Tetap Investasi Saat Pandemi Saatnya Beli Produk Jangka Panjang

indopos.co.id – Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan membuat sebagian besar dari kita makin cemas dengan kondisi keuangan yang tak menentu. Imbas dari pandemi ini membuat keuangan perusahaan dan perorangan kian goyah.

Banyak yang berupaya untuk survive. Jarang yang berpikir investasi.

Padahal, di tengah Pandemi COVID-19, banyak pilihan investasi yang sesuai dengan keuangan masyarakat. ”Menabung tetap harus menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan baik ini dijaga terus menerus ini akan menjadi habit, jadi budaya hemat, tidak boros,” ujar Anggota Dewan Komisioner OJK Tirta Segara, belum lama ini.

Menabung dalam bentuk uang, jelasnya, bersifat likuid atau mudah dicairkan. Namun imbal hasilnya rendah.

Baca Juga :

BPS Catat Indonesia Surplus USD2,33 Miliar

Tiak hanya dalam bentuk uang, menabung juga bisa dalam bentuk emas yang juga likuid atau bisa dijual setiap saat dan dalam jangka panjang. Apalagi, tren harga emas juga cenderung selalu naik.

Harga emas per 7 September 2020 per gram mencapai Rp1.020.000. Dalam jangka panjang, kata dia, juga ada pilihan saham dan reksa dana.

Baca Juga :

Namun reksa dana saat ini sedang naik turun alias fluktuatif. Ada juga tabungan jangka panjang yang digunakan untuk uang muka membeli rumah yang kini juga banyak ditawarkan perbankan. ”Kalau masih ada penghasilan, idealnya tetap harus dipotong untuk ditabung dulu. Baru sisanya dibelanjakan. Banyak orang salah, nabung kalau ada sisa lebih, tapi kenyataannya uang sudah habis duluan,” imbuhnya.

Selain menabung, masyarakat juga diharapkan bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Caranya dengan menyusun daftar prioritas yang paling dibutuhkan.

Selanjutnya, harus bijak dalam berutang dan lebih diutamakan utang yang sifatnya untuk produktif atau memberikan pemasukan. ”Utang itu artinya uang tidak cukup, perlu pinjam. Oleh karena itu jangan dipaksakan, harus dihitung kalau bisa yang produktif, jangan konsumtif. Periksa kembali kemampuan membayar,” sarannya.

Saran berikutnya, lanjutnya, mempersiapkan dana darurat. Caranya dengan menabung untuk memenuhi kebutuhan saat tak terduga seperti krisis akibat pandemi.

”Jika tidak punya dana darurat, tidak punya tabungan, tiba-tiba jatuh miskin, tidak punya uang, kita sulit bergerak. Tiba-tiba penghasilan terganggu, tapi tetap harus makan. Jika tidak punya dana darurat hidup menjadi sulit,” sebutnya.

Meski demikian, OJK meminta masyarakat untuk mewaspadai ajakan investasi menggunakan influencer atau figur yang memberikan pengaruh kepada calon investor karena berpotensi ilegal. “Hati-hati, kalau mau bertanya legal atau ilegal tanyakan dulu ke OJK,” kata Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Tirta Segara dalam webinar di Jakarta, Senin (7/9).

Saat ini, banyak perusahaan investasi bodong yang menyasar calon investor anak muda. Sehingga mereka menggunakan influencer untuk menarik calon investor.

Menurut dia, tidak salah mengikuti tren para influencer, namun ia mengingatkan masyarakat termasuk kalangan generasi muda yang berminat memulai investasi tetap berhati-hati. Karena ada beberapa produk investasi menggunakan foto figur publik.

Selain itu, dia mengimbau untuk mengenali produk dan lembaga jasa keuangan yang menawarkan produk investasi itu. “Artinya orang beli produk investasi, mendapatkan akses keuangan tapi dia tidak paham. Makanya, perlu meningkatkan literasi keuangan,” imbuhnya.

Langkah aman lainnya, dengan mengenali manfaat dan risiko. Tidak hanya melihat keuntungan semata karena semua produk investasi memiliki tingkat risiko dari kecil hingga besar.

