Alexa Metrics

Dua Kecamatan di Lebak Dilanda Kekeringan Parah

Dua Kecamatan di Lebak Dilanda Kekeringan Parah ILustrasi

indopos.co.di -Dua kecamatan di Kabupaten Lebak mengalami kekeringan. Guna mengatasi kekeringan selama musim kemarau ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) setempat, mengoptimalkan pompanisasi.

Jadi, tanaman padi yang membutuhkan air bisa diselamatkan agar tidak puso atau gagal panen.  ”Semua lokasi pertanian yang kekeringan kami sebar bantuan pompanisasi. Kami harapkan tanaman padi milik warga yang kekeringan kembali teraliri air,” terang Kepala Distanbun Lebak Rahmat Yuniar kepada INDOPOS, Selasa (1/9).

Menurut Rahmat juga, penyaluran bantuan pompanisasi itu untuk mengamankan produksi pangan. Sebab, tanaman padi yang mengalami kekeringan berusia tanam antara 30 hari setelah tanam (HST) sampai dengan 50 HST.

Hasil inventalisir sementara ini, areal persawahan di Kabupaten Lebak yang terancam mengalami kekeringan tercatat 295 hektare yang tersebar di dua kecamatan yakni Malingping dan Warunggunung.

”Kekeringan akibat kemarau yang menyebabkan debit air saluran irigasi menyusut. Karena air yang ada di situ maupun sungai menyusut tajam. Dari 295 hektare yang terancam kekeringan berat, 162 hektare lainnya kondisinya kekeringan ringan,” bebernya.

Menurut dia juga, pengoptimalan pompanisasi itu dilakukan terhadap petani yang memiliki sawah di Daerah Aliran Sungai (DAS), di antaranya di Sungai Ciujung, Ciberang, Cisimeut, Cilangkahan, dan Sungai Cimadur.

”Air permukaan sungai itu bisa dimanfaatkan untuk pengairan lahan persawahan, guna penyelamatan tanaman padi yang kekeringan akibat ketiadaan pasokan air,” ujarnya lagi.

Rahmat juga mengatakan, ratusan hektare areal pesawahan di Kecamatan Malingping dan Warunggunung itu sudah mengalami kekeringan sejak satu bulan terakhir. Kalau tidak dibantu suplay air, tanaman padi petani yang telah berusia kurang lebih 4-5 minggu itu terancam gagal panen.

”Saya sudah meminta kepada unit pelaksana teknis (UPT) pertanian setiap kecamatan mengupayakan bantuan kepada petani dengan program pompanisasi. Tentunya, jika di daerah sekitar areal pesawahan ada air permukaan yang bisa dimanfaatkan,” tandasnya.

Berdasarkan pantauan INDOPOS, kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak sejak dua bulan belakangan membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan. Bukan hanya tanaman, warga di beberapa daerah itu juga mulai mengalami krisis air bersih. Lantaran banyak sumur warga yang mengalami kekeringan.

Nur Aini, 45, warga Kampung Alun Alun, Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, mengaku sejak beberapa hari terakhir terpaksa berjalan kaki sejauh 1 kilometer (km) untuk mendapatkan air bersih di sumur bor milik perkebunan pepaya california binaan BPN Banten yang ada di Kampung Pasir Makam. ”Untung ada air bersih gratis di sumur perkebunan pepaya milik BPN,” terangnya.

Sementara, Sahiman warga Kampung Kalahang, Desa Padasuka, dan Dayat, warga Kampung Cempa, Desa Cempaka, dua daerah itu masuk Kecamatan Warunggunung, mengatakan harus antre untuk bisa mandi di MCK (mandi, cuci dan kakus) milik musala dan masjid yang ada di desa mereka.

”Kami berharap bantuan air bersih dari pemerintah daerah juga dapat memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan kakus. Bukan hanya untuk tanaman saja. Karena saat ini memasuki musim kemarau, air bersih sulit didapatkan,” ujar Sahim.

Menurut keduanya, tidak semua warga di desanya mengalami krisis air bersih. Lantaran sumur jet pump dan satelit, milik warga masih mengeluarkan air. ”Yang mengalami kekeringan itu hanya warga yang memiliki sumur timba dan mesin semi jet pump,” cetusnya.

Dayat juga mengungkapkan warga di desanya yang berekonomi mampu banyak yang  menggunakan jasa tukang ojeg untuk mengangkut air bersih dengan ongkos antara Rp10 ribu sampai Rp20 ribu untuk satu bak mandi berukuran 2×1,5 meter.

”Kami sudah dua pekan ini dilanda krisis air bersih karena sumur mengering,” katanya juga. Bahkan, untuk keperluan konsumsi sehari-hari, Hidayat dan beberapa warga lainnya terpaksa membeli air galon isi ulang dengan harga Rp4 ribu per galon. ”Mau tidak mau kami membeli air galon isi ulang untuk masak,” katanya.

Terpisah, Sekda Lebak Dede Jaelani membenarkan untuk mengantisipasi kekeringan di areal pesawahan, Pemkab Lebak melakukan antisipasi dengan memaksimalkan pompa air di sejumlah titik yang rawan kekeringan.

”Selain itu, Distanbun juga mengoptimalkan peran kelompok tani dalam teknis pembagian dan pengaturan pengairan irigasi selama musim kemarau ini,” ujar mantan Kepala Bappeda Lebak ini. (yas)



Apa Pendapatmu?