Alexa Metrics

Alasan Indonesia Pakai Roket Milik Elon Musk untuk Satelit Satria

Alasan Indonesia Pakai Roket Milik Elon Musk untuk Satelit Satria Roket SpaceX Falcon saat membawa satelit komunikasi Arabsat 6A, Kamis (11/4/2019) (Foto: Thom Baur/wsj/ REUTERS)

indopos.co.id – Indonesia akan segera meluncurkan satelit multifungsi yang diberi nama Satria (Satelit Republik Indonesia). Satelit ini akan diluncurkan dengan roket Falcon 9 5500 dari SpaceX dan pembuatan satelit dipercayakan kepada Thales Alenia Space. Kelak satelit ini, salah satunya, akan mengatasi lambatnya perkembangan kekuatan internet di tanah air khususnya di kawasan pelosok.

Menurut Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso, reputasi yang baik dari Falcon 9 5500 dari SpaceX, perusahaan transportasi luar angkasa milik Elon Musk, menjadi alasan Indonesia menggunakan roket tersebut untuk meluncurkan Satelit Republik Indonesia (Satria).

Sementara untuk pembuatan satelit, Indonesia memilih menggunakan Thales Alenia Space asal Prancis. “Keduanya memiliki reputasi yang baik. Kita pakai Space X yang pernah kita pakai di Nusantara 1. Kita ingin memberikan yang terbaik,” ujar Adi dalam konferensi pers “Penandatanganan Kerjasama Dimulainya Konstruksi Satelit Multifungsi Satria,” yang disiarkan secara langsung, Kamis.

Adi mengungkapkan seluruh pengadaan Satria, termasuk roket, dilaksanakan melalui tender internasional. Selain SpaceX, PSN juga mempertimbangkan pabrikan roket asal China dan Rusia.

Embargo Barat terhadap pemakaian roket China menggugurkan pilihan tersebut. Sementara roket milik Rusia, menurut Adi, belakangan banyak mengalami kegagalan, sehingga pilihan jatuh pada SpaceX.

Sementara itu, Thales Alenia Space harus bersaing dengan empat pabrikan satelit lainnya untuk memenangkan tender Satria, yakni Airbus, Boeing, Lockheed, dan Space Systems Loral (SSL).

“Yang beri jawaban kepada kita, dengan kondisi yang kita inginkan, waktu itu ada tiga. Kita terus nego sesuai jadwal, keuangan dan spesifikasi sehingga beri yang terbaik. Thales waktu itu beri banyak hal yang kita butuhkan dan masalah jadwal yang cukup agresif,” ujar Adi.

Lebih lanjut Adi mengatakan bahwa penandatanganan bersama Thales Alenia Space untuk dimulainya konstruksi Satelit Multifungsi Satria menjadi langkah awal optimisme Satelit Satria dapat meluncur pada 2023.

“Keyakinan kita 2023, salah satu alasan kita mengadakan perjanjian hari ini untuk meyakinkan bahwa pembuatan satelit ini bisa tepat waktu, kalau pun ada risiko sudah kita bangun lebih dahulu sehingga bisa punya margin timing,” Adi menambahkan.

Setelah Satria meluncur, Adi optimistis satelit ini akan mampu melampaui satelit apa pun yang ada di Indonesia dalam hal kapasitas bandwidth yang ditawarkan.

Adi mengatakan proyek Satelit Satria akan melengkapi jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring sepanjang 12.000 km yang diselesaikan pada 2019.

Satelit Satria akan membantu daerah-daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang mulanya tidak terjangkau internet menjadi terjangkau berkat infrastruktur fiber optik dan satelit.

Perjanjian kontrak PSN dengan Thales Alenia Space sebelumnya dilakukan pada 1 Juli 2019 setelah melalui tender internasional. Sementara dengan SpaceX dilakukan 16 Agustus 2019.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan Satelit Republik Indonesia (Satria) yang ditargetkan beroperasi pada 2023, akan memperkuat transformasi ekonomi digital termasuk mendukung digitalisasi sistem pembayaran terutama di daerah yang belum terjangkau jaringan internet.

“Percepatan transformasi digital itu secara langsung dan tidak langsung mendukung ekosistem pembayaran digital masa pandemi dan setelah keluar dari pandemi,” kata Staf Khusus Menteri Kominfo Dedi Permadi dalam webinar sistem pembayaran digital di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, upaya itu dilakukan salah satunya karena potensi yang besar dari pertumbuhan ekonomi digital apalagi pada masa pandemi COVID-19 yang mendorong manusia beradaptasi lebih cepat dengan ekosistem digital.

Selama masa pandemi atau hanya pada April 2020, kata dia, total toko yang menggunakan sistem pembayaran digital mencapai 4,3 juta dengan transaksi mencapai Rp17,6 triliun

Besarnya potensi tersebut mendorong percepatan transformasi digital yang juga diharapkan mendukung kinerja UMKM karena dari sekitar 64 juta pelaku UMKM, baru 14,8 persen atau 9,4 juta yang memanfaatkan transaksi dan bisnis secara digital

Meski begitu, ia mengakui infrastruktur teknologi telekomunikasi di Indonesia masih harus digenjot mengingat masih ada daerah yang tidak terjangkau generasi keempat jaringan internet atau 4G di Tanah Air.

“Ada 479 ribu BTS dan sudah di-deploy di penjuru Indonesia tapi itu belum cukup karena luas wilayah Indonesia begitu besar,” katanya.

Ia merinci dari 83.218 desa dan kelurahan, ada 12.548 desa yang belum terjangkau sinyal 4G memadai sehingga menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan hingga 2022.

Kemudian, lanjut dia, ada 150 ribu titik layanan publik yang belum ada fasilitas internet yang memadai seperti kesehatan, perbankan, dan layanan pemerintahan. (ant)



Apa Pendapatmu?