Alexa Metrics

India Hadapi Masalah Kesehatan Mental

India Hadapi Masalah Kesehatan Mental Aritri Paul

indopos.co.id – Jantungnya berdetak cepat dan terlihat sulit mengatur nafas. Tangannya gemetar dan berkeringat. Aritri Paul kini lebih sering mengalami serangan panik sejak India melakukan penguncian diri akibat virus corona pada Maret lalu.

Pemerintah India telah melonggarkan penguncian pada Juni lalu, namun efek penguncian pada kesehatan mental penduduk mesih terus terjadi. Itu karena negara tersebut harus menghadapi dampak pandemik COVID-19 paling parah di dunia.

Saat ini, India memiliki lebih dari 4,2 juta kasus terkonfirmasi dan menjadikannya negara dengan kasus tertinggi di dunia yang tercatat secara global, tepat setelah Amerika Serikat.

“Yang terburuk adalah sakit kepala dan sakit mataku,” kata Paul yang tinggal di Kolkata, Benggala Barat. “Aku lebih sering mengalami serangan panic tahun ini dibandingkan dengan seluruh usiaku,” kisahnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Suicide Prevention in India Foundation (SPIF) pada Mei menemukan bahwa hampir 65 persen dari 159 ahli kesehatan mental yang disurvei melaporkan adanya peningkatan tindakan menyakiti diri sendiri di antara para pasien mereka.

Lebih dari 85 persen terapis yang disurvei mengatakan mereka mengalami kelelahan, dan lebih dari 75 persen mengatakan kelelahan telah memengaruhi pekerjaan mereka.

Survei lain pada bulan April, oleh Indian Psychiatric Society, menunjukkan bahwa, dari 1.685 peserta, 40 persen menderita gangguan kesehatan mental yang umum, seperti kecemasan dan depresi, akibat pandemi.

Penguncian mungkin telah mereda, tetapi situasinya tidak membaik. Pendiri SPIF, Nelson Moses mengatakan kepada CNN bahwa ada kecemasan dan ketidakpastian yang meningkat tentang kapan pandemi akan berakhir.

Sebelum Covid-19, India memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara. Sekarang, para ahli medis mengatakan sistem kesehatan mental negara itu tengah berada di ujung tanduk.

“Sistemnya sudah terlalu banyak terbebani. Sekarang dengan COVID, kami mengalami bencana peningkatan permintaan, pasokan yang menyedihkan, dan pekerja garis depan yang kelelahan,” kata Moses menjelaskan.

India tidak memiliki sejarah panjang dalam membahas kesehatan mental. Pada 2016, Survei Kesehatan Mental Nasional, yang dilakukan di 12 negara bagian, mencatat lebih dari 50 istilah merendahkan yang sering digunakan pada penderita penyakit mental.

“Biasanya masyarakat berpendapat bahwa individu dengan penyakit kejiwaan tidak kompeten, tidak rasional dan tidak dapat dipercaya akibatnya peluang pernikahan mereka rendah,” ujar Baldev Singh, seorang konselor relawan di MINDS Foundation, sebuah organisasi nirlaba India yang bertujuan untuk mengurangi stigma seputar kesehatan mental.

“Orang-orang berpikir bahwa membicarakan perasaan Anda membuat Anda lemah. Ada banyak kesalahpahaman,” Singh yang berusia 23 tahun.

Para ahli mengatakan keengganan historis untuk menangani kesehatan mental di India bisa jadi sebagian karena kurangnya terminologi. Tak ada satu pun dari 22 bahasa India memiliki kata-kata yang berarti ‘kesehatan mental’ atau ‘depresi’.

Meskipun ada istilah untuk kesedihan (udaasi), duka (shok) atau kehancuran (bejasi) dalam bahasa Urdu dan bahasa India lainnya, terminologi khusus untuk mengatasi berbagai penyakit mental masih kurang.

“Itu karena praktik psikiatri sebagian besar bersifat kebaratan,” kata Dr S.K. Chaturvedi, Kepala departemen di National Institute of Mental Health and Neurosciences (NIMHANS) di Bangalore.

“Lebih mudah bagi orang untuk berbicara tentang gejala fisik dan penyakit daripada mengungkapkan kepada keluarga mereka bahwa mereka merasa sedih atau depresi,” katanya pada CNN.

Tumbuh dewasa, Paul mengatakan bahwa keluarga kelas menengah India-nya tidak pernah membicarakan perasaan negatif. “Sejak aku masih kecil, sudah tertanam kuat bahwa kita tidak membicarakan hal-hal yang mengganggu kita,” jelasnya.

Dia mengungkapkan bahwa masalah-masalah harus disingkirkan dan diminimalkan. “Mereka mungkin akan membandingkannya dengan masalah orang lain dan membuat Anda semakin merasa bersalah,” tambahnya.

Stigma seputar kesehatan mental mungkin membuat beberapa orang tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan. Bagi yang memang ingin berobat, fasilitasnya terbatas.

Menurut Survei Kesehatan Mental Nasional 2016, 83 persen orang yang menderita masalah kesehatan mental di India tidak memiliki akses pada perawatan kesehatan mental yang memadai.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di tahun yang sama, India memiliki tiga psikiater untuk setiap satu juta orang, negara itu bahkan memiliki lebih sedikit psikolog. Sebagai perbandingan, AS memiliki 100 psikiater dan hampir 300 psikolog untuk setiap satu juta orang.

Dalam banyak kasus, akses ke perawatan kesehatan mental di India bergantung pada tempat tinggal mereka.

“Perbedaan pada dasarnya terjadi di perkotaan versus pedesaan, jadi jika saya melihat Mumbai, saya tahu bahwa hari ini saya bisa bangun dan pergi ke rumah sakit di daerah saya sendiri,” kata Pragya Lodha, Direktur Program Mumbai untuk MINDS Foundation.

Bagi orang-orang di pedesaan India, ini jauh lebih sulit. Rumah sakit kecamatan melayani sekitar 30.000 orang atau 15 sampai 20 desa. “Namun, rumah sakit ini biasanya tidak memiliki layanan kesehatan mental,” kata Amul Joshi, direktur program MINDS Foundation di Gujarat.

Joshi menjelaskan bahwa beberapa penduduk desa mungkin harus menempuh perjalanan hingga 60 kilometer (37 mil) untuk mendapatkan perawatan. Semua itu membutuhkan waktu dan uang.

“Kami terkadang membayar biaya perjalanan mereka ke rumah sakit sebagai insentif. Namun, ini berarti pengobatan biasanya terbatas pada pengobatan karena masyarakat tidak dapat terus pergi ke RSUD untuk terapi,” katanya.

Orang-orang di pedesaan India cenderung memiliki prioritas lain. “Perjuangan masyarakat pedesaan sering kali terkait hal-hal mendasar, sehingga kesehatan mental cenderung diabaikan,” kata Lodha. (fay)



Apa Pendapatmu?