Alexa Metrics

Krisis Iklim Krisis Semuanya

Krisis Iklim Krisis Semuanya Seniman Denmark-Islandia membuat instalasi seni berjudul “Ice Watch”. Instalasi yang dibuat dengan bagian-bagian dari topi es Greenland ini dipajang di depan Pantheon. Instalasi ini bagian dari proyek yang dipresentasikan selama Konferensi Perubahan Iklim Dunia pada 2015 lalu di le Bourget, pinggiran Paris. (Foto: JOEL SAGET / AFP)

indopos.co.id – Panas ekstrem, kebakaran hutan, dan badai mencatat rekor. Kondisi ekstrem seperti ini belum pernah terjadi. Saat ini Amerika menghadapi banyak bencana. Kebakaran melumat lebih dari satu juta hektare. Pada saat sama, penduduk di sepanjang Pantai Teluk bersiap menghadapi badai tropis.

’’Bentangan peristiwa bencana alam saat ini di Amerika Serikat pada dasarnya gambaran dari apa yang telah lama ditakuti para ilmuwan dan manajer darurat,’’ kata ahli meteorologi Steven Bowen, Kepala Catastrophe Insight di AON, sebuah perusahaan mitigasi risiko internasional.

Michael Mann, profesor Ilmu Atmosfer terkemuka di Pennsylvania State University, juga menyaksikan kebakaran hutan yang dahsyat saat cuti panjang tahun lalu di Australia. Ternyata, pemandangan serupa terjadi di California. Selama bertahun-tahun Mann telah membunyikan alarm tentang percepatan perubahan iklim yang disebabkan manusia.

’’Dalam banyak hal, dampaknya terjadi lebih cepat dan lebih parah dari yang kami perkirakan,’’ katanya.

Yang pasti, peristiwa-peristiwa ini tidak semuanya terkait satu sama lain. Tapi satu hal yang mereka miliki. Perubahan iklim membuat setiap peristiwa lebih mungkin terjadi. Penjelasan sederhananya, terdapat lebih banyak energi dalam sistem. Energi tersebut dikeluarkan dalam bentuk panas, api, angin, dan hujan lebih ekstrem.

Dr. Kevin Trenberth, seorang ilmuwan senior terkemuka di Pusat Penelitian Atmosfer Nasional, mengatakan meskipun ini mungkin baru, hal itu tidak akan normal.

’’Sudah beberapa lama kita bicara tentang ‘normal baru’ tapi masalahnya terus berubah. Tidak berhenti pada keadaan baru. Perubahan itulah yang begitu mengganggu,’’ katanya.

Kebakaran di California saat ini tidak ada bandingannya di zaman modern. Dengan lebih dari satu juta hektare yang terbakar hanya dalam satu minggu, musim ini sudah bersejarah.

CalFire melaporkan lebih dari 7.000 kebakaran telah melumat lebih dari 1,4 juta hektare lahan musim ini. Sumber daya yang sangat besar hingga titik di mana banyak dari api yang lebih kecil dibiarkan menyala. CalFire menyatakan, untuk memadamkan api ini semaksimal mungkin, badan tersebut butuh hampir 10 kali lebih banyak sumber daya pemadam kebakaran daripada yang tersedia.

Daniel Swain, ilmuwan iklim terkenal yang mengkhususkan diri dalam mempelajari hubungan perubahan iklim dan cuaca di Barat di Universitas California, Los Angeles, juga terkejut dengan situasi ini.

’’Saya pada dasarnya tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkan ruang lingkup wabah kebakaran yang dipicu petir yang dengan cepat berkembang di California utara. Bahkan dalam konteks kebakaran luar biasa beberapa tahun terakhir. Benar-benar menakjubkan,’’ kata dia.

Meskipun tidak jarang kelembapan tropis menyerang California, hal itu jarang terjadi. Dan, sangat disayangkan, hal itu terjadi selama salah satu gelombang panas AS barat terburuk dalam sejarah baru-baru ini. Belum lagi kekeringan jangka pendek dan jangka panjang yang sedang berlangsung. Para peneliti percaya pada 2000, AS bagian barat memasuki masa kemarau besar. Salah satu yang terburuk dalam 1.200 tahun terakhir.

