya organisasi Bundo Kanduang Peduli. Terlebih di masa pandemi COVID-19 ini.

“Jadi sekarang anak-anak muda yang bergerak, yang mengumpulkan sembako itu. Seperti mengumpulkan beras sebanyak 20 kilo / 1 Kepala Keluarga (KK). Alhamdulillah selama pandemi ini sekitar 3 bulanan juga telah berjalan. Akhir Juni 2020 juga bantuan lumayan besar disalurkan. Tentunya itu pun dipilah lagi siapa yang benar-benar layak mendapatkan bantuan,” tutur dia.

“Sebelum lebaran Idul Fitri kemarin juga disalurkan sedekah, zakat dan sumbangan dalam jumlah yang cukup besar. Disalurkan untuk anak yatim piatu dan Warga kurang mampu,” tambah dia.

Nurhayati menuturkan, bila ada sisa dari sumbangan tersebut maka diwakafkan ke masjid yang ada di Kampung Syuhada, Sariak.

“Kami juga ada perkumpulan arisannya. Sesama pedagang yang sesama satu kampuang rantau Minang di Jakarta,” tambah dia.

Pada umumnya, sambung dia, sebanyak 80 persen pedagang asal Minang berjualan di Thamrin City dan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat dan di Jalan Surabaya, Ir. Juanda, Ciputat. “Kita itu sudah seperti Multi Level Marketing (MLM), ada sekitar 250 kios,” ucap dia.

Ia pun menceritakan pandemi COVID-19 yang menghantam para pedagang, tak terkecuali di Komunitas Keluarga Minang. “Otomatis sangat terpukul para pedagang yang tergabung dalam Komunitas Keluarga Minang ini. Yang jelas terdampak, kan kita 100 hari kios gak buka sejak tanggal 13 Maret 2020. Baru buka 10 harian lalu, tapi masih sepi pembeli,” ungkap perempuan yang sudah pergi Haji dan 5 kali Umrah dari hasil berdagang itu.

Meski berat sejak ditinggal pergi suami yang telah meninggal dunia, ungkap Nurhayati, ia tetap menjalankan berjualan. Sejumlah kios pun ikut dikelola oleh sejumlah anaknya.

“Di toko anak juga masih sepi, tidak seperti sebelum kondisi COVID-19. Kompeksi pun tutup sementara,” akunya masih bersyukur sudah 32 tahun ini lancar berdagang.

Ia berharap, pandemi COVID-19 segera berakhir. Apalagi, di Pasar Tanah Abang saja ada pembatasan untuk berjualan. “Ada aturan ganjil-genap kan dari sananya (pengelola-red),” tandas Nurhayati.

Sebaliknya, meski di Thamrin City tidak ada batasan dan tetap mematuhi protokol kesehatan di PSBB Transisi. “Tapi kan tetap masih saja dampaknya terasa. Semoga cepat selesai Corona ini,” harap dia.

Lantaran dampak pandemi, dirinya sempat meminta keringan biaya service carges dan biaya listrik. “Kami minta tolong listrik biayanya diringankan. Kami ada sekretariat dan berharap itu didengar,” tutur dia.

Ia mengungkapkan, untuk 1 kios bisa mengeluarkan biaya Rp1 juta/bulan. Sedangkan biaya listrik tergantung pemakaian.

Dirinya juga tak pernah berhenti berdoa dan terus berharap agar keadaan kembali normal. “Saya berdoa agar pandemi ini cepat berlalu,” imbuh Nurhayati.

Seperti diketahui, sebelum pandemi COVID-19, Thamrin City buka Senin-Kamis, pukul 05.30-17.00 WIB. “Sekarang buka pukul 09.00 WIB, tutup pukul 15.00 WIB,” tambah Nurhayati. “Siapapun bisa datang dengan wajib mematuhi protokol kesehatan, seperti pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun,” tukas dia. (ibl)



Apa Pendapatmu?