Ajakan Pakai Masker Dicuekin, Kemenkes Kampanye Nasional ke Pelosok Daerah

indopos.co.id -Di sebuah sudut jalan di bilangan Jakarta Selatan, tampak beberapa petugas Satpol PP sedang mengamati aktivitas warga. Sekitar lima orang warga ketahuan tidak memakai masker saat bepergian. Mereka kena razia.

Dari lima orang warga yang kena razia, tampak seorang wanita sedang menyapu jalan. Lina namanya.

Dia hendak pergi ke tempat kerjanya kawasan ITC Fatmawati. Tapi saat berkendara motor menuju ke tempat kerjanya, dia distop petugas Satpol PP.

“Baru sadar mbak kalau saya lagi nggak pakai masker. Biasanya si pakai,” akunya, ketika ditanya kenapa tidak memakai masker.

Dia pun mengaku rela disanksi membersihkan jalan sebagai risiko tidak mengenakan masker. “Saya rela kok. Memang saya salah. Harusnya pakai masker supaya mencegah penularan Corona,” ucapnya menyesal.

Lina adalah contoh warga yang tidak tertib memakai masker ketika berada di tempat umum. Padahal, berbagai iklan layanan masyarakat di sejumlah media massa dan media sosial yang mengajak masyarakat untuk menggunakan masker.

Masker adalah upaya paling mudah untuk mencegah penularan virus COVID-19. Selain juga wajib mencuci tangan dalam rentang waktu tertentu.

Masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya penggunaan masker membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) harus rajin mengampanyekan penggunaan masker. Salah satunya dengan menggaungkan “Kampanye Masker, Jangan Kendor, Disiplin Pakai Masker”.

Tidak hanya di wilayah Jabodetabek, pihaknya juga menyasar sejumlah daerah di Indonesia melalui Dinas Kesehatan Provinsi, UPT Kemenkes, dan Poltekkes. “Tidak ada kata terlambat. Sesuai jargon, kita menggunakan masker itu jangan kendor. Sekali lagi, jangan kendor. Imbauan penggunaan masker kan sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari,” ujar Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI Riskiyana Sukandhi Putra dalam webinar di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, kampanye tersebut justru dilakukan untuk menegaskan kembali ke masyarakat. Bahwa di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) masyarakat harus tetap menggunakan masker.

Aktivitas semakin banyak di luar, maka memakai masker jadi sesuatu yang wajib. Sejak April 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menegaskan pentingnya pemakaian masker. Jadi, semua wajib pakai masker.

“Kemudian pada waktu Idul Adha kemarin, kami juga mendorong salat dan pelaksanaan kurbannya tetap berpatok pada disiplin penggunaan masker,” ulasnya.

Dirinya juga menekankan, kampanye masker nasional merupakan upaya berkelanjutan dari imbauan sebelumnya. ”Jadi, kampanye masker nasional merupakan cerita terusannya (berlanjut), bukan hanya cerita baru mulai sekarang ini. Intinya, kami lebih menggalakkan pemahaman penggunaan masker kepada masyarakat,” tegasnya. (dew)

 

Justru Masyarakat Garda Terdepan

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari menambahkan, kampanye nasional dibutuhkan agar masyarakat semakin paham pencegahan penularan virus corona. ”Jangan main-main. Sejak awal Maret sampai hari ini sudah lebih dari 177 ribu. Bukan dokter yang jadi garda terdepan, tapi masyarakat,” tegasnya.

Dia kembali menyebut, bahwa masyarakat yang rajin pakai masker sangat membantu dalam memutus rantai penularan COVID-19. ”Dan kami mengharapkan secara nasional ini terus dilakukan,” harapnya.

Dirinya menjelaskan, droplet menjadi sarana penyebaran COVID-19, maka penggunaan masker kepada semua individu, baik itu untuk bekerja, untuk bersosialisasi, untuk beraktivitas di luar rumah, terus harus digunakan. Selain itu, mencuci tangan pakai sabun akan menjadi tahap kedua dalam gerakan nasional kampanye tersebut.

”Mencuci tangan pakai sabun akan merusak sel dari virus itu, sehingga dia akan tidak lagi menjadi infeksius. Jadi ini yang kita harus sampaikan, cuci tangan tidak hanya akan menghindarkan dari penyakit-penyakit diare, tetapi juga untuk COVID-19 ini,” tandasnya.

Selain itu, tambahnya, menjaga jarak juga menjadi tantangan besar yang cukup sulit untuk dilakukan. Terlebih lagi, kalau masyarakat berada di tempat umum, semisal sarana transportasi dan kegiatan-kegiatan yang banyak dihadiri oleh masyarakat.

Tantangan lainnya adalah kebiasaan buruk merokok di masyarakat. Merokok menambah risiko seseorang terpapar COVID-19.

Perilaku merokok, kata Kirana, memberikan dampak besar bagi kesehatan pada saat ini dan saat mendatang. Apalagi, prevalensi perokok sangat besar dan didominasi usia muda.

”Ini menjadi keprihatinan kita. Bagaimana kita bisa mengedukasi dan juga memfasilitasi masyarakat agar mereka tidak merokok, ini yang harus kita jaga,” tuntasnya. (dew)

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.