Walhi Sumsel Minta Satgas Karhutla Tingkatkan Pembasahan

indopos.co.id – Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan (Sumsel) meminta satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) meningkatkan pembasahan. Itu terutama daerah rawan terjadi kebakaran pada musim kemarau tahun ini.

”Pembasahan perlu dilakukan lebih maksimal sehingga titik panas (hotspot) terdeteksi melalui satelit tidak berubah menjadi titik api yang dapat mengakibatkan kebakaran besar dan bencana kabut asap,” tutur Direktur Eksekutif Walhi Sumsel M Hairul Sobri, di Palembang, Selasa (1/9).

Baca Juga :

Jangan Lengah Meski Tren Karhutla Turun

Pada musim kemarau tahun ini, ada 10 kabupaten dipetakan rawan karhutla. Namun, empat daerah butuh perhatian ekstra. Misalnya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Ogan Ilir, dan Kabupaten Banyuasin. Empat daerah itu, memerlukan perhatian maksimal dari Satgas Karhutla Sumsel agar kebakaran pada sejumlah lokasi tidak meluas. Mengakibatkan pencemaran udara, dan merusak lingkungan lebih berat.

”Melihat fakta di lapangan itu, diharapkan pemerintah daerah dan pihak berwenang lebih maksimal melakukan berbagai tindakan untuk dapat mencegah terjadinya Karhutla. Dengan begitu, kabut asap yang dapat mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat bisa dihindari,” tegasnya.

Baca Juga :

Kondisi daerah rawan Karhutla itu akan terus dipantau Walhi dan masyarakat peduli lingkungan. Dengan mengawal bersama, bisa dilakukan berbagai tindakan untuk menyelamatkan lingkungan, dan melindungi masyarakat dari dampak negatif musim kemarau.

Karhutla merupakan masalah berulang setiap musim kemarau. Nah, kalau cara penanggulangan dilakukan pemerintah pusat dan daerah masih seperti selama ini, permasalahan Karhutla akan terus terjadi setiap tahun. Kegiatan pencegahan dan penanggulangan Karhutla dengan melakukan operasi udara dan darat selama ini, perlu dievaluasi. ”Karena menghabiskan dana tidak sedikit dan hasilnya belum sesuai harapan masyarakat,” bebernya.

Selain itu, sebut Sobri, juga perlu dilakukan penegakan hukum oleh aparat kepolisian lebih tegas kepada oknum dan terbukti lalai menjaga lahan, sengaja membakar pada saat musim kemarau. ”Kami berusaha melakukan pengawasan ketat sejumlah daerah dipetakan rawan Karhutla untuk mencegah masyarakat dan perusahaan melakukan pembakaran lahan secara sengaja,” ucap Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Supriadi.

Sesuai maklumat larangan membakar untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan pada musim kemarau, siapa pun terbukti secara sengaja melakukan pembakaran akan diproses sesuai ketentuan hukum. Selain itu, jajaran Polres daerah rawan karhutla diperintahkan aktif melakukan pembinaan terhadap masyarakat dan perusahaan perkebunan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. ”Itu penting menghadapi kebakaran rutin setiap musim kemarau,” tukas Supriadi.

 

Asap Kebakaran Ancam Pasien Corona

Sementara asap karhutla meningkatkan indeks nitrogen dioksida (NO2) lebih berbahaya bagi pasien Covid-19, terutama pengidap tuberkulosis. Karhutla berdampak pada kesehatan masyarakat, menyebabkan peningkatan kejadian penyakit paru atau tuberkulosis.

Efek jangka pendek eksposur polusi udara karhutla, meningkatkan risiko tuberkulosis. Itu karena peningkatan indeks NO2 lebih berisiko dari partikel berukuran lebih kecil dari 10 mikron (PM10) dan Sulfur dioksida (SO2). Karena itu, masyarakat di daerah rawan karhutla di masa Pandemi Covid-19, lebih banyak mengalami gangguan fungsi paru dan menaikkan angka kematian.

Pada masa Pandemi Covid-19, kemungkinan tidak hanya terjadi saat ini, tetapi bisa sampai 2022. Artinya, risiko terinfeksi dan kemungkinan peningkatan mortalitas masih banyak, terlebih ditambah karhutla. ”Jadi, harus dicegah. Karhutla tidak boleh terjadi dan penularan juga harus ditiadakan,” tutur ahli epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono.

Masyarakat tidak akan bisa kembali ke situasi Indonesia seperti sebelum pandemi. Hidup di masa pandemi menjadi lebih berisiko. Namun, sayangnya kampanye penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak minimal satu meter (3M) tidak kuat. Padahal, obat bukan solusi bagi yang sehat, karena obat untuk yang sakit.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat harus sadar untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain. Penggunaan masker menjadi cara paling murah namun efektif menurunkan risiko penularan Covid-19 di masyarakat. (ant)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.