Harga Vaksin COVID-19 Mencekik Rakyat, Tiap Orang Wajib Suntik Dua Kali

indopos.co.id – Pemerhati kesehatan, Iskandar Sitorus mengatakan, agak ada keanehan jika vaksinasi Covid-19 harus diberikan dua kali suntik kepada penerima dengan rentang waktu dua pekan. Padahal, standar vaksin itu hanya disuntikkan sekali. Selain itu, harga vaksin yang dibebankan kepada mayarakat dinilai terlalu mahal dan mencekik rakyat yang sedang dalam kondisi sulit.

“Selain itu, parameter untuk mengukur harga vaksin juga menjadi unik jika hanya memperbandingkan dengan Sinovac. Karena sudah ada konsensus dunia bahwa ada 172 negara di WHO untuk penggunaan vaksin secara bersama,” ujar Iskandar Sitorus di Jakarta, Rabu (2/9).

Baca Juga :

Menurut Iskandar, harusnya negara merujuk penggunaan vaksin berdasarkan konsensus dunia. Iskandar pun mengaku bingung dengan  pemerintahan Jokowi yang tidak merujuk penggunaan vaksin berdasarkan konsensus dunia. Harusnya pemerintah mempertimbangkan kajian – kajian yang dilakukan para pakar untuk membantah pernyataan – pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir.

“Kami bingung kenapa pemerintahan Jokowi tidak merujuk kesitu. Tapi malah merujuk ke Sinovac. Jadi kajian – kajian itu yang harus dikedepankan untuk membantah pernyataan – pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo mempertanyakan jika tarif vaksin Covid-19 sudah dipatok dengan harga Rp440 ribu. Karena hingga saat ini vaksin untuk mengatasi sebaran Covid-19 juga masih dalam proses atau pengembangan. Oleh karena itu politisi PDI Perjuangan ini meminta agar tidak mengangkat suatu masalah yang belum tentu akurasinya. Karena saat ini vaksin untuk mengatasi penyebaran Covid-19 masih dalam proses.

“Jadi jangan tergoda atau termakan dengan isu – isu diluar ketentuan,” ujarnya.

Rahmad menegaskan, jika ada kejanggalan terkait penyediaan vaksin maka dipastikan parlemen akan mengawal untuk mengetahui besaran harga vaksin tersebut. Rahmad mengakui, penyediaan vaksin Covid-19 memang menjadi bisnis besar bagi pihak yang mampu menyediakan vaksin Covid-19 tersebut. Oleh karena itu Rahmad berharap semua bisa kondusif.

“Berikan kesempatan kepada anak – anak muda untuk menemukan vaksin, baik melalui kerjasama dengan luar negeri, atau hasil pengembangan sendiri,” ungkapnya.

Terkait apakah vaksin anti Covid-19 bisa gratis, Rahmad menuturkan, vaksin anti Covid-19 bisa diberikan secara gratis untuk peserta BPJS Kesehatan. Namun diberikan juga kesempatan bagi pihak – pihak yang ingin membeli vaksin Covid-19 nantinya. Apalagi jika mendengar paparan dari Kepala gugus tugas Covid-19 bahwa vaksin bisa diberikan negara atau bisa membeli sendiri.

“Namun kami mendorong baik vaksin Covid-19 pengembangan sendiri atau dibeli dari luar negeri akan diberikan secara gratis,” bebernya.

Hal yang sama diungkapkan Ketua Umum Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang. Dia mengatakan, adanya harga vaksinasi Covid-19 yang fantastis dan dilakukan dua kali seperti yang dikatakan Menteri BUMN Erick Thohir menunjukan bahwa pemerintah saat ini sangat tidak kreatif. Selain itu pemerintah juga tidak jujur untuk mengakui ketidak mampuannya mengelola ekonomi nasional yang saat ini sedang terpuruk.

“Dari cara menyediaan vaksin ini menjelaskan bahwa pemerintah hanya ingin mencari uang dengan membebankannya pada rakyat,” katanya.

Eki, panggilan akrab Edysa menuturkan,harusnya pemerintah menyediakan dan mempasilitasi rakyat untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19. Oleh karena itu vaksinasi hingga dua kali dengan harga yang fantastik merupakan akal-akalan pemerintah.

Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, harga tersebut didapat karena tiap orang harus mendapat dua kali vaksinisasi. “Nah setelah dihitung harganya USD 25-30 range-nya,” ujarnya.

Artinya, jika dirupiahkan, maka satu orang untuk dilakukan dua kali vaksinasi membutuhkan biaya sekitar Rp 440.448. Angka tersebut didapat dengan asumsi kurs Rp 14.681 per USD.  Erick menambahkan, PT Bio Farma (Persero) telah bekerja sama dengan Sinovac terkait bahan baku vaksin Covid-19. Jika pada akhir 2020 ini vaksin itu bisa diproduksi, maka Bio Farma harus membeli bahan bakunya ke Sinovac seharga 8 dollar AS per dosisnya.

“Memang harga yang sudah dikerjasamakan dengan Sinovac itu untuk 2020 harganya per dosis bahan bakunya 8 dollar AS, tapi di 2021 harganya 6-7 dollar AS, jadi ada penurunan. Ini bahan baku,” kata Erick. (nas)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.