Inilah sebabnya mengapa para ilmuwan iklim sering mengatakan perubahan iklim ’’membawa dadu’’ untuk cuaca ekstrem. Penyebab kebakaran bukanlah perubahan iklim, tetapi banyak faktor yang mengatur dan membuat kondisi matang untuk api dan penyebaran api adalah akibat langsung pemanasan iklim.

Pada 16 Agustus, Death Valley mencapai 130 derajat Fahrenheit. Ini suhu tertinggi yang pernah diukur di Bumi. Itu hanya sebagian kecil dari gelombang panas monster yang memecahkan ratusan rekor panas selama rentang dua minggu. Hubungan antara gelombang panas dan perubahan iklim sangat jelas. Beberapa penelitian menunjukkan, iklim yang lebih hangat membuat gelombang panas lebih mungkin terjadi dan lebih intens.

Midwest Derecho

Derecho adalah badai petir sangat ganas dan bertahan lama. Sering kali menyebabkan angin berkecepatan lebih dari 75 mph. Meskipun peristiwa cuaca ini biasa terjadi selama musim panas, peristiwa yang berlangsung 10 Agustus di Iowa dan Illinois tampak seperti dunia lain.

Garis badai membajak jalan sepanjang 800 mil dan lebar 40 mil melalui komunitas dan ladang jagung serta merusak 43% tanaman jagung dan kedelai Iowa. Angin diperkirakan mencapai kecepatan 140 mph. Kekuatan angin topan berlangsung 40 hingga 50 menit.

Pada pandangan pertama, tampaknya ini hanya peristiwa alam yang aneh. Tanpa kaitan nyata dengan perubahan iklim. Tetapi mungkin bukan itu masalahnya. Meskipun tidak banyak penelitian tentang hubungan antara perubahan iklim dan derechos, satu makalah baru-baru ini menemukan beberapa hasil yang mengkhawatirkan.

Tim peneliti menggunakan model iklim untuk mensimulasikan sistem konvektif mesoscale (MCS). Istilah teknis untuk massa badai petir di dunia yang memanas. MCS ini struktur induk yang terkadang memunculkan derechos. Dengan menggunakan skenario emisi gas rumah kaca yang tinggi, makalah tersebut menyimpulkan: ’’Pada akhir abad ini, jumlah MCS yang intens diproyeksikan menjadi lebih dari tiga kali lipat di Amerika Utara selama musim panas karena kondisi lingkungan yang lebih menguntungkan.’’

Art Cullen, editor Storm Lake Times di barat laut Iowa menyebut, Derecho adalah pengingat destruktif lainnya bahwa panas yang menyebabkan badai ekstrem akan menghancurkan sumber makanan kita sendiri. Itu jika kita tidak menghadapi krisis iklim sekarang.

Dampak bagi Kesehatan

Perubahan iklim memang menyebabkan banyak masalah lingkungan. Musim kemarau berkepanjangan, gelombang panas yang meningkatkan suhu udara secara ekstrem dan hujan lebat yang sering sekali terjadi, telah menimbulkan banyak sekali permasalahan lingkungan yang berdampak pada kesehatan.

Di Indonesia yang beriklim tropis, musim kemarau berkepanjangan sangat baik bagi perkembangan bakteri, virus, jamur, dan parasit. Sebab, kelembaban udara pada musim kemarau cukup tinggi. Mikroorganisme-mikroorganisme tersebut tumbuh dengan sangat subur dan dapat bertahan hidup lebih lama. Kondisi ini menyebabkan penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan udara semakin banyak terjadi seperti penyakit kulit akibat jamur. Selain itu, udara yang hangat adalah pertanda bagi bunga untuk melakukan penyerbukan. Umumnya, orang alergi dengan benda-benda kecil seperti serbuk bunga. Sehingga, kondisi ini menyebabkan peningkatan penyakit akibat alergi meningkat.

Perubahan iklim juga menyebabkan cuaca ekstrem dan sulit ditebak. Di satu wilayah, bisa saja terjadi hujan terus-menerus disertai angin kencang dan menyebabkan banjir. Sementara di wilayah lain terjadi kemarau berkepanjangan hingga mengeringkan sawah, ladang dan sumber-sumber air masyarakat. Belum lagi suhu ekstrem yang disebabkan terik matahari dapat membakar kulit.

