Alexa Metrics

Trump dan Biden Tawarkan Solusi Kontras untuk Masalah Ras, COVID-19 dan Ekonomi

Trump dan Biden Tawarkan Solusi Kontras untuk Masalah Ras, COVID-19 dan Ekonomi Donald Trump dan Joe Bidden (Foto: AFP, Getty Images)

indopos.co.id –  Konvensi nasional Demokrat dan Republik menawarkan dua diagnosis yang sangat berbeda dari masalah-masalah yang tengah dihadapi Amerika. Satu versi menceritakan tentang seorang presiden yang kejam dan tak berperikemanusiaan, sedangkan yang lainnya berbicara tentang presiden yang penuh belas kasih.

Kristin Urquiza, yang ayahnya memilih Donald Trump pada 2016, meninggal karena Covid-19 pada Juni. “Ayah saya berusia 65 tahun dan sehat,” kata Urquiza. “Satu-satunya permasalahan yang ia alami adalah mempercayai Donald Trump. Dan untuk itu, dia membayar dengan nyawanya,” serunya.

Dalam kasus lain, Kayleigh McEnany ingat pernah menerima panggilan dari Donald Trump ketika ia pulih dari pencegahan mastektomi. “Presiden Trump menelepon untuk memeriksaku,” katanya seperti dilansir Guardian. “Aku terpesona. Inilah pemimpin dunia bebas yang peduli padaku,” lanjut McEnany.

Kontras kasus serupa terjadi berulang kali selama dua minggu terakhir, selama konvensi nasional Partai Demokrat dan Republik, yang diadakan untuk pertama kalinya secara virtual karena pandemi. Layar televisi yang terbagi pada jam tayang utama menampilkan dua kutub Amerika yang sangat berbeda, dan dua diagnosis penyakit yang sangat berbeda.

Demokrat merobek karakter Trump dan kurangnya kecocokan atas jabatannya, sedangkan Republik menghormati kompetensi, sentuhan umum, dan semangat kemurahan hatinya.

Partai Demokrat menyindir tentang pandemi, korban tewas dan dampak ekonomi, sedangkan Partai Republik jarang berbicara tentang virus dan lebih suka menjual optimisme dan menjanjikan kebangkitan yang cepat.

Demokrat memeluk gerakan Black Lives Matter dan mencari keadilan rasial, sedangkan Republik menimbulkan ketakutan akan ‘cancel culture’, penghancuran karakter publik figur di media sosial dalam bentuk penghinaan kelompok, dan ketakutan akan pinggiran kota yang dikuasai oleh massa yang kejam.

John Zogby, seorang penulis dan pengumpul jajak pendapat, mengamati bahwa Amerika tidak mendapatkan gambaran ketidaksepakatan.

“Kita mendapatkan gambaran tentang dua realitas yagn sama sekali berbeda, dan itu mencengangkan. Jika seseorang dari Mars turun dan menyaksikan kedua konvensi itu, mereka akan bingung dan kembali ke kapal. Sungguh menakjubkan, kenyataan yang sangat berbeda tentang Covid, tentang ekonomi, tentang Black Lives Matter,” pungkas Zogby.

Ketika asap menghilang dari kembang api di monumen Washington yang bertuliskan ‘Trump 2020’ pada malam terakhir, negara tersebut memiliki gagasan yang lebih jelas tentang di mana kedua pasukan telah menarik garis pertempurannya sebelum pemilihan November.

Partai Demokrat berupaya menarik perbedaan antara empati dan pengalaman calon kandidat mereka, Joe Biden, dan membandingkannya dengan ketidakmampuan kronis Trump untuk melakukan pekerjaannya, yang dia perlakukan bagaikan sebuah reality show.

Michelle Obama, mantan ibu negara, menyuarakan penderitaan ibu-ibu di seluruh negeri yang terkejut dengan perilaku kasar presiden ke-45 itu. “Dia jelas tidak bisa menyelesaikan masalahnya,” katanya. “Dia tidak bisa memenuhi momen ini. Dia tidak bisa menjadi orang yang kita butuhkan untuk kita,” lanjut Obama.

Partai Demokrat menuntut kasus di mana Trump gagal menyelesaikan tantangan bersejarah Covid-19, yang mengakibatkan 180.000 kematian warga Amerika dan puluhan juta orang menganggur. Terlebih, mereka memperingatkan bahwa Trump mengancam pengalaman demokrasi Amerika Serikat yang telah berusia 244 tahun.

“Pemerintahan ini menunjukkan mereka akan menghancurkan demokrasi kita jika itu yang diperlukan untuk menang. Jadi kita harus sibuk membangunnya,” kata Barrack Obama memperingatkan.

Ketika giliran mereka tiba, Partai Republik membuat jaringan fantasi rumit yang ditemukan pemeriksa fakta, termasuk lusinan kebohongan per malam. Mereka bekerja keras untuk menghaluskan sisi bergerigi dari persona Trump dan membuatnya disukai para pemilih di pinggiran kota.

