Adopsi Cara Pesta dari Thailand, Polda Metro Jaya Ungkap Sindikat Gay

indopos.co.id – Satu persatu para tahanan gay dengan baju orange merunduk malu. Sebab, petugas Kepolisian Polda Metro Jaya mengeluarkan kesembilan tahanan gay itu dari jeruji besi untuk diungkap kepada warga masyarakat.

Perbuatan asusila yang mereka perbuat (suka sesama jenis) sudah sangat jelas tidak diperbolehkan/dilarang di Indonesia Perawakan pria gay itu terbilang masih muda, namun perbuatan menyimpang mereka tidak patut dicontoh.

Bagaimana peranan mereka, bagaimana kasusnya terungkap aparat Kepolisian? inilah kisah langkah pelaku gay yang terciduk oleh aparat di lapangan. Sembilan orang gay ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pencabulan gay atau pornografi di sebuah tempat di Kuningan Suite, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Ke-9 orang itu punya peranan masing-masing. Mereka merupakan penyelenggara pesta tersebut. “Sembila tersangka itu penyelenggaranya langsung dalam perbuatan cabul atau pornografi, melakukan pesta seks di suatu tempat,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus pada wartawan, Rabu (2/9/2020).

Baca Juga :

“Totalnya ada 56 orang yang di temukan saat dilakukan pengg erebakan pada 29 Agustus. Tapi, sembilan orang yang diamankan selaku penyelenggara, sedangkan 47 orang lainnya sebagai saksi,” beber Yusri.

Yusri menerangkan kembali, para pelaku merekrut peserta pesta gay melalui grup di media sosial, yakni WhatsApp dan Instagram. Di grup medsos yang bernama Hot Space, totalnya ada sekitar 230 anggota.

Baca Juga :

Sebanyak 150 anggota ada di grup WhatsApp, sedangkan 80 anggota ada di grup Instagram.

“Kegiatan cabul itu dilakukan dengan membuat undangan. Pelaku TRF membuat undangan berjudul ‘Kumpul -Kumpul Pemuda’ untuk perayaan. Lalu dipromosikan melalui group medsos yang ada,” ungkap dia.

Ia juga membeberkan, persiapan pesta gay itu dilakukan selama satu bulan dengan dalih perkumpulan pemuda guba merayakan hari Kemerdekaan. Padahal, modusnya sengaja mempermudah orang-orang melakukan hubungan cabul sesama jenis. Setelah mendata calon peserta, penyelenggara lantas membuat aturan bagi para peserta yang hendak datang.

Peserta diwajibkan membayar tiket sebesar Rp150 ribu per orang. Sedangkan saat datang bertiga dikenakan harga tiket Rp350 ribu.

“Setiap peserta wajib menggunakan dresscode menggunakan masker warna merah putih. Di dalam, mereka ada yang berperan sebagai perempuan dan ada yang berperan sebagai laki-laki, lalu melakukan permainan,” ungkap Yusri.

Para tersangka mengaku, menirukan mengadakan pesta gay dari Thailand. “Penyelenggara ini terinspirasi dari acara pesta sex khusus homo di Thailand saat berkunjung ke Thailand, dia belajar lalu mempraktekannya,” kata Yusri.

Menurut Yusri, beberapa aturan yang ditetapkan penyelenggara kepada pesertanya antara lain, tak boleh memawa sajam dan narkotika, membersihkan diri atau mandi sebelum acara dimulai, wajib membayar tiket, dan saat di lokasi acara peserta wajib pakai celana dalam atau telanjang bulat.

“Setiap peserta wajib pakai dresscode masker warna merah putih. Di dalam, ada yang sebagai perempuan atau disebut BATEM dan ada yang sebagai laki-laki atau disebut TOP. Pestanya dibuat seperti permainan atau game,” pungkas dia.

Penyelenggara juga mengakui bahwa pesta gay di Setiabudi, Jakarta Selatan, sudah beberapa kali diselenggarakan. Bahkan, komunitas gay itu sudah terbentuk sejak 2018.

“Selama ini, mereka sudah enam kali melakukan kegiatan cabul (pesta gay) di tempat berbeda-beda,” kata Yusri.

“Saya tak bisa sebutkan secara rinci, tapi tempatnya biasanya di hotel atau apartemen di Jakarta semua, lalu ditarik bayaran. Rata-rata mereka usianya 20-40 tahun dan mereka bukan mencari keuntungan, tapi hanya kesenangan,” ulas Yusri.

Saat pesta dimulai, para peserta menghirup obat perangsang demi membuat permaianannya itu lebih menyenangkan. Dari sembilan penyelenggara yang diamankan itu, satu di antaranya diketahui mengidap HIV.

“Kita sudah cek protokol kese hatan, dilakukan rapid test dan semuanya negatif. Namun, kita akan cek kembali semuanya secara kesehatan,” tegas Yusri. Akibat perbuatannya itu, para tersangka dijerat pasal 296 KUHP dan atau pasal 33 Jo Pasal 7 UU No. 44/2008 dan atau pasal 36 Jo pasal 10 UU No. 44/2008 dengam ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (ibl)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.