“Risiko nol itu investasi di SBN (Surat Berharga Negara) karena yang menerbitkan adalah negara,” sarannya. Dia juga menambahkan, masyarakat diminta mengenali hak dan kewajiban dalam berinvestasi.

Misalnya, wajib menjaga kerahasiaan misalnya terkait nomor indentifikasi pribadi (PIN) yang harus diganti berkala dan dijaga aman. Dia juga meminta masyarakat sebelum berinvestasi untuk memastikan legal dan logis (2L) khususnya menjanjikan keuntungan yang tidak wajar dan dalam waktu singkat, menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru.

Perencana Keuangan Rista Zwestika mengatakan, disaat pandemi juga tetap perlu berinvestasi. Mengenai aman tidaknya berinvestasi pada saat ini, bergantung pada tujuan digunakan untuk jangka pendek atau jangka panjang.

”Apakah jangka menengah, jangka pendek, atau jangka panjang. Kalau jangka pendek saat ini lagi nggak bagus,” bebernya.

Jangka pendek yang dimaksud adalah, menginvestasikan uang akan digunakan dalam 2 hingga 5 tahun mendatang. Sedangkan investasi jangka panjang, uang baru akan digunakan 5-10 tahun ke depan atau lebih, sehingga nilai uang tidak termakan inflasi.

Lebih lanjut, masa pandemi ini waktu yang tepat untuk berinvestasi jangka panjang. Sebab, banyak perusahaan sekuritas yang menawarkan harga saham lebih rendah.

Jadi, lanjutnya, di masa mendatang saat ekonomi Indonesia dan dunia kembali bangkit, uang yang diinvestasikan akan terus berputar dan bertambah nilainya. ”Tapi kalau misalnya untuk jangka panjang ini saatnya untuk beli, karena harganya lagi pada diskon semua,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan, sebelum berinvestasi baiknya sudah lebih dulu memiliki dana darurat. Dana darurat adalah dana yang bisa membantu menyambung hidup saat tidak memiliki pemasukan sama sekali.

Lalu berapa banyak dana darurat yang kita butuhkan? Rista menjelaskan, untuk yang belum menikah, dana darurat minimal sebanyak enam kali pengeluaran bulanan.

Sedangkan untuk mereka yang sudah menikah namun belum memiliki anak, sebanyak 9 kali dari pengeluaran bulanan. Dan bagi yang sudah berkeluarga (menikah dan punya anak), maka dana darurat yang dibutuhkan adalah sebanyak 12 pengeluaran per bulan.

Menurut Rista, dana darurat sebaiknya berupa produk keuangan yang bersifat ALI (aman dan mudah dicairkan). Misalnya, tabungan, deposito yang mudah dicairkan, atau investasi emas.

Selain dana darurat, dia juga menganjurkan pentingnya melunasi utang/ cicilan konsumtif, terutama selama masa pandemi. Terlebih jika menggunakan kartu kredit. ”Mindsetnya dibenerin dulu. Seolah-olah dikasih uang padahal itu (kartu kredit) dikasih pinjaman. Oleh sebab itu, ketika memutuskan untuk berhutang kita harus siapkan dana untuk membayar utang,” tuntasnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan tantangan Indonesia untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi mendekati nol persen adalah dengan meningkatkan konsumsi, investasi, sekaligus ekspor.

Dia menyebut, ekonomi kuartal I tahun ini terkontraksi 5,32 persen karena disumbang oleh penurunan konsumsi yang mencapai 5,8 persen dan investasi mendekati 8 persen. Menurutnya, indikator-indikator ekonomi pada Juli dan Agustus terpantau membaik dibandingkan April, Mei, dan Juni.

“Kita berharap kuartal III dari Juli, Agustus, dan September indikator-indikator pertumbuhan ekonominya akan lebih baik dibanding kuartal II,” harapnya.

Dia mengatakan, potensi resesi dapat terjadi pada kuartal III 2020 apabila aktivitas masyarakat belum normal kembali. Meskipun belanja pemerintah dapat diakselerasi dan investasi telah masuk zona positif.

