Evaluasi Penyediaan Listrik Negara, Segera Berdayakan BUMDes Energi

indopos.co.id – Bisa dibayangkan jika di era digitalisasi saat ini, anak Anda belajar dari rumah siang hari, tapi tak dapat sinyal yang mumpuni. Dan saat belajar dari rumah di malam hari malah tak kebagian listrik.

Itulah wajah sebagian desa kita sebenarnya saat ini. Lalu bagaimana mengatasi kendala ini?

Pertanyaan di atas bisa jadi akan menciptakan wacana soal perlukah adanya evaluasi penyediaan listrik negara?

“Saat ini, ada empat tantangan dan kendala kelistrikan di desa. Pertama, skala ekonomi tingkat desa relatif kecil. Kedua, investasi kelistrikan kurang menarik jika hanya melayani pengguna domestik dan non-produktif,” ujar penggagas Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjarmiko saat berbicara dalam Webinar ‘Strategi Penyediaan Listrik Desa untuk Perekonomian Desa’ di Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Lalu, kontur dan topologi desa, dikatakan Budiman, menjadi tantangan. Kendala ketiga dan mempersulit pengembangan sistem pembangkit dan distribusi listrik secara on-grid.

“Sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang tidak merata di semua desa menjadi tantangan. Kendala keempat sehingga diperlukan market dan system integrator,” papar dia.

Padahal, saat ini, tren penyediaan listrik di masa depan sebenarnya harus semakin terdistribusi. Solusi tenaga listrik yang otonom, modular dan portable akan menjadi prioritas.

Lalu teknologi penyimpanan energi (energy storage) yang efisien menjadi kunci penyediaan dan pengelolaan kelistrikan masa depan.

“Sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) berkembang terus dan menjadi peIuang bagi desa untuk mengambil peran Iebih besar,” jelas Budiman.

Dia mencontohkan, ada tiga sumber EBT yang bisa dikembangkan oleh desa yakni tenaga surya, air dan angin.

Pengembangan tiga sumber EBT tadi, lanjut Budiman, bisa dilakukan lewat sejumlah tahapan pengembangan kelistrikan desa. Dengan cara, pertama energi audit.

“Harus ada demand analisis yang akan menghitung kebutuhan daya Iistrik desa secara akurat. Lalu resources anaIysis, yakni pemllihan sumber energi Iistrik (stand-alone/hybrid),” beber Budiman.

Kemudian kata Budiman, system design and development yang mencakup perancangan sistem pembangkit Ilstnk dan teknik distribusi (on-grid/off-grid).

Ketiga, business models development yang merupakan rancangan kolaborasi multipihak. penentuan tarif dan sistem insentif. Lalu rancangan model bisnis untuk mempersingkat waktu Break Even Point (BEP).

Keempat, pengelolaan value chain dan kelembagaan usaha lewat pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Energi bekerjasama dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara), investor, koperasi dan industri.

“Intinya, kita harus kembali ke desa. Termasuk dalam upaya penyediaan listrik yang bisa dilakukan oleh desa bekerjasama dengan stakeholder terkait,” pungkasnya.(mdo)

 

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.