Alexa Metrics

Inovasi dan Improvisasi dalam Kampanye dan Diplomasi Sawit Perlu Dilaksanakan

Inovasi dan Improvisasi dalam Kampanye dan Diplomasi Sawit Perlu Dilaksanakan Ilustrasi. Kelapa Sawit.

indopos.co.id – Diperlukan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, dalam menghadapi diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa. Misalnya dengan melibatkan aspek kampanye, penelitian, sosialisasi, lobi dan diplomasi.

Hal itu disampaikan anggota Komisi VI Lamhot Sinaga dalam Rapat Kerja dengan Kementerian Perdagangan, belum lama ini. Langkah-langkah komprehensif tersebut menurutnya makin intensif dilakukan oleh Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga. Itulah sebabnya anggota Komisi VI ini mengapresiasi Wamendag.

Dalam pantauan dewan, Wamendag sudah mengupayakan langkah-langkah yang diperlukan. Agar wacana kelapa sawit tidak hanya didominasi oleh Uni Eropa yang kontra saja.

Tetapi juga kita mampu berperan dalam kampanye bahwa banyak keunggulan dan sisi positif kelapa sawit.

Menanggapi apresiasi tersebut, Jerry mengatakan, upaya-upaya inovasi dan improvisasi dalam kampanye dan diplomasi sawit adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan sawit secara keseluruhan.

“Pemerintah melakukan segala upaya agar sawit memberikan dampak positif yang maksimal bagi ekonomi dan masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam keterangan persnya, Jumat (4/9/2020).

Lebih lanjut Jerry mengatakan, pembangunan sawit ini multi sektor. Ada Kementerian dan Lembaga yang berkontribusi memperbaiki tata kelola perkebunan dan aspek pengembangan. Pihaknya berfokus pada aspek perdagangannya.

“Nah secara lintas kementerian kami terkoordinasi dalam arahan Presiden dan Pak Menko (Menteri Koordinator). Sementara untuk internal saya ikut dalam arahan dan koordinasi Pak Mendag. Semua itu agar hasilnya baik buat semua. Bukan hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dampak sosial dan ekologisnya,” jelas Jerry.

Menurut dia, kekuatan kampanye sawit Indonesia harus tercermin dalam wacana publik baik di dalam maupun di luar negeri. Kampanye negatif kelapa sawit merugikan banyak pihak di Indonesia. Bahkan juga konsumen itu sendiri yang akhirnya harus memilih produk pengganti yang tidak lebih murah dan tidak lebih ramah lingkungan.

Oleh karena itu perlu upaya bukan hanya mengimbangi kampanye negatif sawit tersebut tetapi juga mengatasinya.

“Semua orang sebenarnya dirugikan dengan kampanye negatif sawit. Termasuk konsumen di seluruh dunia. Oleh karena itu perlu ada counter wacana yang baik,” jelas Jerry.

Menurut dia, Kementerian Perdagangan adalah kementerian yang memang sudah seharusnya menjadi pemimpin dalam kampanye dan diplomasi positif kelapa sawit.

Ini sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Kemendag yang memang diberikan tugas dalam pengembangan perdagangan, penyelesaian sengketa dan urusan teknis perdagangan lainnya.

Konteks terbaru yang sedang dilakukan adalah dilakukannya gugatan atas diskriminasi sawit oleh Uni Eropa di World Trade Organization (WTO). Indonesia berhasil membawa gugatan ini ke panel yang rencananya akan dimulai Desember ini.

Ketika ditanya mengenai langkah apa yang sebaiknya dilakukan ke depan. Wamen Millenial ini mengatakan, pihaknya sedang menjalin komunikasi yang intensif dan berkoordinasi dengan kalangan dunia usaha dan kementerian terkait.

Dia menargetkan terbentuknya kerangka institusi atau program bersama dimana semua stakeholder bisa berperan dalam perjuangan sawit ke depan.

“Jadi, kita sedang berusaha bersama-sama menyusun kerangka itu. Jadi ke depan, kita sudah punya sebuah pedoman dan job description masing-masing pihak dalam kampanye dan diplomasi sawit yang komprehensif ini,” terang Jerry.

Dengan begitu kata dia, kerja kita semakin baik. Komunikasi semakin harmonis dan tidak ada lagi overlapping baik antar lembaga maupun antar pelaku usaha.

“Kalau itu bisa kita lakukan, pasti hasilnya juga akan lebih maksimal. Ditambah lagi ini sejalan dengan mekanisme gugatan kita di WTO,” pungkasnya.(dai)



Apa Pendapatmu?