Alexa Metrics

Industri Properti Lesu, Beginilah Keadaannya

Industri Properti Lesu, Beginilah Keadaannya Ilustrasi. Miniatur rumah. Foto: Istimewa

indopos.co.id- ”Badai” dampak ekonomi Pandemi COVID-19 rupanya menghajar banyak sektor, termasuk dunia properti. Berdasarkan publikasi BPS (Badan Pusat Statistik) terkait perekonomian, PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia di Triwulan II-2020 minus 5,32 persen secara tahun ke tahun. Sektor real estate adalah satu dari sekian banyak lapangan usaha yang berkontribusi pada penurunan pertumbuhan perekonomian di kuartal II.

BPS mencatat, penurunan lapangan usaha real estat mencapai -0,26 persen secara perhitungan kuartalan (qoq). Tentu saja, hal ini menjadi sesuatu yang wajar. Pasalnya, di masa pandemi yang penuh ketidakpastian, makin banyak masyarakat yang menunda untuk membeli properti.

Riset Lifepal.co.id menemukan, dari sekian banyak emiten properti yang melantai di bursa, masih ada emiten yang pergerakan harga sahamnya berada di atas nilai indeks properti, dan ada yang justru di bawahnya. Tak hanya itu, Lifepal juga membandingkan bagaimana penjualan dan keuntungan perusahaan-perusahaan properti tersebut.

Imbasnya, Indeks Sektor Properti, Real Estat, dan Konstruksi Bangunan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan. Kinerja indeks properti pun terlihat masih berada di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Tapi, apakah semua perusahaan atau emiten yang memiliki kegiatan usaha di sektor properti ini juga mengalami penurunan dari sisi harga saham, penjualan perusahaan, hingga keuntungannya?
Calon investor untuk membuat pertimbangan matang, sebelum berinvestasi di emiten properti tertentu.

Ada dua emiten dengan kapitalisasi besar yang kinerjanya mengalahkan indeks properti. Ada dua emiten properti yang kinerjanya sanggup mengalahkan kinerja indeks properti. Mereka adalah PT. Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) dan PT. Pakuwon Jati Tbk. (PWON).

MKPI bergerak dalam bidang pengembangan real estat, penyewaan dan pengelolaan pusat perbelanjaan, apartemen, perkantoran, perumahan dan jasa perawatan, pembersihan dan pengelolaan. Perusahaan ini mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1975.

Sementara itu, PWON adalah adalah sebuah perusahaan berbasis di Surabaya yang bergerak dalam pengembangan properti dengan fokus pada konstruksi pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di Jawa Timur. Seperti dapat dilihat pada grafik performa harga saham di atas, kinerja emiten raksasa properti lainnya yaitu BSDE, CTRA dan LPKR masih di bawah indeks properti.

PWON catat pertumbuhan penjualan dan laba bersih yang cukup baik. Berdasarkan laporan keuangan PWON, tercatat bahwa PWON konsisten mencatatkan kenaikan penjualan dari sebesar 56,5 persen dari Rp4,6 Triliun di 2015 jadi Rp7,2 Triliun pada 2019. Dari segi laba komprehensif, pertumbuhan PWON tampak konsisten. Dalam rentang waktu 2015 hingga 2019, laba komprehensif 128,6 persen dari Rp1,4 triliun, menjadi Rp3,2 triliun di 2019.

Sementara itu, hingga triwulan II-2020, PWON mencatatkan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp524,06 miliar. Selain bisa kalahkan Indeks Properti, performa MKPI bisa ungguli IHSG
Bisa dikatakan bahwa performa MKPI selama lima tahunan memang cukup baik. MKPI pun bisa mengalahkan Indeks Properti BEI maupun IHSG.

Akan tetapi secara fundamental, terhitung sejak 2016 MKPI mengalami penurunan penjualan serta laba.

Seperti diketahui, penjualan MKPI dari 2015 ke 2019 adalah -10,58 persen, yakni dari Rp2,09 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp1,87 triliun di 2019. Sementara itu, laba komprehensif MKPI juga mengalami penurunan sebesar 30,54 persen yaitu dari Rp894,44 miliar di 2015 jadi Rp621,82 miliar pada 2019.

Memasuki triwulan II tahun 2020, emiten ini meraup laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp113,28 miliar. Seperti apa fundamental emiten yang performa sahamnya kalah dari indeks? Selain kedua emiten di atas, ada pula tiga emiten properti dengan kapitalisasi besar yang kinerja sahamnya masih kalah dari indeks properti maupun IHSG.

Yang pertama adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Dari segi penjualan, BSDE mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 14,09 persen, dan laba komprehensif sebesar 43,35 persen dalam rentang 2015 hingga 2019. Sementara itu dalam periode yang sama, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 1,25 persen dan laba komprehensif -26,52 persen.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga menjadi emiten dengan performa serta kinerja keuangan yang kurang baik. Meski kinerja penjualan mereka terlihat tumbuh 41,55 persen dari 2015 ke 2019, namun pertumbuhan laba LPKR justru kurang baik. Tercatat bahwa di tahun 2019, LPKR justru mengalami kerugian sebesar Rp2,27 triliun.

Itulah kinerja dari lima emiten properti dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Pada intinya, dari lima emiten properti berkapitalisasi besar, PWON masih menjadi juara untuk pertumbuhan penjualan dan laba bersih, sementara itu MKPI menjadi juara untuk kinerja sahamnya.(dni)



Apa Pendapatmu?