Alexa Metrics

Pandemi Bikin Serie A Kelabakan dan Bertele-tele

Pandemi Bikin Serie A Kelabakan dan Bertele-tele

indopos.co.id – Sepak bola Italia tidak berjalan dengan cara yang sama seperti liga Eropa lain. Itu menjadi salah satu alasan utama mengapa Serie A mengalami kesulitan finansial dibandingkan dengan lima liga top Eropa lainnya. Masalah pasti akan menumpuk lagi musim panas ini. Sesi transfer berlangsung dari 1 September hingga 5 Oktober. Musim dimulai pada 19 September.

Klub-klub Serie A hanya membuka jendela transfer sekitar satu bulan. Periode ini kelewat singkat jika dibandingkan dengan lima liga top Eropa lainnya.

Jendela Liga Premier sudah berjalan selama 10 minggu. Bahkan setelah batas waktu 5 Oktober, klub masih diizinkan melakukan transfer domestik selama 11 hari lagi.

Bundesliga punya dua jendela transfer, dengan jendela kedua berlangsung hingga Oktober. Jendela La Liga akan berlangsung beberapa bulan dan Ligue 1 memiliki dua jendela yang berbeda. Apakah ini akan membuat klub-klub Italia berada pada posisi yang sangat merugikan di sepak bola Eropa masih harus dilihat, tetapi kekurangan hari untuk menyelesaikan kesepakatan tidak membantu siapa pun selama masa-masa sulit ini.

Seri A selalu melihat menerapkan kebijakan pinjaman dan kewajiban untuk membeli kesepakatan. Kesepakatan ini mincul karena kendala keuangan klub.

Tidak heran kalau Serie A menjadi sasaran ejekan penggemar klub asing karena memilih cara ini. Dan, fakta itu selalu terjadi berulang-ulang. Penggemar Serie A berharap lebih banyak gentleman agreeman terjadi pada musim panas ini. Pembelian Sandro Tonali dari Brescia ke Milan adalah contoh utama.

Di situlah pengaruh pandemi sangat terasa. Klub memiliki kendala waktu karena jendela dan sistem keuangan yang lebih pendek imbas pandemi. Pandemi ini seperti pedang bermata dua. Ia semakin mempersulit posisi klub mendapatkan kesepakatan di luar batas itu. Ini mungkin tidak berdampak nyata pada klub-klub besar, tetapi tim-tim di peringkat bawah pasti akan mengalami masalah. Lebih dari itu, kasus virus korona belum benar-benar berlalu. Kasus-kasus bermunculan di Cagliari, Parma, Fiorentina, Roma,  dan banyak lagi.

Dalam beberapa musim terakhir, klub-klub besar Italia belum terlalu kompetitif di pasar untuk mendapatkan superstar global dan kapasitas untuk bersaing dengan klub La Liga, Bundesliga, atau Liga Premier umumnya berada di sisi yang lebih rendah. Situasi saat ini membuat mereka menjadi sedikit lebih berhati-hati.

Juve ingin meringankan tagihan gaji mereka dengan membuang pemain senior dan idenya adalah untuk menyegarkan kembali skuad yang menua. Lazio harus tahu diri. Musim lalu klub ini gagal menggapai puncak karena kehabisan oksien akibat kurangnya kedalaman dan mencari opsi tambahan di banyak bagian lapangan.

Antonio Conte mencari ‘pemainnya sendiri’ musim panas ini, sementara Roma mulai menyetujui kepemilikan baru Friedkin. Atalanta nampaknya akan menjual Timothy Castagne ke Leicester City. Itu menghadirkan tantangan untuk merekrut pemain yang tepat dan mencapai level yang mereka musim lalu.

Dengan semua batasan tersebut, klub akan mengalami masalah dalam memperbaiki semua masalah mereka. Musim yang dimulai pada 19 September juga tidak akan membantu. Klub mungkin tidak memiliki rekrutan mereka selama beberapa minggu pertama karena karantina.

Itu pasti akan menggagalkan kemajuan mereka dalam kampanye 2020-21. Mungkin, memulai musim sedikit lebih lambat akan membantu rekrutmen baru berlatih dengan tim utama dan mendapatkan kebugaran mereka di jalur yang benar sebelum mereka bermain sepak bola Serie A.

Secara keseluruhan, itu memberi kesan sebagai keadaan yang salah kelola. Meskipun hal itu bukanlah hal baru di Serie A dan banyak yang telah dipaksakan oleh pandemi, hal tersebut tentunya akan merugikan klub-klub saat berlaga di liga atau di kompetisi Eropa. (*)



Apa Pendapatmu?