Alexa Metrics

Pemkot Jakarta Pusat Siap-siap Kerja Dobel, Selain Tangani COVID-19 Harus Atasi Banjir

Pemkot Jakarta Pusat Siap-siap Kerja Dobel, Selain Tangani COVID-19 Harus Atasi Banjir

indopos.co.id – Pemerintah Kota Jakarta Pusat akan menyiapkan pengungsian dan dapur umum dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Hal ini sebagai bentuk dari mengantisipasi banjir di masa pandemi COVID-19.

Artinya, kerja dua kali akan dilakukan petugas gabungan dalam mengantisipasi di masa pandemi covid saat ini.

“Kala hujan, banjir, ditambah COVID-19, kerja serba dua kali. Mudah-mudahan kita semua sehat ya,” ujar Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Irwandi kepada INDOPOS.

Irwandi menuturkan, pengungsian yang akan disiapkan untuk warga akan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Sehingga, jumlah pengungsi yang akan ditampung pun akan disesuaikan agar tidak berdesakan.

Namun demikian, untuk pengungsian dan dapur umum itu akan menjadi dua kali lipat.

Seperti di kawasan Petamburan, Tanah Abang, biasanya satu lokasi penampungan menjadi dua, yakni masjid. Seperti di Masjid Al Islam, dapur juga akan menjadi dua. “GOR juga disiapkan. Intinya semuanya diberdayakan,” ungkap Irwandi.

Dalam mengantisipasi banjir, mesin pompa dicek, tali air dicek, bangunan baru selesai dicek. “Pihak SDA baru gerebek lumpur, seperti di Gunung Agung, Kwitang dan Johar Baru. Kali didalami lagi,” ungkap Irwandi.

Ia juga mengatakan, hanya mengecek kesiapan itu.

Selanjutnya, sambung dia, Pemkot Jakarta Pusat akan menyiasati pengungsian di tenda-tenda karena rawan penyebaran COVID-19.

Salah satu siasatnya adalah mengalihkan ke masjid-masjid atau Gelangang Olahraga Rakyat (GOR) yang sebelumnya dipersiapkan untuk isolasi pasien COVID-19.

“Pengungsian harus dipersiapkan dengan matang. Jangan sampai berdesakan, kita siapkan dua kali lipat dari sebelumnya,” kata dia.

Mantan Kadis UMKM DKI Jakarta itu menambahkan, akan menginstruksikan Sudin Sosial Jakarta Pusat untuk membangun dapur umum dua kali lipat dari sebelumnya.

Terkait stok bantuan untuk warga, ungkap dia, kini ketersedian bantuan masih aman. Petugas kesehatannya menyiapkan obat-obat, Sudin Sosial menyiapkan dapur umum, tenda dan alat-alat memasak.

Sedangkan Disnakertrans dan SDA menyiapkan pompa mobile, mesin pompa apa solarnya ada atau tidak. “Kan seperti itu semua SKPD terlibat,” tutur dia.

Kemudian, kata Irwandi, petugas PPSU mengecek tali air di titik-titik yang biasa tergenang atau banjir. “Kalo air kiriman Bogor, hujan intensitas tinggi kan Kali tinggi gak bisa disedot. Mau dibuang kemana kalau penuh kalinya. Sodetan dikontrol petugas SDA,” kata dia.

“Kalau sebelumnya lima dapur umum, sekarang ini harus 10. Ketersediaan bantuan sosial juga aman, bahkan kita juga sempat memberikan bantuan untuk warga yang diisolasi. Supaya warga masyarakat terlayani,” tambah Irwandi.

Minim Kesadaran Masyarakat

Menanggapi kasus COVID-19 yang terus meningkat, Emrus Sihombing, komunikolog Indonesia menuturkan, hal itu terjadi karena masih banyak warga masyarakat belum memiliki kesadaran, sikap dan perilaku yang memadai terhadap ketaatan protokol kesehatan. “Saya memprediksi jumlah kasus COVID-19 akan terus meningkat,” kata dia.

Solusinya, lanjut Emrus, halau COVID-19 dengan program komunikasi. Untuk itu, dirinya mengajak semua komponen bangsa di seluruh tanah air melakukan kampanye Komunikasi Kesehatan menekan atau menghentikan penyebaran COVID-19 dengan berbagai kemasan pesan kreatif dan inovatif melalui berbagai media komunikasi.

“Mari kita bantu pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang telah bekerja keras di tengah masih terus meningkatnya kasus Covid-19 di negeri ini,” imbuh dia.

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, penanganan COVID-19 di Jakarta masih terkendali, meski kasus positif harian menembus 1.114 kasus pada Minggu (30/8/2020).

Anies menyebut hal itu dikarenakan jumlah kasus aktif dan meninggal karena COVID-19 menurun. Sedangkan tingginya pertambahan kasus positif COVID-19 di Jakarta belakangan hari ini karena kapasitas testing yang dilakukan juga tinggi mencapai 11 ribu atau 10 kali lipat dari ketentuan minimal WHO.

“Jadi secara aktivitas testing, kita tinggi. Bahkan hari kemarin, hari Minggu, dilaporan itu 43 persen dari testing seluruh Indonesia itu dilakukan di Jakarta. Konsekuensinya angka positif menjadi lebih banyak. Tapi dengan cara seperti itu, kita mengetahui dengan senyatanya tentang status COVID-19 di Jakarta,” kata Anies dalam webinar bertema ‘Tantangan Perubahan Perilaku Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru’ di Jakarta, Senin (31/8/2020).

Kendati demikian, Anies menyebut dalam sepekan terakhir, jumlah kasus aktif menurun secara signifikan. Artinya, jumlah orang yang harus dirawat atau isolasi jumlahnya berkurang. Kasus aktif itu diukur dengan angka kasus baru dikurangi angka sembuh dan dikurangi angka meninggal.

“Jadi meskipun angka kasus baru itu naik, tapi bila jumlah kasus aktif-nya itu menurun, dan bila angka kematian kita rendah, artinya penanganan itu relatif terkendali. Tapi ini belum selesai,  artinya kita masih punya PR untuk menuntaskan sampai betul-betul zero active case. Kalau begitu baru namanya selesai,” ucapnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta, untuk penambahan kasus hari Minggu (30/8 yang mencapai 1.114 kasus, 57 persen atau sebanyak 630 kasus di antaranya adalah hasil tracing (penelusuran) Puskesmas dengan melakukan pemeriksaan kepada kontak erat pasien positif.

Sedangkan, dari active case finding (penemuan kasus aktif) yang dilakukan Puskesmas, ditemukan enam kasus baru, kemudian dari passive case finding di RS dan klinik ditemukan sebanyak 478 kasus baru.

Kendati terdapat tren kenaikan pada kasus harian, namun tingkat kematian (case fatality rate/ CFR) turun tiga persen sampai 30 Agustus 2020.

Jumlah kasus aktif yang sempat mengalami kenaikan pada bulan Juli dan awal Agustus, mulai menunjukkan pelandaian kembali dan penurunan, yakni hingga 30 Agustus 2020 sebanyak 7.960 orang. Hal tersebut diikuti dengan tingkat kesembuhan (recovery rate) yang terus meningkat, sebesar 76,7 persen. (ibl)



Apa Pendapatmu?