Alexa Metrics

Bung Hatta Menangis Dalam Kuburnya

Bung Hatta Menangis Dalam Kuburnya

Siapa Puan Maharani? Dia orang Minang. Neneknya (Ibunya Taufik Kiemas) orang Minang. Siapa Megawati? Dia orang Minang. Ibunya (Fatmawati) orang Minang yang merantau ke Bengkulu. Kenapa orang Minang membenci keduanya?

­—-

indopos.co.id – Baru-baru ini publik dibikin gempar dengan pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri tentang Sumatera Barat (Minang). Kenapa PDIP kurang diterima? Kenapa PDIP tidak banyak berkembang di Sumbar? Pernyataan ini kemudian disusul Puan Maharani selaku Ketua DPP Bidang Politik PDIP dengan target sama: Sumatera Barat.

’’Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila”, kata Puan saat mengumumkan hasil rekomendasi bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat yang diusung PDIP.

Tidak butuh waktu lama. Pernyataan Puan viral. Sebagian warga Sumbar memberikan reaksi keras. Pernyataannya menjadi buah bibir. Banyak komentar, tanggapan, bahkan kecaman terutama ke Puan. Dia dianggap melecehkan warga Sumbar.

Nufuszahra, warga Minang yang merantau di Jakarta tidak tersinggung dengan pernyataan Puan Maharani yang menyebut Sumbar harus menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila.

’’Saya cuma ketawa. Puan ini memang selalu kayak banyolan. Padahal dia trah kanan kiri asli Minang. Neneknya dari Ibu bangsawan Melayu Gadang Inderapura. Neneknya dari ayah bangsawan dari Nagari Sabu. Tapi hal tersebut nggak cukup membuat sense of belonging (rasa memiliki, Red) dia terhadap urang Minang,’’ kata mantan presenter sebuah televisi swasta nasional ini.

’’Udahlah PDIP keok di Sumbar masih ditambah kebodohan dia ngomong tuduhan seperti itu. Aku si tersinggung nggak, lebay banget kalau tersinggung. Terkejut aja,’’ lanjut ibu satu anak yang memegang kuat tradisi Minang.

Menurut Zahra, seharusnya Puan meralat atau minta maaf atas omongannya. Supaya bisa menenangkan situasi. Hanya saja, dia ragu apakah Puan mau.

’’Tapi apa mungkin elite kayak dia mau repot-repot begitu? Emangnya artis? Apa-apa klarifikasi,’’ Zahra meragukan.

Lalu, apakah memang benar orang Sumbar tidak Pancasilais?

Banyak orang Sumbar, suku Minang khususnya, memang kontra sama Jokowi. Kontra terhadap PDIP. Di Facebook rata-rata mereka pun vokal. Mengkritik pemerintah dan partai berlogo banteng moncong putih. Analisis Zahra, mungkin berlandaskan ini Puan menyebut orang Minang tidak Pancasilais. Tidak patuh sama persatuan NKRI. Padahal, maknanya jadi lebar bagi orang Minang. Ada makna bersayap yang ditangkap. Dikira kurang beradab dan kafir. Ini mencederai prinsip utama orang Minang. Darimana dasarnya tidak Pancasilais.

Zahra menjelaskan, adab, agama, tolong menolong, dan adil sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minang. ’’Adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adat minang ditopang syariat-syariat agama berlandaskan kitab suci Alquran. Ini prinsip dasar suku Minangkabau. Jadi, semua tatanan dan sikap-sikap hidup kiblatnya ke agama, banyak hal di dalamnya yang linear sama Pancasila,’’ kata ibu satu anak ini.

Jika proklamator Muhammad Hatta masih hidup, lanjut Zahra, dia akan menyayangkan ucapan Puan Maharani. Meskipun Bung Hatta tidak marah mendengar omongan seperti itu. Kalau kata orang Minang, ’’Harimau di dalam kabau juo nan kalua’’. Mau marah seperti apa di dalam hati, bahasakan dengan kalimat yang baik.

Zahra menegaskan, dalam politik perbedaan itu biasa. Apalagi dalam kehidupan negara demokrasi. Tapi demokrasi bukan berarti kita bebas ngomong tanpa berpikir dan bebas berkalimat maki-maki orang. Baik rakyat maupun elite.

Sementara itu, penulis asal Minang Dodi Prananda mengatakan tidak benar jika masyarakat Minang itu tidak pancasilais. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa teramalkan dengan baik di Minang. Masyarakatnya religius. Sudah jelas dalam adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adat bersendikan agama.

