Alexa Metrics

Mengintip industri Tata Rias di Tengah Pandemi (2-Habis)

Mengintip industri Tata Rias di Tengah Pandemi (2-Habis) Ilustrasi protokol kesehatan 3M. Foto: Dok. INDOPOS

indopos.co.id – Pernikahan di tengah pandemi dilongarkan. Sejumlah event kecantikan pun mulai digelar secara virtual. Meski tak sama, peluang tersebut menambah peluang baru bagi industri tata rias di ibu kota. Sejumlah penata rias dan make up artis pun mulai mendapatkan kesepatan untuk berkarya kembali.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai longgar untuk beberapa jenis kegiatan yang semula dilarang. Tentunya dengan menetapkan protokol kesehatan yang ketat. Termasuk untuk pernikahan.

Laman Sekretariat Kabinet memuat panduan mengadakan pernikahan saat pandemi. Mengutip Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, layanan menikah di Kantor Urusan Agama buka pada hari dan jam kerja.

Akad nikah, baik di KUA maupun di rumah, bisa dilakukan dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Jika pernikahan dilakukan di luar rumah, misalnya, di gedung pernikahan, peserta paling banyak 20 persen dari kapasitas ruangan dan tidak boleh lebih dari 30 orang.

Kelonggaran ini juga dirasakan Tukang Make-up Artis Allyssa Hawadi. Dia mengaku beberapa klien yang semula mengundur pernikahan hingga tahun depan, mulai memajukan kembali tanggal pernikahan mereka ke tahun ini. “Mereka majukan ke Agustus dan September karena mereka berpikir ini kapan selesainya,” ujar dia.

Beberapa waktu belakangan, Allysa mengaku mendapatkan permintaan merias pengantin hanya satu-dua minggu menjelang hari pernikahan. Di masa seperti ini, dia biasanya berusaha memberi pemahaman kepada klien untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, termasuk untuk mengurangi jumlah tim dokumentasi ketika sedang merias pengantin.

“Dulu (sebelum pandemi) pas merias, ada beberapa fotografer, videografer. Sekarang, jangan terlalu ramai, misalnya, hanya ada satu fotografer di ruangan,” kata dia.

Sementara Hanum, sejak rajin membuat konten di media sosial, dia mendapat tawaran berkolaborasi dengan para fotografer untuk pemotretan bertema make-up unik dan lucu.

“Karena mungkin jarang MUA punya portofolio make-up lucu,” kata Hanum.

Hanum dan Allyssa sama-sama berpendapat profesi ini sangat mengandalkan kekuatan promosi, bukan hanya soal keterampilan merias, tapi juga tentang sikap sang perias. “Attitude tetap nomor satu,” kata Hanum.

Menurut Hanum, jika memiliki portofolio merias yang bagus, namun secara sikap sang perias buruk, akan ada penilaian dari mulut ke mulut bagaimana pengalaman menggunakan jasa sang perias. Sebagai seorang penata rambut, dia seringkali berkolaborasi dengan perias wajah maupun rekan sesama penata rambut.

Jika dia melihat di media sosial karya perias atau penata rambut lain, dia tertarik untuk mengetahui pendapat dari orang lain yang pernah bekerja sama dengan sosok tersebut.

“Aku akan tanya ke temanku yang pernah kerja bareng dia, apakah dia baik ke klien, datang terlambat,” kata Anda.

Allyssa menambahkan selain promosi, dia secara berkala memeriksakan kesehatannya, termasuk mengikuti tes cepat (rapid test) dan tes usap (swab test) sebelum merias, untuk menjaga kepercayaan klien. (*)



Apa Pendapatmu?