Alexa Metrics

Menabung Bencana Iklim

Menabung Bencana Iklim Seorang aktivis dari gerakan Extinction Rebellion’s Red Bridage berjalan melewati aktivis lainnya melakukan Die-In saat mereka berdemonstrasi untuk keadilan iklim dalam parade bertajuk ”Discobedience” di distrik Neukoelln Ber¬lin pada 21 Juni 2020. (Foto: Odd Andersen/AFP)

indopos.co.id – Pandemi COVID-19 yang melanda membuat manusia mengubah kebiasaan. Salah satunya, manusia menjadi mengurangi aktivitas, terutama berkaitan dengan transportasi. Bahkan, sejumlah kota di belahan dunia, menerapkan lockdown demi mencegah penyebaran virus tersebut. Hasilnya, selain mampu menghentikan penyebaran virus, juga berdampak baik terhadap bumi.

Manager Kampanye Iklim Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yuyun ,Harmono mengatakan peristiwa ini memberikan pelajaran bagi manusia bahwa ada jeda yang harus dilakukan. Memang, krisis ini berdampak buruk tapi juga ada dampak turunan yang dapat dirasakan.

’’Seperti lingkungan, menjadi lebih bersih, udara di Jakarta menjadi lebih bersih,’’ ujar Yuyun, Selasa (1/9).

Yuyun mengatakan, emisi dari gas ruang juga menjadi salah satu penyebab perubahan iklim. Maka, tidak bisa lagi kembali kepada model-model lama bahkan setelah pandemi COVID-19 berakhir. Seperti pengurangan bahan bakar fosil, baik minyak, gas, dan batubara.

Apabila hal itu tidak dilakukan, sama saja menabung untuk bencana iklim selanjutnya. ’’Jadi itu yang harus kita refleksikan harus ada pembaharuan,’’ katanya.

Menurut Yuyun, persoalan lingkungan adalah soal perubahan iklim. Tentu saja harus dilakukan oleh banyak lapisan, misalnya perubahan perilaku individu, seperti menghemat air, menghemat listrik, dan seterusnya.

Namun juga ada perubahan yang sifatnya struktural. Harus ada perubahan paradigma kebijakan pembangunan pemerintah. Hal itu untuk melihat bahwa lingkungan merupakan bagian penting yang harus juga diurus.

’’Selama ini paradigmanya lebih berat kepada sektor ekonomi, sehingga dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini aspek ekonominya menjadi lebih besar. Padahal, ada aspek-aspek lingkungan yang harus diperhatikan,’’ tutur Yuyun.

Untuk itu, lanjut Yuyun, esensi dari peringatan 50 tahun Hari Bumi adalah untuk mendorong supaya isu lingkungan hidup menjadi isu utama. Isu tersebut menjadi panglima dalam proses pembangunan. Bukan hanya menjadi embel-embel.

Karena, setelah pandemi COVID-19, manusia masih menghadapi persoalan besar lainnya. Yaitu, soal dampak perubahan iklim. Apalagi, menurut Yuyun, jika dilihat dari sejarahnya, penularan penyakit-penyakit zoonosis berasal dari alam dan inangnya dari satwa terus penyebarannya beralih ke manusia.

Pengamat kesehatan Universitas Indonesia, Ratna Sitompul, mengatakan, antisipasi perubahan iklim yang terjadi ini harus dilakukan. Sebab, perubahan ini dapat memicu penularan Virus Corona ini terjadi di tengah masyarakat.

’’Hubungannya pasti ada, karena ini menyangkut imunitas tubuh seseorang. Virus ini kan menyerang orang yang punya imunitas tubuh buruk. Makanya perubahan iklim ini harus diwaspadai,’’ katanya saat dikonfirmasi, Selasa (1/9).

Dijelaskan Ratna, dengan adanya perubahan iklim yang tidak menentu akan membuat daya tahan tubuh manusia menurun. Artinya, jika kekebalan tubuh itu menurun, maka dengan mudah serangan beragam penyakit mudah masuk. Terlebih virus COVID-19 yang masih mewabah di Tanah Air.

’’Tidak terjadi perubahan iklim saja penularannya dahsyat, bagaimana jika terjadi perubahan itu. Mau tidak mau harus diwaspadai. Tentu jika tidak bisa menjaga kesehatan pasti dapat tertular,’’ paparnya.

Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi di Indonesia dapat mendatangkan beragam penyakit. Mulai inspeksi saluran pernapasan akut (Ispa), flu, batuk dan pilek.

’’Nah di sini virus Corona akan dapat menyerang mereka. Ini juga banyak warga yang terpapar tetapi belum melaporkan diri. Yang sehat aja masih bisa terpapar apalagi yang sakit,’’ ujar Ratna.

Dengan hal itu Ratna pun berharap pemerintah harus bersiaga dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrem. Kemudian, terus mempersempit wilayah penularan Corona. Dengan kedua hal itu maka pencegahan dapat maksimal dikerjakan.

Sementara itu, peneliti Kesehatan UI Muhamad Sahlan menuturkan, terjadinya perubahan temperatur suhu ini dapat membuat perkembangan sejumlah virus dapat cepat terjadi. Dan tanpa disadari manusia yang memiliki gangguan kesehatan akan dapat tertular.

’’Kembali lagi mengenai soal daya tahan tubuh. Kita kan tidak tahu kondisi itu. Nah suhu iklim pun dapat membuat virus cepat berkembang biak,’’ tuturnya.

Ditambahkan Shalan, penyebaran informasi terhadap menjaga kesehatan tubuh harus dilaksanakan pemerintah. Kemudian masyarakat ikut membantu pemerintah dalam mengurangi angka penularan COVID-19 di tengah perubahan iklim tersebut.

Sedangkan ahli virologi yang juga Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio mengatakan, belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa perubahan cuaca atau iklim mempengaruhi virus Corona.

’’Baik iklim panas ataupun iklim dingin. Virus Corona tetap survive,’’ ujar Amin Subandrio kepada INDOPOS, Selasa (1/9).

Namun demikian, dia menjelaskan, suhu yang ekstrem bisa mempengaruhi siklus hidup Virus Corona. Seperti suhu panas di atas 50 derajat. Akan tetapi, bila virus Corona telah masuk di tubuh manusia, maka itu tidak berpengaruh. ’’Kalau suhu ekstrem di atas 50 derajat, virus tidak akan berkembang. Tapi kalau sudah masuk ke tubuh tetap saja,’’ katanya.

Hal sama diungkapkan ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono. Perubahan iklim tidak berpengaruh pada virus Corona. ’’Selama ada orang yang bawa virus, ya masih ada persebaran. Jadi iklim tidak berpengaruh,’’ katanya. (nas/cok/wok)



Apa Pendapatmu?