Alexa Metrics

Mengintip Industri Tata Rias Keluar dari Kesulitan (1)

Mengintip Industri Tata Rias Keluar dari Kesulitan (1) Make-up Artis Allyssa Hawadi menjelaskan peluang berkarir di dunia tata rias di tengah pandemi.

indopos.co.id – Industri kecantikan dan tata rias dalam beberapa tahun belakangan kian populer berkat dorongan media sosial. Lewat media sosial, seperti Instagram, para perias wajah, atau populer dengan sebutan make-up artist (MUA) bisa memamerkan hasil karya mereka.

Pandemi COVID-19 secara tidak langsung menghentikan banyak aktivitas. Mereka yang mejalankan bisnis secara direct harus menahan diri hingga akhirnya tak bisa bergeliat kembali.

Beruntungnya, media sosial menjadi solusi untuk menjalankan aktivitas mereka. Meski tak secara langsung imbasnya, promosi keahlian mereka bukan hanya dari mulut ke mulut, orang juga bisa langsung melihat seperti apa hasil riasan sang MUA lewat akun media sosial.

Tukang Make-up Artis Allyssa Hawadi, dalam acara “Bincang Shopee 9.9 Beauty Day: Kreativitas Industri Kecantikan di Tengah Pandemi bercerita sebelum pandemi, setiap akhir pekan merias wajah para pengantin, baik untuk akad atau pemberkatan maupun untuk resepsi. “Biasanya make-up artist dari jam 2 pagi pun sudah siap-siap untuk merias, kalau itu acara pernikahan,” kata dia.

Begitu pandemi, kegiatan yang melibatkan banyak orang atau orang berkumpul terpaksa dihentikan sementara. Termasuk untuk pernikahan.

Awal terjadi pandemi Virus Corona di Indonesia, menurut pengakuan Allyssa, banyak orang yang menjadwal ulang rencana pernikahan ke akhir tahun, hingga tahun depan.

Akibatnya, para perias sama sekali tidak mendapat tawaran kerja, terutama mereka yang menangani rias pengantin. “Ini membuat depresi, bukan stres lagi,” kata Allyssa.

Tak hanya Alyssa, Penata Rambut profesional Anda Arrusa juga mengalami hal yang sama. Meskipun dia mengaku sedikit beruntung karena juga menerima tawaran menata rambut untuk artis dan iklan. “Kami kaget ya, biasanya penuh, tiba-tiba jadwal ulang semua,” kata Anda.

Pengalaman yang sama juga dirasakan Fauzia Hanum yang terjun ke dunia tata rias secara profesional sejak 2011 silam. Pandemi menghentikan kegiatannya merias terutama untuk pernikahan. “Kami MUA ini benar-benar nggak ada ‘job’ sama sekali,” cerita Hanum.

Pandemi mungkin berdampak pada pendapatan para penata rias, namun Hanum menolak kreativitasnya juga lesu karena situasi yang tidak menentu ini.

Sambil berusaha untuk tetap berkegiatan positif, Hanum memanfaatkan waktunya untuk membuat face painting, alias membuat lukisan di wajah, sesuatu yang jarang dilakukan karena hari-harinya penuh untuk merias wajah.

Hasil face painting maupun rias wajah dia unggah di akun Instagram, begitu juga tutorial make-up, diunggah melalui kanal YouTube miliknya.

Bukan tanpa sebab, Hanum ingin memperkenalkan diri lagi sekaligus keahlian yang dimiliki, yang mungkin selama ini luput karena kesibukannya sebagai MUA.

Tiga bulan belakangan, Hanum mengaku rajin memperbarui portofolio digitalnya di media sosial. “Untuk mengasah tangan juga,” kata Hanum.

Menurut dia, masa-masa seperti ini penting untuk mendapatkan hubungan yang baik dengan para pengikutnya. Soal berapa banyak orang yang menonton konten buatannya, menurut dia, bisa dipikirkan belakangan. “Yang penting itu dulu, aku diingat sama follower. Personal branding,” kata Hanum.

Allyssa juga melakukan hal yang sama, waktu kosong selama pandemi dia gunakan untuk mengunggah hasil riasan ke media sosial.

“Ini waktu yang tepat untuk terhubung dengan pengikutku, memperkenalkan diri lagi, bahwa saya MUA, punya keahlian ini,” kata Allyssa.

Begitupun Anda, saat malam hari, juga memperbarui konten di media sosialnya dengan hasil tata rambut yang pernah dia kerjakan dulu.

Dia juga membuat kelas privat, namun, mengingat situasi saat ini, hanya menerima satu orang di kelasnya. Anda memilih untuk tidak membuka kelas online karena tingkat kesulitan tata rambut jika tidak bertemu langsung. (ashbersambung)



Apa Pendapatmu?