Alexa Metrics

Tekan Kasus DBD, Pemkot Yogyakarta Perluas Penyebaran Nyamuk Aedes Aegypti

Tekan Kasus DBD, Pemkot Yogyakarta Perluas Penyebaran Nyamuk Aedes Aegypti Penyebaran nyamuk aedes aegypti mengandung bakteri wolbachia di Kelurahan Rejowinangun Yogyakarta untuk menekan kasus demam berdarah, Rabu (2/9). (Foto: ANTARA/Eka AR)

indopos.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyebar nyamuk aedes aegypti. Nyamuk mengandung bakteri wolbachia itu, disebar merata untuk menekan kasus demam berdarah dengue (DBD). Itu setelah disebar pada sejumlah wilayah sebagai sasaran uji coba.

”Pada awalnya, mungkin akan ada lebih banyak nyamuk di lingkungan masyarakat. Tetapi, tidak perlu risau. Masyarakat tetap bisa memakai obat nyamuk atau melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” tutur Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi, di Kotagede, Yogyakarta, Rabu (2/9).

Nyamuk aedes aegypti mengandung bakteri wolbachia diharap menginfeksi nyamuk aedes aegypti lain. Itu dengan harapan populasi nyamuk mengandung bakteri wolbachia semakin banyak. Bakteri wolbachia dinilai dapat menahan laju replikasi virus dengue yang dibawa nyamuk penyebab DBD.

Uji coba penggunaan nyamuk berwolbachia untuk menekan kasus DBD Kota Yogyakarta dilakukan sejak 2011. Diawali dari Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan. Nah, dari uji coba itu, kasus demam berdarah turun. Selanjutnya, penyebaran nyamuk berwolbachia diperluas setiap tahun. ”Tahun ini, seluruh wilayah Yogyakarta sudah menjadi sasaran penyebaran,” imbuhnya.

Heroe berharap, kasus demam berdarah Kota Yogyakarta bisa ditekan secara signifikan. Pada 2016, total demam berdarah mencapai sekitar 1.700 kasus. Sepanjang tahun lalu, kasus turun menjadi sekitar 300 kasus. ”Jadi, nyamuk berwolbachia berperan signifikan menekan kasus DBD,” tukasanya.

Salah satu wilayah sasaran penyebaran nyamuk berwolbachia tahun ini Kelurahan Rejowinangun dengan 420 ember berisi telur nyamuk untuk ditetaskan. Kegiatan penyebaran nyamuk berwolbachia di Kota Yogyakarta dilakukan bersama dengan World Mosquito Program (WMP), dan Yayasan Tahija.

Sementara itu, Peneliti Pendamping WMP Riris Andono Ahmad mengatakan awalnya Kota Yogyakarta dibagi dalam 24 kluster. Terdiri dari 12 kluster sasaran, dan 12 kluster sebagai pembanding. ”Penyebaran nyamuk berwolbachia itu, mampu menurunkan 77 persen kasus DBD. Misalnya, di daerah pembanding ada 100 kasus, di daerah sasaran ada 33 kasus,” ucapnya.

Heroe berharap, saat nyamuk berwolbachia sudah disebar merata di seluruh Kota Yogyakarta, jumlah kasus demam berdarah akan semakin turun. Usaha pengendalian kasus demam berdarah dengan nyamuk berwolbachia tersebut bakal diperluas hingga Kabupaten Sleman. (ant)



Apa Pendapatmu?