“Kalau secara teknik kuartal III ini kita di zona negatif, maka resesi terjadi,” ujarnya. Meski demikian, ia menjelaskan harapan tidak terjadi resesi pada kuartal III juga besar karena satu bulan terakhir terjadi perkembangan yang cukup baik.

“Akselerasi belanja pemerintah serta program pemulihan ekonomi terus dilaksanakan dan didorong sehingga konsumsi dan investasi bertahap pulih,” harapnya lagi.

 

Bisa Start dengan Uang Receh

Banyak yang beranggapan bahwa berinvestasi membutuhkan banyak dana. Padahal dengan uang sisa pembelanjaan pun sudah bisa berinvestasi.

Nah, untuk meningkatkan kebiasaan masyarakat berinvestasi, Tokopedia meluncurkan gerakan ‘Rabu Nabung’. Investasi lewat platform digital ini bisa dilakukan melalui instrumen reksa dana yang dikelola Bareksa dan emas oleh Pegadaian.

”Lewat inisiatif ini, kami berharap menabung bisa tetap menjadi sebuah kebiasaan walau di tengah pandemi. Masyarakat bisa berinvestasi dengan mudah, aman, dan terjangkau,” kata VP of Fintech and Payment Tokopedia Vira Widiyasari saat konferensi pers virtual, baru-baru ini.

Lebih lanjut dia menjelaskan, setiap Rabu, masyarakat yang membeli reksa dana melalui platform mereka bisa memperoleh gift card hingga Rp75 ribu. Sedangkan yang menabung emas, berkesempatan mendapat cashback hingga Rp250 ribu.

Investasi yang ditawarkan bisa dimulai dengan nominal Rp5.000 untuk emas dan Rp10 ribu untuk reksa dana. ”Siapa saja bisa menjadi investor. Produknya mudah dimengerti dan risiko rendah. Aman dalam jangka panjag karena cenderung naik,” ungkapnya.

Demikian halnya dengan reksa dana, instrumen pasar uang yang memiliki risiko rendah dan keuntungan relatif tinggi. Penetrasi dua produk investasi ini dinilai ramah, terutama kepada investor pemula.

”Diharapkan bisa mendorong masyarakat mengenal produk investasi lebih lanjut. Secara umum meningkatkan literasi, serta inklusi keuangan di Indonesia,” ulasnya.

Berinvestasi dengan uang receh rupanya banyak dilirik masyarakat. Senior Lead Fintech Tokopedia Marissa Dewi menyatakan, sejak fitur Tokopedia Emas diluncurkan pada 2018 lalu, tren transaksi pembelian emas di platform e-commerce tersebut meningkat hampir 30 kali lipat.

”Kalau transaksinya telah meningkat hampir 30 kali lipat. Sementara dari jumlah pengguna yang terdaftar di Tokopedia Emas selama 1 tahun belakangan ini juga tumbuh hampir 20 kali lipat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tren transaksi berbelanja emas di platform meningkat, didukung adanya fitur-fitur yang memberikan kemudahan bagi masyarakat saat bertransaksi. Sehingga, dengan adanya kemudahan tersebut, membuat masyarakat merasa terbantu dalam berinvestasi.

Belum lagi dengan adanya penawaran yang diberikan Tokopedia yaitu membeli emas dari harga Rp5.000, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berinvetasi. “Kebanyakan orang bingung kan berinvestasi, apakah harus dengan uang yang besar baru berinvestasi, padahal tidak. Dari sinilah kami melihat, dengan memberikan produk layanan yang dimulai dari Rp5.000 bisa membuat masyarakat berinvestasi tanpa butuh biaya besar,” urainya lagi.

Marissa menjelaskan, untuk mendukung masyarakat dalam berinvestasi, pihaknya telah meluncurkan sejumlah fitur pendukung untuk layanan ini. Seperti fitur Pembulatan Emas, yang di mana melalui fitur ini masyarakat bisa berbelanja sekaligus menabung. (dew)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.