Selain itu, Trump terlihat mengampuni seorang pria Afrika-Amerika yang dihukum karena perampokan bank dan dengan baik hati menyambut imigran saat mereka menjadi warga negara AS. Perilaku yang seakan mengatakan jangan percaya karikatur media tentang Trump sebagai sosok setan, dan kalian diizinkan memilihnya lagi dengan hati nurani yang bersih.

Wendy Schiller, seorang profesor ilmu politik di Brown University di Providence, Rhode Island mengatakan bahwa yang mengejutkan adalah bagaimana konvensi tersebut dirancang untuk menarik kaum Republikan moderat dan independen di pinggiran kota.

“Itu benar-benar dirancang untuk menenangkan dan mengamankan pemilih di pinggiran kota dan berkata, dengar, aku tidak seburuk itu, sungguh,” seru Schiller.

Ada satu benang merah dalam konvensi, yaitu perasaan bahwa kekalahan di pihak lain akan menghasilkan sesuatu yang lebih mendalam dan eksistensial daripada sekadar ayunan pendulum politik.

Sebaliknya, hal itu adalah pilihan yang tegas antara demokrasi Amerika atau impian Amerika, di mana keduanya telah lama dipandang sebagai prinsip jiwa Amerika yang tidak dapat diganggu gugat.

“Ini adalah pemilihan Armageddon yang asli. Jika pihak lain menang, ini adalah akhir dari Amerika Serikat, akhir dari nilai-nilai kita, akhir dari demokrasi,” kata Zogby.

Perasaan bahwa ada pertaruhan yang lebih tinggi daripada sebelumnya telah dipicu oleh narasi dominan lain tahun ini, yaitu pembunuhan polisi terhadap warga Afrika-Amerika yang tidak bersenjata, pemberontakan melawan ketidakadilan rasial, dan sejumlah kecil protes yang menyebabkan vandalisme dan kekerasan.

Sekali lagi, kedua belah pihak melihat masalah melalui prisma yang berlawanan. Partai Demokrat memberikan platform kepada keluarga George Floyd, yang pembunuhannya oleh polisi di Minneapolis telah memicu aksi protes nasional, merayakan kehidupan aktivis hak-hak sipil John Lewis, dan menominasikan Senator Kamala Harris menjadi wakil presiden kulit berwarna pertama di negara itu.

Partai Republik sebaliknya, mengubahnya menjadi gambaran anarkis yang kejam, agitator, dan penjahat. Mereka juga menuduh Biden mendukung upaya unutk mencabut departemen kepolisian dan menyiratkan bahwa langkah panjang Amerika melawan rasisme akan berakhir dengan terpilihnya kembali Trump.

“Saya mengatakan dengan sangat rendah hati bahwa saya telah berbuat lebih banyak untuk komunitas Afrika Amerika daripada presiden mana pun sejak Abraham Lincoln, presiden Republik pertama kita,” kata Trump.

Michael Steele, mantan ketua Komite Nasional Republik, menagatakan bahwa hal ironis dalam semua yang dikeluhkan Donald Trump terjadi di bawah pemerintahan Biden, sebenarnya terjadi di bawah pemerintahannya sendiri.

“Disonansi yang Anda lihat dalam semua ini adalah bahwa pada dasarnya dia mengatakan untuk tidak mempercayai apa yang Anda lihat, semua itu tidak terjadi, tetapi itu akan terjadi jika Anda memilih orang ini. Dia seperti mengatakan, tunggu sebentar, kita menagalami kerusuhan di jalanan sekarang,” ungkap Steele.

“Tantangan bagi Biden adalah membuat oarang Amerika melihat bahwa apa yang mereka takuti sudah terjadi. Apa yang mereka takuti sudah ada di komunitas pinggiran kota mereka, apa yang mereka takuti suah ada di jalanan mereka, dan bahwa ada banyak hal terjadi di wilayah negara yang dijalankan oleh Partai Republik, juga terjadi di wilayah yang dijalankan oleh Demokrat. Dan tujuannya sebagai presiden adalah untuk mengatasi masalah tersebut, untuk menyembuhkan luka-luka tersebut, bukannya menyebabkan lebih banyak rasa sakit atau untuk membuka luka-luka itu lagi,” lanjutnya.

Donna Brazile, mantan ketua sementara Komite Nasional Demokrat mengatakan bahwa perlombaan sekerang ditentukan oleh dua visi epik negara. Salah satunya adalah visi yang diberikan oleh Joe Biden dan Kamala Harris, yaitu bangsa yang harus terus berkembang dan menjangkau sesama, terutama yang merasa tertinggal.

“Visi Donald Trump dan Mike Pence lebih kepada sekadar ‘kita versus mereka’. Rasanya mereka tidak menjangkau siapa pun. Sepertinya mereka masih ingin mengatakan pihak lain tidak mampu memimpin Amerika yang mereka wakili,” jelasnya.

“Saya pikir apa yang kita lihat dalam dua minggu terakhir ini adalah satu partai politik yang masih terlibat dalam upaya membantu rakyat Amerika melalui pandemi, yang telah menyebabkan krisis ekonomi ini, versus partai lain, yang sejujurnya tidak percaya bahwa krisis ini benar-benar ada,” tambahnya. (fay)



Apa Pendapatmu?