Alexa Metrics

Perhatian Pemerintah Kurang, Banyak Mantan Atlet Hidup Sengsara

Perhatian Pemerintah Kurang, Banyak Mantan Atlet Hidup Sengsara Atlet dituntut lebih disiplin mengatur keuangan untuk masa depan lebih terjamin. (Foto: ANTARA)

indopos.co.id – Olahraga belum bisa menjadi profesi, sehingga perhatian pemerintah pada para atlet belum optimal. Anggota Komisi X DPR RI Debby Kurniawan menegaskan, pemerintah baru memberikan perhatian pada momentum tertentu saja. Biasanya pada perhelatan olahraga, baik nasional maupun internasional.

“Ini kenapa? Karena ini belum ada cantelan dalam undang-undang (UU) Sistem Keolahragaan Nasional (SKN),” ungkap Debby Kurniawan di Senayan, Selasa (1/9).

Ia menjelaskan, ada lebih dari 105 juta penerima bantuan iuran (PBI). Dari keluarga tidak mampu hingga keluarga hampir miskin. Namun dari jumlah tersebut tidak ada dari kalangan atlet. Kemudian pemerintah saat juga diketahui tengah memperjuangkan nasib tenaga honorer.

“Itu jumlahnya lebih dari satu juta tenaga honorer. Tapi apakah ada dari atlet?. Dan ini kemudian harus kita perhatikan, agar para atlet kita ini mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan, tingkat kesejahteraan tidak semestinya menjadi orientasi para atlet. Karena, itu otomatis akan mengikuti bilamana atlet meraih prestasi. Dan itu bisa diraih oleh atlet pada level satu atau juara.

“Jadi penting edukasi bagi atlet. Karena penghargaan otomatis mengikuti prestasi. Ini bisa memotivasi para atlet di level 2 dan 3 untuk berprestasi. Meskipun tujuannya bisa dapat itu (masa depan),” katanya.

Bentuk perhatian pemerintah, dikatakan Politisi Partai Demokrat ini, harus disesuaikan kebutuhan atlet. Bisa saja dengan program beasiswa pendidikan bagi atlet yang masih belajar. Kemudian atlet yang belum memiliki pekerjaan tetap, bisa saja diberikan penghargaan berupa pekerjaan.

“Bisa saja atlet yang belum pegawai negeri bisa diberikan penghargaan diangkat pegawai negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Pakar Fisiologi Olahraga Prof Soegiyanto mengatakan, kesalahan pemerintah saat ini belum bisa merencanakan masa depan para atlet olahraga. Padahal mereka untuk meraih prestasi hingga 15 tahun. Hal ini kemudian menyebabkan mereka kehilangan kesempatan mengisi hidupnya.

“Atlet inikan pejuang di bidang olahraga. Jadi pemerintah harus bertanggung jawab untuk memperhatikan masa depan mereka. Karena atlet telah mengharumkan nama bangsa dan negara,” ungkapnya.

Kendati tanggung jawab tersebut bisa dilakukan secara berjenjang, dari daerah hingga tingkat pusat. Kesejahteraan atlet dari yang berprestasi dan tidak memiliki kesempatan sama. Karena mereka melalui masa berlatih hingga 15 tahun. Jasa mantan atlet pun, menurutnya, perlu diperhatikan.

“Perlu ada jenjang dan perbedaan dari atlet yang berprestasi dan yang tidak meraih prestasi. Jasa mantan atlet perlu juga dimunculkan lagi,” katanya.

Perlakuan pemerintah saat ini, masih ujar Soegiyanto sudah cukup baik. Apalagi dibandingkan pada era tahun 60-an dan 70-an. Tidak sedikit mantan atlet menjual medali, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Secara matematika memang masih kurang, tapi pemerintah saat ini sudah lumayan ada perhatian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bentuk perhatian kepada para atlet merupakan motivasi bagi atlet untuk berprestasi. Pasalnya, tidak sedikit atlet yang berpikir untuk mencari uang. Tentu hal ini menganggu konsentrasi berlatih atlet.

“Kalau kesejahteraan tercukupi, atlet bisa fokus latihan. Dan ternyata kesejahteraan ini cukup komulatif mempengaruhi prestasi,” bebernya.

Hal yang sama diungkapkan mantan atlet tinju Hermensen Bertholens Ballo. Ia menjelaskan, perhatian pemerintah terhadap para mantan atlet masih kurang. Padahal mantan atlet di daerah telah membantu pemerintah untuk membentuk bibit atlet nasional.

“Bantulah para mantan atlet. Kita di daerah untuk operasional melatih calon atlet sendiri. Kan atlet itu semua dari daerah,” katanya. (nas)



Apa Pendapatmu?