Alexa Metrics

DKI Butuh Banyak Ruang NICU

DKI Butuh Banyak Ruang NICU Petugas medis unit gawat darurat Melasari, menunjukkan ruang isolasi untuk pasien virus corona atau Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Slamet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (3/3/2020). (Foto: ANTARA/Adeng Bustomi)

indopos.co.id – Penanganan Virus Corona atau COVID-19 di Jakarta hendaknya tidak hanya konsentrasi pada orang dewasa dan anak-anak saja. Tetapi juga terhadap bayi yang rawan terpapar virus mematikan tersebut. Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Iman Satria. Dia mengusulkan, perlu ditambah fasilitas NICU untuk menjaga kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam kondisi lemah, apalagi kalau sampai terpapar Corona.

Dari statistik, lanjut Iman, setiap tahun sekitar 10-15 persen bayi prematur yang harus dirawat di fasilitas ini. Sedangkan fasilitas NICU masih sangat kurang di Jakarta. Selain itu, butuh biaya besar untuk menunjang operasional NICU. Tentu tarif yang dibebankan kepada orang tua pasien sangat mahal.

”Biaya rata-rata perawatan di NICU sekitar Rp 2 juta per hari. Tentu masyarakat ekonomi lemah tidak mampu menjangkaunya,” kata Iman, di Jakarta, kemarin.

Karena itulah, banyak warga yang mengeluhkan soal biaya. Sehingga banyak yang memilih untuk membawa pulang si bayi dan merawatnya sendiri di rumah.

”Banyak laporan yang saya dapat, warga yang tidak mampu merawat bayi prematur di rumah. Padahal itu sangat berisiko bagi keselamatan si bayi,” ungkapnya.

Politisi Partai Gerindra ini menyoroti serapan anggaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cipayung yang hanya sebesar 75,61 persen pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2019.

”Kita berharap RSUD Cipayung bisa fokus pada perawatan bayi yang memerlukan ruang NICU dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Karena saya tahu saat ini masih sangat minim,” ungkapnya.

NICU merupakan tempat pertama yang akan dituju oleh para bayi dengan kebutuhan khusus sejak dilahirkan. Layaknya Unit Gawat Darurat (UGD), NICU juga merupakan unit reaksi cepat, hanya saja dikhususkan untuk bayi. Tugas utama NICU adalah menjaga kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam kondisi lemah sampai tubuhnya mampu beradaptasi sendiri.

Lamanya perawatan tergantung tingkat kesehatan bayi, standarnya sampai berumur 28 hari. Unit ini beranggotakan dokter anak dengan spesialisasi masing-masing. Di antaranya ahli saraf, terapis pernapasan dan okupasi, ahli diet dan nutrisi, serta spesialis laktasi. Namun keberadaan tim dokter membutuhkan kehadiran orangtua agar perawatan bisa berjalan maksimal.

Penanganan intensif NICU membutuhkan peralatan lengkap dengan teknologi mutakhir untuk mendukung kinerjanya. Yakni alat bantu pernapasan, inkubator dan alat monitor. Selain itu, tentunya obat- obatan, dokter dan perawat harus terus memantau kondisi bayi. Berbagai peranti monitoring digunakan, seperti pendeteksi khusus detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, kadar oksigen, dan berbagai alat pemindai.

Tersisa 38 ruang NICu Berdasarkan data Dinas Kedehatan DKI Jakarta ruang NICU hanya tersisa 38 tempat tidur. Sedangkan tempat tidur PICU tersisa 9, ruang rawat inap High Care Unit (HCU) tersisa 40, dan ruang rawat inap Intensive Coronary Care Unit (ICCU) tersisa 17. Untuk ruang isolasi, tersisa 140 tempat tidur isolasi untuk pasien COVID-19 di 17 RSUD di seluruh Jakarta.

Kemudian ketersediaan ruang Intensive Care Unit (ICU) di seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di DKI Jakarta telah terisi lebih dari 90 persen. Hingga Selasa (1/9) pukul 11.18 WIB, hanya tersisa 4 ruang ICU di 4 RSUD. Yakni RSUD Pesanggarahan, Jakarta Selatan, RSUD Tebet, Jakarta Selatan; RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, dan RSUD Cengkareng, Jakarta Barat.

Selanjutnya, tersisa 27 tempat tidur rawat inap ruang VIP di 5 rumah sakit. Yani 5 tempat tidur di RSUD Tarakan, 1 tempat tidur di RSUD Tugu Koja, 5 tempat tidur di RSUD Pasar Minggu, 8 tempat tidur di RSUD Budhi Asih, dan 8 tempat tidur di RSUD Cengkareng.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia mengatakan, data kapasitas tempat tidur itu tidak dapat dijadikan acuan untuk melihat ketersediaan ruang rawat bagi pasien COVID-19. Pasalnya, menurut Dwi, data tersebut merupakan ketersediaan ruang rawat inap yang diisi pasien yang terpapar COVID-19 maupun penyakit non COVID-19.

”Itu kondisi bed total, bukan untuk khusus COVID-19. Jadi, tidak bisa jadi acuan untuk melihat ketersediaan bed COVID-19 dan non COVID-19,” ujar Dwi, kemarin. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, jumlah kasus aktif COVID-19 di Ibu Kota menurun selama sepekan terakhir.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menjelaskan, kasus aktif diukur berdasarkan angka kasus baru dikurangi angka sembuh, lalu dikurangi lagi dengan angka pasien meninggal.

”Kita menemukan kasus baru, dia masuk ke dalam sistem, yang biasa disebut sebagai active case finding kasus baru. Lalu ada yang di ujung sistem ini ada dua. Satu recovery (pulih, sehat kembali), satu meninggal. Nah, Alhamdulillah dalam pekan terakhir ini jumlah kasus aktif itu menurun secara signifikan,” papar Anies.

Dengan begitu, lanjutnya, jumlah orang yang harus dirawat atau isolasi berkurang. Begitu pun angka kematian di DKI Jakarta juga turun. Saat ini case fatality rate di DKI adalah 3 persen. Sedangkan tingkat kematian secara global itu 3,4 persen dan di Indonesia 4,3 persen. (dni)



Apa Pendapatmu?