’’Ada pepatah Minang, bulek air dek pambuluah, bulek kato dek mupakaik (bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat). Musyawarah itu ciri orang Minang dalam membuat keputusan, sehingga tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Dan dalam hal apa saja di hidup tradisi musyawarah dilakukan. Itu udah menggambarkan sekali nilai demokrasi sila keempat,’’ kata penulis buku ’’Perantau Anti Galau’’ ini.

Biasanya, lanjut Dodi, mufakat ini juga dari berbagai sudut pandang dari tiga tungku sejarangan; yang paham adat, yang paham agama, sama cendekiawan sehingga bukan jadi perdebatan kusir saja.

Dodi menjelaskan, di tanah rantau, orang Minang meski ada yang sebagian berkelompok, tapi mereka inklusif. Ingin menyatu dengan etnis lain, karena itu konon tidak ada Kampung Minang di tanah rantau. ’’Ini sila ketiga Persatuan Indonesia,’’ kata pria lajang yang merantau di ibu kota ini.

Dodi menegaskan, tidak benar jika masyarakat Minang tidak pancasilais. Justru mereka sangat pancasilais. ’’Pak Hatta (proklamator Republik Indonesia asli Minang) menangis dalam kuburnya. Menyayangkan ada diskursus yang mubazir dan tidak substansial,’’ kata Dodi.

Nilai-nilai Pancasila itu, lanjut Dodi, pada akhirnya lahir dalam laku individu sebagai warga bernegara, bukan sebuah perlombaan seperti mencari nilai paling tinggi pada pelajaran PPKN/KWN.

’’Kalau Pak Hatta masih hidup, saya kira Pak Hatta akan menyitir salah satu puisi Pak Taufiq Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia,’’ kata Dodi.

’’ …langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak.

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak.’’

Dodi berharap, masyarakat Indonesia dewasa dalam menyikapi segala yang keruh. Masyarakat yang bisa berdiskusi dan berpendapat tanpa dihakimi, dan setiap orang tidak didefinisikan oleh “paling” akan sesuatu.

Beragam Motif

Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menilai pernyataan Ketua PDI Perjuangan Puan Maharani terkait Pancasila dan Sumatera Barat telah dipolitisasi beberapa pihak dengan berbagai latar belakang motif.

Ahmad Basarah dalam keterangannya di Jakarta, Senin, menilai motif tersebut mulai persaingan kontestasi Pilkada Sumbar sampai motif ideologis dan politis untuk menghancurkan citra Puan Maharani dan PDI Perjuangan.

’’Padahal, jika kita telisik secara jernih dalam konteks alam pikir kebangsaan dan spiritualitas Puan Maharani sebagai seseorang yang sedang memegang amanat sebagai Ketua DPR RI perempuan pertama Republik Indonesia, kita sesungguhnya telah menemukan esensi alam pikir dan spiritualitas seorang Puan dalam dimensi nasionalisme relgius,’’ kata Basarah.

Dia mengatakan hal itu terkait polemik pernyataan Puan saat mengumumkan calon peserta Pilkada Serentak 2020 dari PDI Perjuangan pada hari Rabu (2/9). Dalam kesempatan itu, Puan mengatakan, “Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung Pancasila. Bismillahirrahmani rahiim.”

Lalu pernyataan tersebut dipermasalahkan berbagai pihak. Ketika kata “Pancasila” dan “bismillah” diucapkan Puan dengan sadar dan khidmat, menurut Basarah, itu membuktikan bahwa dalam dirinya terbentuk dan mengalir pikiran kebangsaan dan sikap religius yang sangat kuat.

Ketua DPP PDI Perjuangan itu menilai konstruksi pemikiran dan sikap Puan yang nasionalis religius itu menggambarkan Puan bukan hanya sosok cucu biologis Bung Karno, melainkan juga sosok cucu ideologis presiden pertama RI.

“Nasionalisme religius Puan Maharani juga lahir dari latar belakang kultural ayahnya, almarhum Taufiq Kiemas, dan ibunda tercinta, Megawati Soekarnoputri,” ujarnya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI itu mengaku heran jika ada yang tersinggung hanya karena Puan berharap Sumatera Barat menjadi provinsi yang mendukung Pancasila.

Menurut Basarah, mestinya ucapan Puan itu justru dilihat dari kecintaan Puan yang besar kepada rakyat Sumbar agar dapat lebih sejahtera dan berkeadilan sosial melalui Pilkada 2020.

Dia menegaskan dalam darah Puan mengalir garis keturunan Minang yang kuat, tidak mungkin dia ingin menistakan tanah kelahiran nenek moyangnya sendiri, nenek Puan dari garis ayahnya, yakni almarhum Taufiq Kiemas, bernama Hamzatun Rusdja adalah tokoh perempuan Minang dari Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat.

’’Bahkan, Taufiq Kiemas sendiri pernah mendapat gelar Datuk Basa Batuah, ibunya, Megawati Soekarnoputri, mendapat gelar Puti Reno Nilam,’’ ujarnya.

