Pekerja Harap-harap Cemas, Bak Oase di Padang Gersang

indopos.co.id – Sejak pagi, Syaiful terlihat sibuk. Usai mengantarkan anaknya ke sekolah, dia lalu bergegas berangkat ke kantor. Pria yang tahun ini genap berusia 32 tahun ini bekerja di sebuah rumah sakit berplat merah. Statusnya masih outsourcing. Setiap hari dia harus menyiapkan makanan bagi para pasien COVID-19. Sejak Pandemi COVID-19, pria yang tinggal di bilangan Cijantung, Jakarta Timur itu harus rela memasak dalam porsi besar.

Padahal sebelumnya, ayah satu anak ini hanya memasak menu dalam hitungan porsi. “Sekarang porsi masaknya lebih banyak. Karena untuk memenuhi pasien COVID-19. Kalau dulu kan hanya untuk pelanggan hotel saja,” kata Syaiful kepada INDOPOS, Minggu (6/9).

Baca Juga :

Dampak Pandemi COVID-19 dirasakan semua orang. Tak terkecuali Ipul-panggilan sehari-hari Syaiful. Dia harus rela gajinya dipotong dan beberapa tunjangan kerja dihapus. Sementara perusahaan menuntut dia harus bekerja secara performa.

“Sedih sih. Tapi mau bagaimana? Sudah kebijakan manajemen. Apalagi kondisinya lagi kayak gini. Jadi harus sedikit berhemat, agar bisa terpenuhi semua kebutuhan keluarga,” katanya.

Baca Juga :

Gaji yang diterima Ipul tidak penuh. Dia harus menerima upah di bawah UMP DKI Jakarta. Padahal kebutuhan dalam sebulan tidak berubah. Seperti biaya untuk sewa kontrakan, cicilan motor, dan ongkos berangkat ke kantor. Belum lagi, biaya untuk jajan anaknya.

“Ya paling kurangi keperluan yang tidak penting. Tapi untuk urusan paket data, tidak bisa. Apalagi belajar anak lewat daring (online),” ungkapnya.

Baca Juga :

Namun, beberapa hari ini Ipul bisa bernapas lega. Saat Ditanya kenapa? Wajahnya terlihat sumringah. Pasalnya, dia menjadi satu dari jutaan pekerja yang menerima Bantuan Subsidi Upah (BSU) atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan (TK). Pada gelombang pertama pemerintah telah menyalurkan Rp1,2 juta bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp5 juta.

“Alhamdulillah, cukup membantu juga. Bisa untuk nambah angsuran motor dan sisanya untuk ongkos berangkat kerja,” bebernya.

Dia berharap, BLT BPJS TK tahap kedua bisa segera cair. Dan menjaring lebih banyak para pekerja yang benar-benar membutuhkan bantuan ini.

“Kalau bisa program bantuan ini bisa menyasar bagi mereka yang membutuhkan. Kasihan juga, kemarin teman dari perusahaan lain tidak cair,” ungkapnya.

Sementara itu, nasib Nanang, tidak semujur Ipul. Pria genap 42 tahun ini harus bersabar menunggu pencairan BLT BPJS TK tahap pertama. Padahal, perusahaan tempatnya bekerja telah mengajukan BLT BPJS TK. Namun hingga proses pencarian tahap pertama, bantuan tersebut tak kunjung datang.

“Rasanya gimana ya? Tapi mau gimana, masa kita harus protes atau iri kepada tementemen pekerja yang sudah menerima BLT BPJS TK ini,” ujarnya.

Menurut pria yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa ini, bantuan langsung tunai BPJS TK sangat berarti bagi dirinya. Dan bagi para pekerja lainnya yang memiliki gaji di bawah Rp5 juta. Karena bisa meringankan beban keluarga dan pemenuhan asupan gizi di tengah Pandemi COVID-19.

“Lumayanlah. Sekali cair Rp1,2 juta. Apalagi ini diterima 4 bulan. Semoga perusahaan melakukan konfirmasi, kenapa BLT BPJS TK tidak kunjung cair. Karena ini sangat ditunggu karyawan,” kata pria yang tinggal di bilangan Ciracas ini.

Nanang dan Ipul berharap program bantuan langsung tunai BPJS TK ini bisa diperpanjang. Sehingga mampu meringankan beban kebutuhan masyarakat di level menengah ke bawah. “Ya maunya jangan 4 bulan aja. Kalau bisa diperpanjang,” kata Ipul diamini Nanang. (nas)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.