Cuaca ekstrem seperti hujan kencang yang terjadi terus-menerus akan menyebabkan banjir jika daratan tidak siap menampung limpahan air yang banyak. Kondisi banjir menyebabkan lingkungan kotor dan menjadi lingkungan yang sangat baik bagi sarangga dan nyamuk penyebar penyakit untuk hidup dan bereproduksi. Dengan kondisi seperti ini, kasus penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue akan sangat banyak. Sampai pada titik endemik. Sementara kondisi ekstrem lingkungan mempengaruhi daya tubuh manusia sehingga mudah sekali sakit.

Sedangkan kemarau, akibat peningkatan suhu bumi terus-menerus, dapat menyebabkan kebakaran semak dan hutan. Asap yang dihasilkan dari kebakaran sejam dan hutan mencemari udara yang juga berdampak pada kesehatan pernapasan manusia. Dalam kondisi tersebut akan sering ditemukan kasus-kasus seperti infeksi pernapasan.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPI KLHK) Ruandha Agung Sugardiman menyebut kaum muda adalah tumpuan harapan bagi lingkungan hidup Indonesia yang lestari di tengah ancaman perubahan iklim.

’’Pemuda Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk dapat mewariskan lingkungan hidup yang sehat kepada generasi berikutnya,’’ kata Dirjen PPI Rhuanda dalam acara virtual Indonesia Youth Climate Summit (IYCS) 2020 yang dipantau dari Jakarta belum lama ini.

Peran pemuda itu penting ketika dunia menghadapi ancaman perubahan iklim yang berisiko melahirkan krisis pangan, air dan energi, serta meningkatkan potensi kemunculan wabah penyakit.

Rhuanda mengingatkan bahwa pemuda memiliki peran dalam usaha Indonesia untuk memenuhi komitmen implementasi Persetujuan Paris. Indonesia menurunkan emisi sebesar 29 persen dalam skema business as usual (BAU) pada 2030 dan 41 persen jika dengan kerja sama internasional.

Target itu, tegas dia, hanya akan tercapai bila terjadi terjalin partisipasi dan kerja sama antar pemangku kepentingan dalam keseluruhan tahap implementasi Persetujuan Paris.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia (DPPPI) Sarwono Kusumaatmadja juga mengatakan dampak perubahan iklim akan terasa lebih cepat dan para pemuda akan menghadapi kondisi iklim yang lebih menantang.

Dalam Indonesia Youth Climate Summit (IYCS) 2020 virtual yang dipantau dari Jakarta pada Jumat, Sarwono mengatakan bahwa karakter bencana yang disebabkan perubahan iklim yang dulu terjadi secara perlahan (slow onset) kini memperlihatkan gejala dampak dengan kecepatan lebih tinggi.

“Para pemuda-pemudi kita atau orang-orang yang dalam usia produktif akan menghadapi suatu kondisi iklim yang demikian menantang,” kata Sarwono.

Hal senada diungkapkan Penasihat Senior Menteri LHK bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Konvensi Internasional Nur Masripatin. Dia menyebut kecepatan perubahan iklim dan dampaknya dirasakan semakin meningkat.

Dalam Persetujuan Paris, negara-negara sepakat untuk menahan laju peningkatan suhu global hingga di bawah dua derajat Celcius. Namun, menurut Nur Masripatin, saat ini saja sudah terjadi kenaikan di atas satu derajat.

Dunia sudah melihat dampak dari wabah seperti pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini. Karena itu, mengantisipasi dan mengekang dampak perubahan iklim adalah hal penting karena ancaman yang ditimbulkan, terutama bagi generasi muda yang akan merasakannya.

’’Krisis iklim dibayangkan akan jauh lebih dahsyat dari pada krisis COVID-19 ini. Jadi ini PR bersama, mari tongkat estafet kita berikan kepada yang muda dan generasi seterusnya,’’ katanya. (theguardian/ecowatch.com/cok/nas)



Apa Pendapatmu?