Dari trah ibunya, Megawati Soekarnoputri, eyang buyut putrinya berasal dari Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai, sedangkan eyang buyut putra berasal dari Jawa Timur bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Menurut dia, dari Raden Soekemi-Ida Ayu lahir seorang tokoh nasionalis religius berwawasan luas bernama Soekarno, sedangkan nenek Puan, Fatmawati, adalah putri dari pasangan Hasan Din dari Bengkulu dengan Siti Khadijah dari keturunan Kerajaan Inderapura yang berpusat di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Sementara itu, dari garis keturunan ayahnya, almarhum H.M. Taufiq Kiemas, kakek Puan berasal dari Sumatera Selatan bernama Tjik Agoes Kiemas dan nenek bernama Hamzatoen Rosjda dengan ayah berasal dari Pulau Pisang Krui, Lampung, bernama Joesaki, dan ibu dari Batipuh Tanah Datar, Sumatera Barat, bernama Taksiah.

“Dengan silsilah keluarga yang majemuk itu, dalam diri Puan mengalir darah Jawa Timur, Bali, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat. Sosok Puan Maharani adalah ciri khas Indonesia sejati,” katanya.

Basarah menilai perpaduan gen ideologis dan kultural daerah nenek moyang Puan itu yang membentuk karakter politik nasionalis religiusnya. Karena itu, alam pikir dan spiritualitas Puan menginstruksikanya untuk mengeluarkan kata Pancasila dan bismillah dalam satu tarikan napas.

Kalau dikaji dalam perspektif komunikasi politik, lanjut dia, pihak-pihak yang mempermasalahkan pernyataan Puan tentang Pancasila dan bismillah sesungguhnya secara tidak langsung telah membantu mempromosikan dan menjelaskan kepada masyarakat luas bahwa Puan adalah sosok Ketua DPR RI yang alam pikir dan spiritualitasnya mewakili spektrum nasionalis religius.

Dari perspektif moralitas politik, menurut Basarah, makin Puan mengalami penzaliman, termasuk atas pernyataan Pancasila dan bismillah”, akan makin mendorong dan mengangkat Puan sebagai calon pemimpin masa depan bangsa Indonesia, seperti kakeknya, Bung Karno, dan ibundanya, Megawati Soekarnoputri.

Sementara itu, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa partainya menginginkan bagaimana Pancasila dibumikan. Tidak hanya di Sumbar, tetapi juga di seluruh wilayah di Indonesia.

Hasto menyebutkan Megawati Soekarnoputri begitu kagum dengan Sumatera Barat, demikian juga putrinya Puan Maharani dan unsur petinggi partai lainnya.

“Dari Mbak Puan, kami sering mendapat cerita bagaimana keanekaragamannya yang luar biasa. Bagaimana rendang bumbunya itu bentuk cita rasa makanan yang punya cita rasa yang menyentuh aspek rasa tertinggi di dalam kualitas makanan itu, sehingga tidak heran rendang mendapatkan apresiasi sebagai makanan paling enak di dunia. Bahkan Ibu Mega telah menugaskan Pak Alex Lukman untuk mengumpulkan seluruh resep makanan untuk pembuatan rendang itu,” beber Hasto.

Jadi yang dimaksudkan Puan Maharani itu, tambah Hasto, soal pembumian Pancasila di Sumatera Barat itu lebih kepada aspek kebudayaan, nasionalisme dan juga menyentuh seluruh hal-hal di dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengakui kesulitan untuk dekat dengan masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) dalam konteks mencari calon pemimpin bangsa dari wilayah itu.

“Kalau saya melihat Sumbar itu, saya pikir kenapa ya rakyat di Sumbar itu sepertinya belum menyukai PDI Perjuangan? Meskipun sudah ada beberapa daerah yang mau, meminta, sudah ada katakan kantor DPC-nya, DPD-nya. Tapi kalau untuk mencari pemimpin di daerah tersebut, menurut saya masih akan agak sulit,” kata Megawati saat memberi arahan di sela-sela pengumuman calon kepala daerah gelombang V menuju Pilkada Serentak 2020, melalui telekonferensi, di Jakarta, Rabu.

Padahal, Proklamator RI yang juga ayahandanya, Soekarno, dekat dengan tokoh-tokoh nasionalis dari Tanah Minang tersebut.

“Kalau kita ingat sejarah bangsa, banyak orang dari kalangan Sumbar yang menjadi nasionalis. Yang pada waktu itu kerja sama dengan Bung Karno, seperti Bung Hatta. Bung Hatta kan sebenarnya datang dari Sumbar,” tambahnya. (cok/nas)



Apa Pendapatmu?