Alexa Metrics

Kado Siti Nurbaya

Kado Siti Nurbaya

Oleh Ariyanto Pemimpin Redaksi Harian INDOPOS

indopos.co.id – Namanya Siti Nurbaya. Tapi ini bukan nama tokoh utama di buku roman berjudul ’’Siti Nurbaya’’ karya Marah Rusli. Yang dipaksa nikah dengan Datuk Maringgih. Pria tua renta dan berkulit kasar seperti katak. Gara-gara ayah perempuan Minang itu terbelit utang. Yang akhir hidupnya juga tragis: mati diracun!

Ini Siti Nurbaya lain. Kelahiran Jakarta pada 28 Agustus 1956. Dari keluarga asli Betawi. Yang puluhan tahun jadi birokrat. Pernah menjabat Sekjen Depdagri dan DPD RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia). Yang kini menduduki orang nomor satu di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kementerian yang ’’sangat laki-laki’’.

Cerita Siti yang ini tentu berbeda. Di buku roman terbitan Balai Pustaka Siti membungkukkan badannya. Menyerah kepada budaya dan tradisi yang mendiskriminasi. Tapi Siti yang satu lagi justru sangat menentang penindasan. Budaya patriarki tak pernah mengekang dirinya untuk bisa maju. Tak pernah menyerah kepada keadaan. Air mata tak pernah menyelesaikan persoalan. Ini ajaran ibunya. Yang sejak kecil menanamkan karakter dan prinsip ketegasan.

Sejak pertama menjabat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2014, Siti sudah dihadapkan banyak pekerjaan. Mulai penggabungan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup hingga persoalan kebakaran hutan dan pembalakan liar. Terjadi deforestasi besar-besaran. Hutan mengalami degradasi dan menyebabkan pemanasan global yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi persoalan dunia. Global warming yang bisa berdampak kepada krisis pangan.

Namun, satu per satu persoalan berhasil diurai. Soal penggabungan dua kementerian ini tidak terlalu susah. Bekal pengalamannya sebagai birokrat selama puluhan tahun mampu menyelesaikan ini. Soal deforestasi atau penebangan hutan sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya gas rumah kaca pun berhasil dikurangi. Produksi gas rumah kaca akhirnya berkurang. Sehingga implikasinya, secara langsung maupun tidak langsung, membuat kondisi pemanasan global pun berkurang.

Ini bukan klaim sepihak. Dunia mengakui keberhasilan dan kontribusi Indonesia dalam mengatasi masalah pemanasan global. Dana sebesar USD103,78 juta atau sekitar Rp1,52 triliun yang diterima Kementerian Lingkungan Hidup dari Global Climate Fund (GCF) menjadi salah satu bukti keberhasilan dan kontribusi Indonesia.

Menteri Siti Nurbaya pada Kamis, 27 Agustus 2020, menegaskan dana tersebut merupakan kompensasi yang diperoleh Indonesia karena dinilai berhasil mengurangi gas rumah kaca dari kegiatan deforestasi dan degradasi hutan.

Sekali lagi ini bukan klaim sepihak. Tim independen yang ditunjuk lembaga PBB yang mengelola isu perubahan iklim yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) telah memverifikasinya. Penghargaan yang diterima Indonesia ini jauh lebih besar daripada yang diterima Brasil senilai USD96,5 juta atau sekitar Rp1,3 triliun.

Secara objektif, laju deforestasi yang menjadi penyebab emisi gas rumah kaca memang terus berkurang. Dalam periode 2014- 2020, laju deforestasi di Indonesia telah menurun dari level 3,51 juta ton setara karbondioksida ke level 0,40 juta ton setara karbondioksida.

Bukan hanya Global Climate Fund yang memberikan penghargaan atas prestasi itu. Sebelumnya Indonesia juga mendapat penghargaan serupa berupa pembayaran kompensasi dari Pemerintah Norwegia sebesar Rp840 miliar.

Penghargaan yang diterima Kementerian Lingkungan Hidup dari Global Climate Fund menjadi bukti bahwa Indonesia punya komitmen terhadap masalah pemanasan global dan ikut berbenah mengatasi persoalan dunia ini. Yang terus mengurangi laju deforestasi dan degradasi lahan. Di antaranya melalui moratorium penebangan pohon, rehabilitasi hutan dan lahan, serta penegakan hukum.

Menteri Siti selama ini terlihat tak banyak bicara. Tidak pula terlalu membuat ’’kegaduhan’’, polemik, pernyataan kontroversial, atau aksi-aksi ’’nyentrik’’ yang biasanya disukai media. Selama ini dia lebih banyak diam. Bekerja dalam hening. Tak banyak media menyorot. Kalau pun ada sorotan atau kritik tajam dijadikannya sebagai vitamin yang menyehatkan. Melecutnya untuk bekerja lebih keras lagi. Dan lebih keras lagi. Sampai akhirnya kinerja nyata menyuarakannya dengan nyaring. Seperti kata pepatah Arab, Lisaanul hal afshohu min lisaanil maqool. Tindakan atau hasil nyata lebih ’’nyaring’’ dari pada kata-kata.

Tentu Siti tidak sendiri. Dia tentu saja didukung Dirjen-Dirjen hebat dan jajarannya yang hebat-hebat pula. Dan, gerbong-gerbongnya yang hebat itu tentu saja karena mengikuti lokomotifnya yang hebat. Sosok yang berintegritas, berdisiplin tinggi, pekerja keras, pembelajar, punya kepemimpinan kuat, pemberani, tegas, dan humanis.

Sekali lagi selamat, Bu Siti. Dengan menurunkan emisi gas rumah kaca, derajat kita semakin naik karena berhasil menaikkan reputasi negeri ini di kancah global. Sungguh sangat membanggakan dan mengharukan.

Sebagaimana buku roman Siti Nurbaya yang dianggap sebagai puncak roman dalam Sastra Indonesia Modern, bisa disebut Menteri Siti juga berhasil memuncaki prestasi ini di tingkat global.

Selamat ulang tahun juga Bu Siti. Semoga sehat selalu dan panjang umur. Terima kasih telah memberikan hadiah ’’ulang tahunnya’’  sebesar USD103,78 juta atau sekitar Rp1,52 triliun untuk rakyat Indonesia. (*)



Berita Terkait


Apa Pendapatmu?