Alexa Metrics

Kemenhub Tanggapi WHO yang Tidak Rekomendasikan Syarat Rapid Test

Kemenhub Tanggapi WHO yang Tidak Rekomendasikan Syarat Rapid Test Penumpang di bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II.

indopos.co.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menanggapi pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) terkait test cepat atau “rapid test” COVID-19 yang tidak direkomendasikan sebagai syarat bertransportasi dengan angkutan massal.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati mengatakan, pihaknya memang kembali lagi merujuk pada satu lembaga atau kementerian yang lebih punya wewenang.

“Disitu ada satgas, dalam satgas ini ada unsur Kementerian Kesehatan,” ujarnya saat diskusi daring, Panduan Protokol untuk Operasi Bisnis Berkelanjutan: Industri Transportasi Publik di Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Adita menegaskan, hingga saat ini Kemenhub masih merujuk pada Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 9, yang mewajibkan tes cepat dan tes swab/PCR. Pihaknya juga telah mengadakan kajian melalui kerja sama dengan Universitas Indonesia untuk mengevaluasi apakah syarat atau protokol kesehatan dalam bertransportasi sudah efektif.

“Ada beberapa rekomendasi yang kami sampaikan ke Satgas,” katanya.

Saat ini menurut Adita, pihaknya masih menggunakan tes cepat hasil nonreaktif sebagai syarat sah seseorang bisa menggunakan moda transportasi umum. “Kami masih menunggu apa yang nantinya jadi keputusan. Sampai adanya ketentuan baru, kami masih merujuk ketentuan yang ada sekarang,” pungkasnya.

WHO tidak merekomendasikan tes cepat atau “rapid test” untuk mengetahui seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak sebagai syarat bepergian dengan moda transportasi umum.

Lebih lanjut, WHO tidak pernah merekomendasikan tes cepat berbasis antibodi untuk kepentingan apapun selain penyelidikan epidemologis.

Menurut, National Professional Officer WHO Indonesia Dina Kania hasil tes cepat yang diadakan di sejumlah simpul transportasi, seperti bandara dan stasiun dinilai tidak valid. “Tidak,” ujarnya.

Dalam pernyataan resminya, WHO tidak merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat berbasis deteksi antibodi untuk perawatan pasien. Tetapi mendorong dilanjutkannya upaya menetapkan kegunaannya dalam pengawasan penyakit dan penelitian epidemiologis.

Dengan keterbatasan data yang tersedia sampai saat ini, WHO saat ini tidak merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat berbasis deteksi antigen untuk perawatan pasien. Tetapi sangat mendukung dilakukannya penelitian lanjutan untuk mengetahui kinerja dan potensi kegunaan diagnostiknya.

Sementara itu, Lalu lintas angkutan udara di 19 bandara PT Angkasa Pura II (Persero) pada Agustus 2020 mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Jumlah penerbangan pada Agustus 2020 tercatat 25.041 penerbangan atau naik 17% dibandingkan dengan Juli 2020 sebanyak 21.431 penerbangan.

Sementara itu, jumlah pergerakan penumpang meningkat hingga 38% menjadi 2,10 juta orang dari sebelumnya 1,52 juta orang.

Adapun volume angkutan kargo stabil di angka sekitar 49 juta kilogram.

President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan, peningkatan lalu lintas penerbangan ini didorong membaiknya permintaan masyarakat terhadap penerbangan.

Dia menambahkan, di tengah peningkatan penumpang pesawat, PT Angkasa Pura II dan stakeholder lainnya seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan Kementerian Kesehatan (KKP Kemenkes) dan maskapai berkomitmen menjaga agar protokol kesehatan dapat dijalankan secara ketat.

Setiap penumpang harus melalui pengecekan suhu tubuh dan pemeriksaan surat hasil rapid test atau PCR test.

“Fasilitas di bandara juga mengedepankan touchless serta physical distancing, dan tersedia hand sanitizer dan wastafel yang dapat digunakan traveler. Secara berkala, juga dilakukan disinfeksi di seluruh sisi bandara dan terminal penumpang. Setiap personel bandara wajib menggunakan APD (alat pelindung diri), begitu juga traveler atau pengunjung wajib menggunakan masker ketika berada di bandara,” jelasnya.(ant/dai)



Apa Pendapatmu?